Selasa, 11 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 4)

1 komentar
Ini lanjutan debat bagian yang ke-4. Semakin digali pemikirannya, semakin ketahuan letak kerancuan pemikiran tersebut. Ini benar-benar membuktikan pemikiran liberal semacam ini sangatlah berbahaya.

Teman: Keyakinan saya memang relatif sobat, yang mengatakan benarkan saya belum tentu orang lain mengatakan benar, itulah artinya relatif. Bukan begitu sobat???? Seperti dengan Anda yang tidak meyakininya. Berbicara masalah agama, kita harus melihatnya secara umum lebih dulu. Maksudnya adalah agama bukan hanya yang tertera dalam salah satu tertentu, tapi agama itu adalah semua keyakinan manusia, baik yang diciptakan manusia maupun dari Tuhan. Agama yang membolahkan zina??? Nanti saya sebutkan, gue shalat Zuhur dulu.

Saya: Wah, bagaimana suatu hal yang bersifat relatif itu bisa menjadi keyakinan? Artinya ada ketidak konsistenan donk dalam keyakinan dan diri Anda...? Sepertinya teman saya ini belum begitu paham apa itu keyakinan...? hahaha...!

Teman: Konsisten bagi saya, karena saya percaya dan yakin apa yang saya anut. Misalnya saya sekarang meyakini bahwa apa yang saya anut ini benar. Maka saya akan konsisten menjaga keyakinan. Masalah orang percara atau tidak itu terserah mereka, ga' ada yang perlu dipermasalahkan. Karena kebenaran itu relatif. Wong dia ga' meyakini kebenaran yang kita anut kok kita paksa ya ga' bisa, begitu juga sebaliknya sobat. Saya akan konsisten kepad apa yang saya anut, karena saya membenarkannya.

Saya: Konsisten dalam kerelatifan itu merupakan hal yang nista. Kalau Anda yakin dengan kerelatifan, berarti keyakinan Anda juga relatif. Kalau keyakinan Anda relatif, berarti keyakinan itu bisa berubah-rubah donk..! Apakah itu yang disebut konsisten...? Pahami lagi sobat tentang makna keyakinan itu sendiri. Pemikiran Anda itu telah terjebak dalam Dualisme...!

Teman: Sorry baru jawab. Benar keyakinan saya relatif, jika yang memandang keyakinan saya ini global, seperti yang saya omongkan persepsi orang berbeda-berbeda sobat dan tak mungkin kita menyamakan semua keyakinan. Cocoknya bukan berubah tapi bertambah dan berkembang. Ya, konsisten bagi saya terhadap keyakinan saya, karena saya relativisme dan kerelatifan itu lah keyakinan saya. Begitu juga dengan Anda, Anda konsisten pada keyakinan Anda bagi Anda atau yang sekeyakinan dengan Anda, beda dengan orang lain di luar Anda. Mereka tidak akan konsisten dengan keyakinan Anda, sebab mereka tidak meyakini keyakinan Anda. Yang sekeyakinan saja belum tentu konsisten apa lagi yang tidak sekeyakinan. Namun dalam mua'saroh di bumi Tuhan ini ada hukum-hukum human yang netral bagi semua keyakinan sehingga terjadi sebuah kerukunan.

Saya: Kalau keyakinan Anda relatif, berarti sewaktu-waktu kayakinan Anda bisa saja donk seperti keyakinan saya? Kalau Anda bilang keyakinan Anda bukan berubah, tapi berkembang dan bertambah, berarti itu bukan relatif namanya sobat. Sama saja itu dengan fanatik. Pola pemikiran Anda itu sebenarnya rancu. Itu karena anda mengambil dari pemikiran-pemikiran yang rancu juga. Anda bilang hukum human yang netral, memangnya hukun Tuhan tidak netral...?

Teman: Sejatinya keyakinan Anda dengan keyakinan sayakan berbeda, ya gak mungkin lah saya beralih kepemikiran Anda. Justru di situlah letak kerelatifannya berkembang di sini dalam artian kita menerima perubahan bila perubahan itu lebih baik dari yang lama karena kita menghukumi sesuatu benar 100%. Dan kenapa juga saya bilang tidak berubah karena kita percaya dan yakin pada kerelativan. Kita percaya pada kerelativan bukan pada isi dari kerelativan yang setiap saat bisa berubah. Fanatik?? Ya, gak netral (hukum Tuhan).

Saya: Sekarang saya mau tanya dulu arti relatif itu apa? Kemudian atas dasar apa Anda bisa mengatakan bahwa hukum Allah itu gak netral...?

Sabtu, 08 Agustus 2009

Sajak Buat Rendra

1 komentar


Meski kita tidak pernah satu pandang
aku tetap merasa kau sosok yang sangat gemilang
Meski kita tidak pernah satu suara
aku tetap percaya kau seorang penyair dunia
Meski pertemuan itu tak pernah ada
aku tetap yakin buah karyamu tetap di hati kita

Rendra!
Setiap goresan tinta emasmu telah terpatri dalam sanubari
coretan tinta putihmu selalu menghiasi hati
puja puji syairmu begitu indah mewarnai hidup kami
kritikan masukanmu sungguh berguna untuk negeri

Rendra!
Jauh kau di sana
di alam yang penuh tanda tanya
Kami selalu berdoa
semoga kamu bisa tertawa gembira
dengan amal dan ilmu yang bermanfaat
yang telah kau tinggalkan kepada kami

Rendra!
Kami menunggu Rendra Rendra dan Rendra selanjutnya
Kami sadar kami sangat kehilanganmu
kehilangan sosok yang penuh makna

Selamat jalan Rendra!

Jumat, 07 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 3)

0 komentar
Debat ini semakin memanas dan semakin menguatkan bahwa arus liberal itu sangatlah berbahaya...!

Teman: Tidak sempurna memang, tapi itu bukan alasan tuk tidak berbuat. Masa nunggu sempurna dulu baru berbuat, ya ga' kan jadi-jadi sobat.

Saya: Lho kita bukan menunggu untuk sempurna, karena memang akal kita itu gak bisa sempurna. Sekarang ada yang lebih sempurna, yaitu Allah dan kalam-Nya...! Mengapa Anda tidak mengambil yang lebih sempurna saja...? Mengapa Anda harus mengikuti liberal yang mendewakan akal...?

Teman: Cocoknya bukan mendewakan akal sobat, tapi lebih memakai akal. Allah memang sempurna dan Al-Qur'an memang dari Allah, semua muslim tau hal itu, termasuk saya sobat. Namun dalam kenyataan manusia itu butuh penjelasan, sementara penjelasan itu berbeda-beda tergantng kemampuan penjelasnya. (Lum faham juga??? Nanti kita sambung, gue mau sholat asar dulu). Kwkwk mwk.

Saya: Kalo gitu saya juga paham sobat...! Untuk menjelaskan Al-Qur'an pun gak boleh sembarangan. Penjelas Al-Qur'an salah satunya adalah As-Sunnah. Maka jangan asal menggunakan akal sobat. Anda udah pernah tau tentang Hermeneutika belum...? Coba belajar dulu deh...! Jangan asal nyawur...! Belajar yang benar...! Bukan malah mempelajari yang salah. Oke sobat...?

Teman: Sorry sobat jangan pernah mengklaim salah atau benar, selama masih dalam pandangan manusia, itu semua relatif sobat. Benar menurut Anda, belum tentu benar bagi saya, dan sebaliknya. Heurmanetika??? Dari 2 SMP gue udah tau sobat, Bapak Hermeneutika kan alumni Gontor juga sobat, kalau g' salah rektor UIN Yogja kan????

Saya: Itulah pengaruh dari relativisme, selalu menganggap kebenaran itu relatif. Itu adalah buah dari Hermeneutika. Siapa pula tuh bapak Hermeneutika yang dari Gontor??? hahaha...! Jangan asal sobat...! Pencetuh Hermeneutika itu adalah Friedrich Schleiermacher, seorang tokoh Protestan. Hati2 sobat...!

Teman: Maksud saya Bapak Hermeneutika Indonesia sobat. Namanya Prof. DR. A. Amin, phd. Ngapain mesti berhati-hati wong ga' berbahaya kok, orang yang merasa asing aja yang menganggapnya berbahaya.

Saya: Dari segi apa Anda menganggapnya tidak berbahaya? Anda berpikiran demikian karena Anda memang telah terhipnotis oleh pemikiran mereka. Bagi saya itu bukan merupakan hal yang asing, toh saya tetap menganggap itu hal yang berbahaya. Justru bagi orang yang tidak tau, yang menganggap Hermeneutika itu tidak berbahaya...!

Teman: Tahu belum tentu menerima, paman Nabi tahu kalau Islam itu agama yang benar, tapi apakah dia masuk Islam??? Perasaan tidak??? Saya tadak memaksa Anda untuk membenarkan apa yang saya anut, dan di sinilah letak kerelativisan suatu kepercayaan dll. Saya tidak terhipnotis, saya sadar dan bahkan saya tidak pernah terpengaruhi. Justru umat Islam sekarang yang terhipnotis oleh pemikiran orang-orang dulu.

Saya: Masalah paman Nabi itu berkenaan dengan hidayah. Sedangkan Anda, bila benar-benar telah mengetahui lantas tidak melakukan, maka Anda telah terjebak ke dalam Diabolisme. Bila Anda percaya dengan relativisme, berarti Anda juga menilai suatu kesalahan itu bersifat relatif, lalu apakah berzina juga keharamannya relatif...?

Teman: Ya, tergantung orang, kepercayaan yg menilai. Apa itu hidayah???? Hidayah juga kan relatif sobat.

Saya: Jawab dulu pertanyaan ana yang terakhir itu...! Jawab dengan tegas, “ya atau tidak”?
Ana mau shalat Subuh dulu...!

Teman: Udah saya jawabkan sobat. Ya.,ya...ya...ya,100x. Azunnu yakfi (saya kira cukup).

Saya: Berarti Anda berpendapat bahwa keharaman berzina itu adalah relatif. Sekarang saya tanya, kapan zina itu dikatakan boleh?

Teman: Disaat orang berkeyakinan bahwa zina itu boleh sobat.

Saya: Sekarang saya tanya, agama mana di dunia ini yang memperbolehkan zina...? Lalu masihkah Anda menganggap relativisme suatu kebenaran...?
Sebenarnya ketika Anda yakin dengan relativisme tersebut, Anda sendiri telah terkebak oleh keyakinan Anda sendiri. Berarti kebenaran keyakinan Anda sendiri juga relatif donk...? Bagaimana Anda bisa yakin dengan relativisme...?
Kalau Anda kembalikan pernyataan tersebut kepada saya, Anda salah besar. Karena saya tidak meyakininya...!

Selasa, 04 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 2)

0 komentar
Sambungan debat liberal dari bagian pertama.

Teman: Islam dan pemikiran Islam tak boleh dipisahkan, karena 2 hal saling berkaitan yang akan saya jelaskan nanti. Masalah liberal dan Mu'tazilin memang beda, namun yang patut kita perhatikan adalah bahwa kedua firqoh ini sama-sama menganggap bahwa akal yang paling utama. Insya Allah saya akan lebih memperdalam lagi pengetahuan saya tentang Mu'tazilin dan liberal. Sehingga saya akan lebih mantap menyebarkan semangat perubahan ini pada masarakat yg sudah bosan dengan kehidupan yang statis. Hidup Mu'tazilah, liberal, dan relativisme. Lanjutkan!

Saya: Tuh kan...? Ente dengan semaunya ingin menyamakan antara Islam dan Pemikiran Islam. Keduanya itu beda dan memiliki arti yang beda juga. Memang kalau orang yang berpikiran liberal, lebih cenderung menyamakan antara keduanya itu. Anda harus belajar lebih dalam lagi temanku...! Kemudian mengenai Mu'tazilah dan liberal, memang keduanya mempunyai landasan akal. Tapi Anda juga harus belajar batasan-batasan yang mereka gunakan. Kalau Anda mau mengangkat isu Mu'tazilah kepada Islam Liberal, itu merupakan hal yang qias yang bathil. Masalah relativisme? Kayaknya Anda juga harus tau lebih dalam tentang Hermeneutika...!

Teman: Thanks for masukannya dan saya akan lebih mendalami lagi, biar lebih mantap ana melangkah dalam penyebaran keyakinan ini? Kalau ada yg lebih baik kenap malah yang lain. Kalau ada yagn dinamis ngapain milh statis. Liberal, Mu'tazilah, dan relativisme selalu dalam hatiku. Bukalah cakrawala berfikir Anda dengan sikap klusif.

Saya: Seharusnya Anda lebih mendalami ajaran Islam secara murni dulu, baru kemudian mempelajari tentang liberal. Ajaran murni Islam aja Anda masih tidak begitu tau seluk-beluknya, gimana mau mau mempelajari liberal. Akan hancur Anda teman...! Klusif...? Klusif yang mana...? Anda jangan asal ngomong...!

Teman: Manusia tak akan pernah sempurna sobat, buang kalimat itu dari benak Anda, itu hanya membuat kita pesimis. Yang ada adalah berusaha untuk sempurna. Sayang kebanyakan Muslim terlalu candu terhadap buah hasil pemikiran orang dulu.
Justru saya sudah menganggap apa yang saya geluti adalah bagian dari Islam dan memang Islam. Emang Islam yang mana yg murni???????

Saya: Saya sangat sependapat kalau manusia itu gak pernah sempurna sobat...! Saya acungin jempol tuh...! Nah, sekarang Anda sudah tau bahwasannya manusia itu gak sempurna, terus mengapa Anda mau mengikuti liberal yang jelas-jelas mendewakan akal manusia? Padahal akal manusia kan terbatas dan gak sempurna...? Pikirkan lagi sobat...!

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 1)

0 komentar
Ini adalah debat yang terjadi di kolom komentar dalam Face Book, antar saya dengan sahabat saya. Saya rasa ini penting untuk diangkat karena ini adalah salah satu bukti bahwa arus liberalisasi Islam itu sangat deras. Sasaran utamanya adalah para intelektual atau para pemuda yang lagi puber intelektual, namun masih belum mempunyai pondasi yang kuat untuk menerimanya arus tersebut. Salah satunya adalah sahabat saya ini.
Berikut perdebatan tersebut:

Teman: Bergabung ma JIL gw y?

Saya: Apa...?
Siap-siap berhadapan sama ana tuh ente kalo gitu.....!

Teman: Yoi, but ana pendalaman dulu ne. Sedang belajar ma seniorku. Doakan ya biar misiku meliberalkan Indonesia tercapai. Khususnya Medan. Karena dgn semangat liberal Islam akan mendapatkan jaman keemasannya lagi setelah sekian lama tidur akibat ulah kaum beragama statis.

Saya: Alah...!
Pendapat ngawur itu....!
Mau-maunya tertipu daya oleh Barat....!

Teman: Saya tidak tertipu oleh pemikiran Barat. Andaikata orang tidak terlanjur percaya dan mensakralkan ulama-ulama perumus hukum-hukum Islam di awal kemajuan Islam, saya yakin semua orang kan menerima pemikiran liberal. Jadi bukan saya tau kami yang terdoktirin tapi memang fitrah kami yang merindukan perubahan dan kebebasan yang berorientasi pada kemajuan.

Saya: Tapi perubahan yang bagaimana...?
Perubahan yang nantinya akan keluar dari koridor Islam...?
Perubahan yang akan membawa kepada kebebasan tanpa batas...?
Cotohnya reformasi sekarang....!
Gak ada baik-baiknya negara kita ini...

Teman: Sama saja, ketika dunia keberagamaan menjadi penguasa juga hanya pembawa kemunduran. Sejak kapan penguasa beragama maju?? Masa jaman keemasan Islam contohnya masa itu tidak akan muncul andai kata tidak ada campur tangan Mu'tazilin di dalamnya.

Saya: Semuanya memang menghendaki kalau agama Islam ini maju, berkembang pesat seperti kejayaannya dulu. Memang juga gak bisa dipungkiri kalau kejayaan itu berada di masa Mu'tazilah.Tapi sepertinya Anda harus memahami dan meneliti kembali sejarah tersebut. Sejarah bagaimana mu'tazilah. Jangan samakan Mu'tazilah dengan Islam Liberal...!Oke...?
Terus Anda juga harus mempelajari dan memahami bagaimana Islam itu sebenarnya. Beserta seluruh komponen-komponennya. Anda juga harus tau perbedaan antara Islam dan Pemikiran Islam. Jangan asal nyelonong masuk ke tempat bahaya aja....!
Ana tau kok siapa ente. Setengah tahun kita sekamar, sudah cukup tuh mempelajari gimana ente.
Ana cuma gak mau, dari Perpus itu, keluar orang-orang yang pikirannya nyelenah.

Senin, 03 Agustus 2009

Dualisme Berbahaya

1 komentar


Tulisan ini sebenarnya adalah rewriting setelah membaca artikelnya ustadz saya, Ust Hamid Fahmy Zarkasyi yang judulnya “Dualisme” di situs INSISTS. Menurut saya masalah ini sangat penting sekali untuk diangkat dan diketahui orang banyak. Karena paham ini telah merasuk ke dalam pemikiran manusia modern.

Menurut Ust Hamid, paham dualisme ini telah lama mengakar di dalam pemikiran Barat. Dan apa pendapat yang mensinyalir bahwa Barat sendiri telah mengadopsi paham ini dari kepercayaan Zoroaster di Timur, sekitar 1000 tahun sebelum Masehi silam. Selanjutnya paham ini semakin berkembang di zaman Yunani melalui berbagai pemikiran filsafat, seperti Platoisme dan Aristotle. Dan perkembangan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Seperti apa sebenarnya paham dualisme ini?
Ini adalah paham yang menggabungkan antara kebajikan dengan kejahatan dalam satu wadah. Paham yang membenarkan percampuran antara keduanya. Orang yang berpikiran dualis akan melihat sesuatu itu secara mendua. Dia akan memisahkan peranan antara jiwa dan raga, antara perbuatan dan hati. Dan akhirnya dia akan berpendapat, perbuatan boleh melakukan kesalahan tetapi hati selalu dalam kebenaran. Mencuri boleh asalkan dengan niat baik. Menjadi pelacur silahkan saja asalkan dengan niat baik untuk menghidupi keluarganya.

Padahal dalam Islam ada suatu keterkaitan fungsi antara jiwa dan raga, antara niat dengan perbuatan. Dalam sebuah hadist shahih telah dijelaskan, “Innama al-a'mal bi al-niyyat”. Sesungguhnya segala perbuatan itu ada niatnya. Ada hubungan persamaan antara kebersihan jiwa dan kebersihan raga. Selain itu Islam juga telah menetapkan hukum yang harus ditaati dan tidak boleh sama sekali dilanggar dengan alasan yang tidak syar’i.

Tentu saja dualisme ini adalah paham yang sangat berbahaya. Paham yang telah dianut Barat selama beratus-ratus tahun ini terang saja juga ikut mempengaruhi umat di dunia pada umumnya dan Islam secara khusus lewat gerakan Westernisasi. Maka dari itu hal ini perlu diantisipasi bersama.

Mungkin ini secuil dari pengetahuan tentang dualisme. Anda bisa mempelajarinya lagi di situs http://insistnet.com. Syukron![]

Minggu, 02 Agustus 2009

Teh Hangat Untuk Indonesia

0 komentar


Sekarang kita sudah memasuki bulan Agustus di tahun 2009. Bulan yang penuh dengan sejarah bagi bangsa Indonesia. Bulan yang di dalamnya tertoreh tinta emas perjuangan para pahlawan Indonesia. Bulan yang telah mengeluarkan Indoensia dari belunggu penjajahan. Bulan yang sarat dengan makna-makna motivasi untuk perkembangan bangsa ini di masa yang akan datang.

Tentu sebagai bangsa yang menghargai sejarahnya, hari kemerdekaan yang sangat berharga ini tidak akan lepas dari peringatan. Peringatan hari kemerdekaan memang penting bagi kita. Peringatan hari kemerdekaan memang dapat membawa kita kepada semangat baru, seperti semangatnya para pahlawan untuk memerdekakan bangsa ini.

Ingat kata Bung Karno! Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah perjuangan bangsanya. Begitulah. Sejarah sangat berharga dalam kehidupan kita. Dengan sejarah lah kita bisa mengenal bangsa kita. Arti pentingnya sejarah tidak aka pernah tergantikan. Karena ia merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menghargai sejarahnya. Bangsa Indonesia menghormati sejarahnya dengan penuh keanggunan. Setiap hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, selalu mendapat tempat untuk diperingati. Namun apakah dengan demikian bangsa Indonesia sudah bisa dikatakan bangsa yang besar?

Peringatan demi peringatan tidak cukup untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Terkadang kita lupa makna dan maksud dari sebuah peringatan tersebut. Terkadang kita hanya sekedar asal menjalankan dan melaksanakannya saja. Terkadang sejarah yang begitu penting itu hanya lewat sepintas di depan mata. Terkadang kita memang lalai.

Apakah pernah adalah dalam benak kita semua, bagaimana seandainya para pejuang yang telah berkorban jiwa, raga, dan nyawanya itu melihat kondisi bangsa seperti sekarang ini? Apakah pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa mereka akan menangis? Apakah pernah kita berpikir bahwa meraka akan merasa perjuangannya sia-sia belaka?

Sadarlah kawan! Bangsa Indonesia sekarang ini tidak jauh lebih baik dari bangsa yang terjajah. Bangsa Indonesia ini pada hakekatnya terbelung dalam penjajahan. Penjajahan yang lebih menyakitkan dari penjajahan colonial. Penjajahan yang kita hadapi sekarang adalah penjajahan moral, penjajahan pikiran, penjajahan budaya, dan penjajahan indentitas bangsa.[]

Sabtu, 01 Agustus 2009

Rasa

4 komentar


Rasanya ingin ku luapkan
rasa yang ada dalam lubuk hati
dan rasa itu akan terus menghiasi hati

rasanya ingin ku ungkapkan
rasa yang penuh dengan warna-warni indah
dan rasa itu akan menjadi mimpi indah

rasanya ingin ku nyatakan
rasa yang memiliki kekuatan
dan rasa itu akan memberikan kekuatan

rasanya ingin ku katakan
rasa yang mempunyai keajaiban
dan rasa itu darinya akan ada keajaiban

Cinta!
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template