Kamis, 31 Desember 2009

Sekilas Tentang Pluralisme Agama

0 komentar


Salah satu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah gencarnya arus pluralisme agama. Yaitu, ideologi yang meyakini bahwa semua agama itu sebenarnya adalah sama, semuanya benar, dan ada hakekatnya Tuhan semua agama itu satu. Pluralisme agama ini, terlebih dalam Islam, sangat berbahaya sekali. Karena itulah disebut sebagai tantangan.

Bagaimana pluralisme agama bisa menjadi sebuah bahaya, khususnya bagi Islam?

Sebab ideologi yang secara singkat singkat telah dijelaskan di atas, dapat mengusik tatanan konsep akidah Islam yang sudah final. Dalam Islam, konsep yang paling mendasar adalah konsep Kalimat Syahadah, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka ketika konsep ini dimasuki ide-ide pluralisme, berarti juga mengakui adanya Tuhan selain Allah, yaitu Tuhan-tuhan agama lain. Dan kalau ada keyakinan bahwa semua Tuhan itu sebenarnya sama, namun panggilan Tuhan itu saja yang berbeda-beda, maka sama saja dengan menyamakan Allah dengan Tuhan –buatan- lainnya.

Tentu saja hal ini dilarang keras dalam Islam. Dan pemikiran seperti ini tidak jauh berbeda dengan pemikiran yang dimiliki orang kafir. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Kemudian orang-orang kafir itu menyama-nyamakan (makhluk yang mereka sembah) dengan Tuhan mereka.” Keyakinan dan tindakan sesat inilah yang dikenal sebagai syirik dan tidak aneh jika merupakan dosa yang paling besar. Para pelaku syirik itu akan mengakuinya sendiri di Akhirat nanti, “Demi Allah, kami dulunya betul-betul berada dalam kesesatan yang nyata! (Yaitu) ketika kami menyamakan kalian (yang kami sembah) itu dengan Tuhan seru sekalian alam!” (QS. Asy-Syu’ara': 98)

Namun sayangnya, pemikiran atau ide pluralism ini masih saja ada yang menggandronginya. Lebih parah lagi, mereka itu orang Islam itu sendiri. Terkadang mereka berdalih pluralisme sebagai salah satu bentuk toleransi umat beragama. Padahal antara toleransi dengan pluralisme sangat jauh berbeda, dan tidak ada kaitan satu sama lain.

“Apakah orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan buruk itu mengira bahwa Kami akan jadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal shalih, baik yang hidup maupun yang mati? Alangkah buruk penilaian mereka!” (QS. Al-Jâtsiyah: 21.
Wallahu'alam[]

Senin, 21 Desember 2009

Apakah Ilmu Itu Sugesti?

0 komentar


Manusia sekarang sudah sampai pada peradaban ilmu pengetahuan yang modern. Berbagai macam cabang ilmu pengetahuan dikembangkan, yang tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Tujuannya adalah agar kehidupan manusia lebih hidup dan berarti. Agar segala bentuk kemudahan dalam hidup hadir di depan mata kita. Karena bukan suatu bentuk kemodernan jika tidak ada kemudahan.

Telah terbukti begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Bahkan tanpa ilmu, manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Karena segala sesuatunya untuk hidup di dunia ini harus berlandaskan dengan ilmu. Hal itu telah terlihat sejak pertama kalinya kita menangisi dunia ini.

Manusia akan berani bertindak untuk melakukan sesuatu setelah adanya ilmu tentang sesuatu itu dulu. Dan kalaupun ada yang melakukan percobaan tanpa landasan ilmu terlebih dahulu, maka tujuannya pun tidak lepas untuk ilmu. Bukankan awal dari percobaan itu adalah penasaran, dan penasaran itu bertujuan untuk pengetahuan?
Nah, ketika setiap perbuatan itu atas landasan dan untuk ilmu, maka apakah ilmu itu sebuat sugesti?

Terlepas dari positif maupun negatifnya jawaban atas pertanyaan di atas tadi, yang terpenting kita sendiri sebenarnya dapat menilai hal itu. Jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Kita lah yang dapat membuktikannya. Tidak perlu praktek secara khusus, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita telah membuktikannya.

Jika kita telah mengetahui jawab dari pertanyaan tersebut, lalu adakah kemungkinan kita akan meninggalkan pekerjaan mulia menuntut ilmu? Akankan proses penuntukan ilmu itu akan terhenti secara formal saja? Maka, benarlah adanya perkataan Rasullah SAW, bahwa kita harus menuntut ilmu dari buayan sampai liang lahat. []

Rabu, 16 Desember 2009

Coretan Persahabatan

0 komentar

memang serasa indah
keindahannya mungkin melibihi pesona cleopatra
keindahan itu tidak hanya dirasakan panca indra,
tetapi juga terasa di jiwa

sobat!
tak ada yang lebih berharga dari hanya sekedar harta
selain sahabat
tak ada yang lebih mempesona dari hanya sekedar pantai kuta
selain sahabat
tak ada yang lebih berguna dari hanya sekedar jasa
selain sahabat

sobat!
aku ingin tali ini diikat dengan simpul mati
simpul yang kuat, yang selalu terikat

sobat!
karena kalian lah aku kuat
karena kalian lah aku semangat

aku ingin persahabatan ini selalu ada
untuk selamanya....

cairo, 26 september 2009

Jumat, 11 Desember 2009

Pesona Wanita Shalehah

0 komentar

Seperti indahnya pelangi yang menghiasi sore hari, begitulah mungkin perumpamaan wanita sebagai penghias dunia ini. Dan bahkan lebih penting dan berarti lagi dari hanya sekedar perhiasan. Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini tanpa adanya wanita?

Kata Rhoma Irama dalam lagunya, “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Cinta itu ibarat seorang wanita. Bisa dikatakan wanita adalah sumber inspirasi cinta. Boleh jadi seandainya tidak ada wanita, maka tidak ada cinta. Ya, mungkin begitulah jika para pujangga berbicara tentang korelasi antara cinta dan wanita.

Lantas wanita yang bagaimanakah yang benar-benar bisa menjadikan hidup kita ini indah, yang dapat menghiasi setiap alunan nafas kita, menemani setiap detak jantung kita sehingga berbuah menjadi sebuah tasbih kepada Allah?

Maka jawabanya termaktub dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya:
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim)

Tolak ukur wanita itu bisa dikatakan shalehah atau tidak adalah ketaqwaannya. Dan kadar ketaqwaannya itu menetukan tingkat keshalehah wanita tersebut. Sedangkan ketaqwaan itu sedikit banyaknya dapat dinilai dari seberapa besar ketaatannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah, dan dalam menjauhi segala larangan-Nya.

Banyak poin yang tentunya dapat diamalkan dalam rangka menjadi wanita yang shalehah. Baik poin itu berupa “reques “ dari Al-Qur’an, maupun dari kaum yang menyukai wanita itu sendiri, yaitu kaum Adam.

Ketaatan yang akan membungkusi keshalehan tersebut tertuang dalam poin-poin penting yang perlu diperhatikan oleh wanita. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat….”

Secara prinsip, wanita shalihah adalah wanita yang selalu istiqomah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pesona kemuliaannya bukan dari perhiasan dan aksisoris yang dia gunakan. Sebaliknya, ia selalu menjaga kecantikan dirinya supaya tidak berbuah menjadi fitnah bagi orang lain dan dirinya sendiri. Ini sangat penting dilakukan, karena kecantikan sewaktu-waktu menjadi energi positif, dan bisa juga di waktu yang lain menjadi energi negatif.

Namun ketika ia memiliki keterbatasan fisik, wanita shalehah tidak akan kecewa dan sakit hati terhadap karunia Allah tersebut. Bahkan ia masih dapat bersyukur dengan apa yang ada. Kepribadiannya yang baik yang akan merubah dirinya menjadi lebih indah dan menarik.

Banyak wanita yang dalam kehiudpannya bisa sukses, atau yang sering kita sebut dengan wanita karir. Tapi itu semua tidak akan menjamin keshalihannya. Kita tidak dapat hanya mengukur dari kesuksesan dalam karirnya saja, tanpa mengabaikan kesuksesan-kesuksesan lain seperti kesuksesan dalam mengurus rumah tangga, kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya, dan bahkan kesuksesan dalam menempatkan dirinya sendiri sebagai Muslimah.

Pandangan tentang wanita shalehah ini tentunya bersifat umum. Baik itu ditujukan kepada wanita yang sudah berkeluarga, maupun bagi wanita yang belum berkeluarga.

Bagi remaja Muslimah, untuk menjadi wanita shalehah membutuhkan komitmen yang tinggi. Lingkungan pergaulan menjadi faktor utama yang menunjang. Lingkungan dalam bergaul sangat besar sekali dalam menentukan perkembangan kepribadian remaja. Bahkan bisa dikatakan bahwa remaja adalah produk lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat secara luas.

Keshalehan seorang remaja Muslimah menjadi harga mati dalam kehidupan rumah tangga, jika ia berkeluarga kelak. Karena dia lah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, sebagai contoh, pembentuk suasana keluarga yang harmonis.

Tidak hanya sampai di situ. Wanita shalehah juga merupakan kunci penting dalam menentukan kebaikan dan kemajuan suatu bangsa. Sering sekali kita mendengan istilah, “Di belakang pemimpin yang hebat, ada wanita yang luar biasa”. Bahkan wanita adalah tiang negara. Ya, kenyataanya memang benar demikian. Laki-laki tanpa wanita tidak akan jadi apa-apa. Berapa banyak laki-laki yang mendapatkan motivasi untuk bekerja dan berbuat dari wanita? Berapa banyak para bapak yang selalu bersemangat kerana istrinya yang shalehah? Kita tidak bisa memungkiri itu semua.

Sehingga pada akhirnya kita harus bersyukur atas ciptaan Allah yang paling indah ini. Wanita memang sungguh sangat berharga dan tiada taranya. Pengaruhnya sungguh sangat besar. Pesonanya akan selalu bersinar dalam setiap langkah kaki para lelaki.[]

Rabu, 07 Oktober 2009

Arsitek Islam Klasik (3)

0 komentar









(Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.)

Memaknai Bencana Indonesia

0 komentar

Oleh: Ahmad Sadzali

Pamor Indonesia sebagai negara yang akrab dengan bencana alam sudah tidak diragukan lagi. Betapa tidak, rutinitas bencana terus berjalan dan berkesinambungan layaknya episode dalam sinetron. Tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati ini sekarang telah menjadi sebuah ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, karena ia bisa datang kapan saja dan di mana saja tanpa ada dugaan atau perhitungan sebelumnya. Suasana senang menikmati indahnya bumi Khatulistiwa, bisa saja setiap saat berubah menjadi suasana sedih dan menakutkan ketika melihat banyaknya korban berjatuhan dan rumah serta gedung yang runtuh oleh dahsyatnya getaran bumi.

Bila semua ini telah terjadi, lalu apakah kita hanya bisa diam menerima keadaan?

Tidak. Tentunya kita tidak bisa hanya tinggal diam dengan musibah yang menimpa kita. Paling tidak kita akan menanyakan, "Mengapa semua ini bisa terjadi?". Namun dari pertanyaan yang simpel itulah sebenarnya kita akan tahu apa yang selanjutnya harus kita perbuat? Dan apa yang ke depannya harus kita perbaiki?

Dalam menaggapi bencana atau memaknainya, semua orang tentu memiliki perspektif yang beragam. Ada yang memaknainya sebagai azab dan siksa dunia, ada juga menganggapnya sebagai ujian dan cobaan, ada juga yang menyikapinya sebagai peringatan atau teguran kepada kita semua, dan bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai manfaat dan keuntungan. Itu semua tergantung pada individu masing-masing.

Namun tentunya kita sebagai Muslim dan masyarakat Indonesia yang umumnya beragama Islam, merasa bahwa bencana alam itu adalah sebuah cobaan dan peringatan dari Allah SWT. Kita yakin kalau cobaan ini bisa kita lewati dengan baik, maka kadar keimanan kita akan semakin bertambah.

”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2-3).

Di samping itu kita juga yakin kalau ini adalah peringatan keras dari Allah atas kelalaian kita selama ini. Allah memperingati kita dengan bencana ini agar kita kembali kepada-Nya, jangan seperti orang-orang terdahulu yang telah melakukan kemungkaran terhadap-Nya.

Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).

Bagi mereka yang tertimpa musibah tersebut, maka tidak ada kata lain selain kata sabar. Tanpa kesabaran, maka untuk menerima semua ini sungguhlah berat. Dalam psikologi manusia, kehilangan keluarga, orang-orang tercinta, dan harta benda bukanlah hal yang mudah. Sedih dan beban mental sudah menjadi fitrah manusia, namun kesabaranlah yang akan membuktikan kualitas taqwa.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153).

Saatnya sekarang kita benar-benar melakukan perubahan yang nyata. Dari kemungkaran kepada ketaqwaan, dari kemusyrikan kepada keimanan. Sudah terlalu banyak orang yang berbicara tentang hikmah di balik bencana, sudah terlalu sering tulisan yang mengangkat tema hikmah dari bencana, tapi kalau itu semua hanya seperti angin lalu, maka apalah artinya. Wallahu a'alam. []

Minggu, 04 Oktober 2009

Arsitek Islam Klasik (2)

0 komentar
Sudah saatnya kita bangga sekaligus melestarikan produk budaya dari peradaban kita sendiri.

(Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.)






Kejahilan Pemikiran dan Tantangan Intelektual Islam

0 komentar
Kejahilan Pemirikan adalah soft strategy yang masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam.

Oleh: Ahmad Sadzali

Hidayatullah.com--Lagi-lagi khazanah intelektual Islam diserang. Ini memang bukan kali pertamanya. Dalam sejarahnya, sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh para missionaries lewat gerakan imperialisnya. Mulai dari adopsi peradaban Islam beserta khazanah keilmuannya, sampai kepada misi missionaris yang dilancarkan ke berbagai negara-negara berpenduduk Islam.

Kehadiran missionaris agama di negara-negara Islam adalah suatu gerakan yang komlpeks yang terselubung dalam gerakan-gerakan kebudayaan, bantuan atau aktivitas lainnya. Kegiatan ini bisa berjalan lancar karena mendapat dukungan kaum kapitalis Barat. Dan para sejarawan telah mencatat bahwa gerakan ini dibungkus dalam bentuk kebijakan imperialisme dunia.

Pada mulanya gerakan missionaris ini hanya mengandalkan kekuatan dan tenaga sumber daya manusia. Namun dengan berkembangnya zaman, gerakan ini pun berkembang lebih sistimatis. Meraka membentuk lembaga-lembaga dan berbagai organisasi. Aeten Sezar, seorang penulis Turki telah mengemukakan mengenai hal ini:

“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.”

Sampai sekarang arus missionaris itu sangat masih terasa sekali. Meski sekarang sudah tidak dalam bentuk gerakan imperialis. Sekarang misi-misi itu terus dilancarkan lewat berbagai isme, seperti liberalisme, sekularisme, feminisme, maupun pluralisme. Paham-paham ini gencar disebarkan. Namun yang lebih menyedihkan, paham ini disebarkan melalui para intelektul-intelektul Muslim.

Mengapa hal tersebut sampai terjadi?

Ini adalah salah satu akibat dari adopsi peradaban yang kebablasan. Pada awalnya ini sama seperti yang dilakukan Barat ketika zaman kejayaan ilmu pengetahun Islam dulu. Ketika itu Barat begitu terpesona dengan kemajuan Islam di segala bidang. Dari bidang ilmu pengetahuan, seni dan budaya, perdagangan, sampai kepada arsitektur. Dari pesona yang dipancarkan Islam itu, membuat Barat tertarik untuk mempelajari Islam. Akhirnya banyak orang-orang Barat yang datang ke nagara-negara Islam yang menjadi pusat kejayaan pengetahuan dan budaya waktu itu seperti Baghdad, Cordova dan Kairo untuk mempelajarinya.

Hal ini memang lumrah adanya. Suatu peradaban yang tertinggal belajar kepada peradaban yang sudah maju. Sehingga dapat belajar banyak dari peradaban tersebut. Seperti yang dilakukan Barat dulu terhadap peradaban Islam.

Sekarang Barat telah berubah menjadi peradaban yang pesat. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi telah dikembangkan di sana. Sementara dunia Islam yang ketika zaman khalifah Mansyur, Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun telah mencapai kejayaannya, sedikit demi sedikit luntur. Jatuhnya peradaban Islam tersebut sangat jelas terlihat sejak abad ke-13 sampai sekarang.

Munculnya kembali spirit untuk memajukan peradaban Islam memang patut diacungi jempol. Seperti perahu terbalik, sekarang Barat telah memberi pesona kemajuannya di bidang ilmu pengetahun dan teknologi kepada dunia Islam. Kemajuan pesat Barat ini telah menjadi magnet kuat untuk menarik umat Islam untuk belajar di Barat. Sehingga banyak umat Islam yang pergi ke beberapa negara maju Eropa dan Amerika untuk belajar berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, science, filsafat, dan bahkan belajar Islam.

Namun di tengah adanya gesekan atau bahkan perang peradaban antara Islam dan Barat saat ini, ternyata situasi seperti ini membawa keuntungan besar kepada Barat. Perang peradaban ini telah membangkitkan kembali semangat missionaris Barat untuk menghancurkan Islam. Seakan ini adalah Perang Salib episode modern.

Seorang missionaris Henry Martyn (18 February 1781 - 16 October 1812) mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.”

Umat Islam memang terlalu kuat untuk diserang dengan kekuatan senjata. Karena umat Islam memiliki satu senjata ampuh yang tidak dimiliki umat agama lain, yaitu semangat jihad dan mati syahid. Oleh karena itu stategi yang diterapkan mereka untuk menghancukan Islam tidak lagi dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kekuatan logika dan kata-kata.

Mereka telah masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam. Ini adalah soft strategy yang telah banyak mengecoh umat Islam. Mereka mempelajari Islam untuk menyelewengkan ajaran Islam itu sendiri. Mereka mengembangkan Islamic study di Barat, sehingga menarik intelektual Muslim untuk belajar kepada mereka. Dengan demikian mereka dapat mentransfer paham mereka kepada para intelektul Muslim yang belajar kepada mereka tersebut. Sehingga paham pemikiran mereka dengan cepat mempengaruhi pemikiran Islam.

Mereka sengaja membuat paradigma bahwa peradaban Barat itu telah berjaya dan maju di segala bidangnya. Sementara itu Islam hanyalah peradaban yang ketinggalan zaman. Dengan paradigma tersebut akhirnya umat Islam merasa terpacu untuk meneliti mengapa Islam demikian? Adakah yang salah di dalam Islam? Sehingga akhirnya muncul wacana-wacana untuk memperbaharui Islam. Tapi sayangnya wacana-wacana pembaharuan itu kini menjadi momok bagi umat Islam itu sendiri.

Dasar-dasar Liberalisme

Di Indonesia sendiri, indikasi itu telah muncul sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh yang paling berjasa dalam ide pembaharuan Islam pertama di Indonesia. Melalui majalahnya al-Imam, Djalaluddin menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam Timur Tengah di Indonesia dan Malaysia.

Meskipun sempat redup ketika memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, di tahun 1970-an ide-ide liberal ini kembali dilanjutkan oleh Nurcholish Madjid. Dan tak ketinggal Harun Nasution juga turut membawa wacana pembaharuan Islam ini. Dia bahkan telah merubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah sejak tahun 1975-an. Ide liberalisme ini terus berlanjut sampai kepada berdirinya suatu gerakan terang-terangan Islam liberal pada bulan Maret 2001 yang diusung oleh Ulil Abshar Abdala dan menamakan gerakannya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Arus liberal ini tak kunjung redup. Padahal liberalisme dalam penerapannya sangat berbahaya terhadap umat Islam. Ini adalah senjata pemusnah massal untuk merusak Islam dengan semboyan-semboyannya kebebasan berpikir dan toleransi.

Setalian dengan liberalisme, arus feminisme, sekularisme, dan pluralisme juga sangat terasa derasnya. Beberapa waktu lalu, umat Islam kembali dihebohkan dengan terbitnya buku yang berjudul Faith Without Fear oleh Irshad Manji, seorang Muslimah Kanada yang mendapat label “Feminis Abad 21”. Buku ini telah diterbitkan di beberapa negara seperti Pakistan, Turki, Irak, dan India. Dan sempat dilarang peredarannya.

Di dalam salah satu bab bukunya ini tertulis:

…Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka ‘takutkan atau sesalkan’ selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya ‘keyakinan yang benar’. Aneh, bukan…?

Kalimat-kalimat seperti itu dengan jelasnya tertera untuk melecehkan Al-Qur’an. Bagaimana bisa seorang Muslimah bisa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu aneh? Tapi inilah kenyataannya. Kenyataan Islam itu diserang dari dalam. Melalui intelektual Muslim itu sendiri.

Itu hanya satu contoh dari sekian banyak contoh betapa gencarnya serangan intelektul kepada Islam. Prinsip-prinsip Islam yang telah kokoh, sedikit demi sedikit mulai digoyahkan secara terang-terangan dan kasar. Mushaf Ustmani diserang melalui periwayatannya, melalui penemuan manuskrip lama, dan melalui tafsiran serta kekuatan intelektual. Hermeneutika dimasukkan sebagai metodelogi penafsiran untuk merusak Islam.

Tantangan bagi intelektul Muslim lebih kompleks lagi. Kemusyrikan dan kemungkaran terus merajalela. Syariat Islam mulai dilecehkan. Sedangkan pergaulan bebas sudah dibudayakan. Liberalisme seakan menjadi trend bagi intelektual muda Muslim. Sekularisme sudah menjamur di dalam sistem pemerintahan. Feminisme semakin gencar untuk menyudutkan Islam dalam memandang wanita. Pembaharuan Islam disalahgunakan untuk rekonstruksi tatanan hukum Islam yang sudah qoth’i.

Sebagai penutup, ketika pelak-pelaku ‘kemusyrikan’ dan kemungkaran itu semua berstatus Muslim, pilihannya adalah apakah kita ikut menjadi bagian mereka atau kita ‘melawan’ mereka? Wallahu a’lam.[AS/www.hidayatullah.com]

Arsitek Islam Klasik (1)

0 komentar
Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.







Jumat, 02 Oktober 2009

Sisi Lain Kehidupan Mesir

1 komentar
Hiduplah dengan cinta dan jangan sekali-kali mengabaikannya! Karena ia adalah ruh bagi jiwa manusia.

Bagaimanapun kehidupan kita, saling membantu adalah suatu keharusan.

Senyum persaudaraan yang indah.

Yang tua pun berjuang mempertahankan hidup.

Bahkan terlelap dalam bekerja dan membaca Al-Qur'an.

Pentingnya sebuah kebersihan.

Waktu memang sungguh berharga.

Untuk hidup harus tetap semangat!

Minggu, 20 September 2009

Antara Intelektual dan Politik

0 komentar
Oleh: Ahmad Sadzali

SALAH satu hal menarik untuk dibicarakan setelah pesta demokrasi adalah peran ulama atau kiai dalam ranah perpolitikan Indonesia. Banyak ulama yang mencoba terjun ke dalam kancah politik, dengan alasan politik sebagai media untuk dakwah.

Situasi semacam itu ternyata menjadi sorotan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan apakah ulama benar-benar mampu berpolitik? Apakah dengan terjunnya ulama dalam bidang politik dapat mengubah suasana perpolitikan di Indonesia?

Ada pendapat yang menyatakan agar ulama mundur dari dunia politik, karena tugasnya mengajarkan agama, pendidikan dan sosial kepada masyarakat. Politik itu kotor, sedangkan agama itu sakral. Jangan sampai mengotori agama yang sakral tersebut dengan politik.

Pernyataan seperti itulah yang lantas mendorong KH Miftakhul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim angkat bicara. Menurutnya, dalam situs Republika Online, 4 Agustus 2009, pernyataan seperti itu harus diwaspadai oleh umat Islam khususnya warga Nahdiyin. Sebab pernyataan seperti itu sekuler yang terselubung, berusaha mengerdilkan Islam.

Dalam sejarah kejayaan Islam, peran intelektual sangat besar. Khalifah Islam adalah para pemimpin yang selalu dan sangat memerhatikan masalah ilmu pengetahuan dan keintelektualan. Di belakang khalifah adalah deretan orang yang ahli dalam bidang masing-masing. Maka tak ayal kalau khilafah Islamiyah bisa mencapai kejayaan karena keintelektualannya.

Peranan ulama dahulu sebagai inspirator kemerdekaan Indonesia. Di antaranya HOS Cokroaminoto, Dr Wahidin Sudiro Husodo, Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, Ki Hajar Dewantoro, M Natsir dan sejumlah ulama serta intelektual lainnya.

Pendapat yang berusaha untuk memisahkan intelektual dengan politik sebenarnya pendapat yang sekuler. Pendapat yang mengotomi politik itu sendiri. Politik dinilai sebagai sesuatu yang hina, sehingga agama yang sifatnya suci tidak diperbolehkan masuk.

Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah adalah jargon yang banyak membuat ilmuwan atau ulama yang terjun di dunia politik kehilangan arah tujuannya.

Bila hal seperti ini terus terjadi dan berkembang di dalam dunia intelektual, maka akan menjadi momok bagi ulama maupun ilmuwan. Akhirnya mereka akan makin jauh dari dunia politik, sehingga terciptalah sebuah negara yang sekuler. Negara yang asas pemikirannya selalu berlandaskan untung dan rugi, tanpa menghiraukan etika dan moral.

Maka kita perlu mempersandingkan kembali antara intelektual dengan politik, keduanya saling melengkapi. Politik tidak akan terkontrol tanpa adanya kehadiran intelektual. Politik yang busuk adalah politik yang tanpa dilandasi intelektual. Politik dianggap kotor dan kejam karena tidak dikawal dengan intelektual. Jadi kehadiran intelektual dalam dunia politik sangatlah penting. Keduanya tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan.

Sekarang ini Indonesia tengah dilanda krisis politikus yang intelek, sehingga elite politik banyak yang tidak bermoral. Kekuasaan dalam pikirannya hanyalah sebuah alat untuk meraih kenikmatan dunia. Pemilu baginya hanyalah ajang perlombaan antara menang dan kalah.

Maka, tidak bisa disalahkan kalau Indonesia tidak bisa bangkit lagi seperti zaman perjuangan dulu. Tokoh elite politiknya tidak sebobot dengan politikus dulu. Contohnya, Soekarno dan Hatta. Mereka adalah tokoh politik dan juga tokoh intelektual.

Sekarang Indonesia perlu berbenah diri kembali. Indonesia perlu mencetak generasi penerus politikus yang akan memikirkan bangsa dengan politikus yang intelek.

Indonesia memerlukan pemimpin yang bisa memadukan antara intelektual dan politik, sehingga dapat bangkit kembali dari penjajahan dan keterpurukan.

[banjarmasinpost.co.id/edisi 20 Agustus 2009]

Selasa, 11 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 4)

1 komentar
Ini lanjutan debat bagian yang ke-4. Semakin digali pemikirannya, semakin ketahuan letak kerancuan pemikiran tersebut. Ini benar-benar membuktikan pemikiran liberal semacam ini sangatlah berbahaya.

Teman: Keyakinan saya memang relatif sobat, yang mengatakan benarkan saya belum tentu orang lain mengatakan benar, itulah artinya relatif. Bukan begitu sobat???? Seperti dengan Anda yang tidak meyakininya. Berbicara masalah agama, kita harus melihatnya secara umum lebih dulu. Maksudnya adalah agama bukan hanya yang tertera dalam salah satu tertentu, tapi agama itu adalah semua keyakinan manusia, baik yang diciptakan manusia maupun dari Tuhan. Agama yang membolahkan zina??? Nanti saya sebutkan, gue shalat Zuhur dulu.

Saya: Wah, bagaimana suatu hal yang bersifat relatif itu bisa menjadi keyakinan? Artinya ada ketidak konsistenan donk dalam keyakinan dan diri Anda...? Sepertinya teman saya ini belum begitu paham apa itu keyakinan...? hahaha...!

Teman: Konsisten bagi saya, karena saya percaya dan yakin apa yang saya anut. Misalnya saya sekarang meyakini bahwa apa yang saya anut ini benar. Maka saya akan konsisten menjaga keyakinan. Masalah orang percara atau tidak itu terserah mereka, ga' ada yang perlu dipermasalahkan. Karena kebenaran itu relatif. Wong dia ga' meyakini kebenaran yang kita anut kok kita paksa ya ga' bisa, begitu juga sebaliknya sobat. Saya akan konsisten kepad apa yang saya anut, karena saya membenarkannya.

Saya: Konsisten dalam kerelatifan itu merupakan hal yang nista. Kalau Anda yakin dengan kerelatifan, berarti keyakinan Anda juga relatif. Kalau keyakinan Anda relatif, berarti keyakinan itu bisa berubah-rubah donk..! Apakah itu yang disebut konsisten...? Pahami lagi sobat tentang makna keyakinan itu sendiri. Pemikiran Anda itu telah terjebak dalam Dualisme...!

Teman: Sorry baru jawab. Benar keyakinan saya relatif, jika yang memandang keyakinan saya ini global, seperti yang saya omongkan persepsi orang berbeda-berbeda sobat dan tak mungkin kita menyamakan semua keyakinan. Cocoknya bukan berubah tapi bertambah dan berkembang. Ya, konsisten bagi saya terhadap keyakinan saya, karena saya relativisme dan kerelatifan itu lah keyakinan saya. Begitu juga dengan Anda, Anda konsisten pada keyakinan Anda bagi Anda atau yang sekeyakinan dengan Anda, beda dengan orang lain di luar Anda. Mereka tidak akan konsisten dengan keyakinan Anda, sebab mereka tidak meyakini keyakinan Anda. Yang sekeyakinan saja belum tentu konsisten apa lagi yang tidak sekeyakinan. Namun dalam mua'saroh di bumi Tuhan ini ada hukum-hukum human yang netral bagi semua keyakinan sehingga terjadi sebuah kerukunan.

Saya: Kalau keyakinan Anda relatif, berarti sewaktu-waktu kayakinan Anda bisa saja donk seperti keyakinan saya? Kalau Anda bilang keyakinan Anda bukan berubah, tapi berkembang dan bertambah, berarti itu bukan relatif namanya sobat. Sama saja itu dengan fanatik. Pola pemikiran Anda itu sebenarnya rancu. Itu karena anda mengambil dari pemikiran-pemikiran yang rancu juga. Anda bilang hukum human yang netral, memangnya hukun Tuhan tidak netral...?

Teman: Sejatinya keyakinan Anda dengan keyakinan sayakan berbeda, ya gak mungkin lah saya beralih kepemikiran Anda. Justru di situlah letak kerelatifannya berkembang di sini dalam artian kita menerima perubahan bila perubahan itu lebih baik dari yang lama karena kita menghukumi sesuatu benar 100%. Dan kenapa juga saya bilang tidak berubah karena kita percaya dan yakin pada kerelativan. Kita percaya pada kerelativan bukan pada isi dari kerelativan yang setiap saat bisa berubah. Fanatik?? Ya, gak netral (hukum Tuhan).

Saya: Sekarang saya mau tanya dulu arti relatif itu apa? Kemudian atas dasar apa Anda bisa mengatakan bahwa hukum Allah itu gak netral...?

Sabtu, 08 Agustus 2009

Sajak Buat Rendra

1 komentar


Meski kita tidak pernah satu pandang
aku tetap merasa kau sosok yang sangat gemilang
Meski kita tidak pernah satu suara
aku tetap percaya kau seorang penyair dunia
Meski pertemuan itu tak pernah ada
aku tetap yakin buah karyamu tetap di hati kita

Rendra!
Setiap goresan tinta emasmu telah terpatri dalam sanubari
coretan tinta putihmu selalu menghiasi hati
puja puji syairmu begitu indah mewarnai hidup kami
kritikan masukanmu sungguh berguna untuk negeri

Rendra!
Jauh kau di sana
di alam yang penuh tanda tanya
Kami selalu berdoa
semoga kamu bisa tertawa gembira
dengan amal dan ilmu yang bermanfaat
yang telah kau tinggalkan kepada kami

Rendra!
Kami menunggu Rendra Rendra dan Rendra selanjutnya
Kami sadar kami sangat kehilanganmu
kehilangan sosok yang penuh makna

Selamat jalan Rendra!

Jumat, 07 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 3)

0 komentar
Debat ini semakin memanas dan semakin menguatkan bahwa arus liberal itu sangatlah berbahaya...!

Teman: Tidak sempurna memang, tapi itu bukan alasan tuk tidak berbuat. Masa nunggu sempurna dulu baru berbuat, ya ga' kan jadi-jadi sobat.

Saya: Lho kita bukan menunggu untuk sempurna, karena memang akal kita itu gak bisa sempurna. Sekarang ada yang lebih sempurna, yaitu Allah dan kalam-Nya...! Mengapa Anda tidak mengambil yang lebih sempurna saja...? Mengapa Anda harus mengikuti liberal yang mendewakan akal...?

Teman: Cocoknya bukan mendewakan akal sobat, tapi lebih memakai akal. Allah memang sempurna dan Al-Qur'an memang dari Allah, semua muslim tau hal itu, termasuk saya sobat. Namun dalam kenyataan manusia itu butuh penjelasan, sementara penjelasan itu berbeda-beda tergantng kemampuan penjelasnya. (Lum faham juga??? Nanti kita sambung, gue mau sholat asar dulu). Kwkwk mwk.

Saya: Kalo gitu saya juga paham sobat...! Untuk menjelaskan Al-Qur'an pun gak boleh sembarangan. Penjelas Al-Qur'an salah satunya adalah As-Sunnah. Maka jangan asal menggunakan akal sobat. Anda udah pernah tau tentang Hermeneutika belum...? Coba belajar dulu deh...! Jangan asal nyawur...! Belajar yang benar...! Bukan malah mempelajari yang salah. Oke sobat...?

Teman: Sorry sobat jangan pernah mengklaim salah atau benar, selama masih dalam pandangan manusia, itu semua relatif sobat. Benar menurut Anda, belum tentu benar bagi saya, dan sebaliknya. Heurmanetika??? Dari 2 SMP gue udah tau sobat, Bapak Hermeneutika kan alumni Gontor juga sobat, kalau g' salah rektor UIN Yogja kan????

Saya: Itulah pengaruh dari relativisme, selalu menganggap kebenaran itu relatif. Itu adalah buah dari Hermeneutika. Siapa pula tuh bapak Hermeneutika yang dari Gontor??? hahaha...! Jangan asal sobat...! Pencetuh Hermeneutika itu adalah Friedrich Schleiermacher, seorang tokoh Protestan. Hati2 sobat...!

Teman: Maksud saya Bapak Hermeneutika Indonesia sobat. Namanya Prof. DR. A. Amin, phd. Ngapain mesti berhati-hati wong ga' berbahaya kok, orang yang merasa asing aja yang menganggapnya berbahaya.

Saya: Dari segi apa Anda menganggapnya tidak berbahaya? Anda berpikiran demikian karena Anda memang telah terhipnotis oleh pemikiran mereka. Bagi saya itu bukan merupakan hal yang asing, toh saya tetap menganggap itu hal yang berbahaya. Justru bagi orang yang tidak tau, yang menganggap Hermeneutika itu tidak berbahaya...!

Teman: Tahu belum tentu menerima, paman Nabi tahu kalau Islam itu agama yang benar, tapi apakah dia masuk Islam??? Perasaan tidak??? Saya tadak memaksa Anda untuk membenarkan apa yang saya anut, dan di sinilah letak kerelativisan suatu kepercayaan dll. Saya tidak terhipnotis, saya sadar dan bahkan saya tidak pernah terpengaruhi. Justru umat Islam sekarang yang terhipnotis oleh pemikiran orang-orang dulu.

Saya: Masalah paman Nabi itu berkenaan dengan hidayah. Sedangkan Anda, bila benar-benar telah mengetahui lantas tidak melakukan, maka Anda telah terjebak ke dalam Diabolisme. Bila Anda percaya dengan relativisme, berarti Anda juga menilai suatu kesalahan itu bersifat relatif, lalu apakah berzina juga keharamannya relatif...?

Teman: Ya, tergantung orang, kepercayaan yg menilai. Apa itu hidayah???? Hidayah juga kan relatif sobat.

Saya: Jawab dulu pertanyaan ana yang terakhir itu...! Jawab dengan tegas, “ya atau tidak”?
Ana mau shalat Subuh dulu...!

Teman: Udah saya jawabkan sobat. Ya.,ya...ya...ya,100x. Azunnu yakfi (saya kira cukup).

Saya: Berarti Anda berpendapat bahwa keharaman berzina itu adalah relatif. Sekarang saya tanya, kapan zina itu dikatakan boleh?

Teman: Disaat orang berkeyakinan bahwa zina itu boleh sobat.

Saya: Sekarang saya tanya, agama mana di dunia ini yang memperbolehkan zina...? Lalu masihkah Anda menganggap relativisme suatu kebenaran...?
Sebenarnya ketika Anda yakin dengan relativisme tersebut, Anda sendiri telah terkebak oleh keyakinan Anda sendiri. Berarti kebenaran keyakinan Anda sendiri juga relatif donk...? Bagaimana Anda bisa yakin dengan relativisme...?
Kalau Anda kembalikan pernyataan tersebut kepada saya, Anda salah besar. Karena saya tidak meyakininya...!

Selasa, 04 Agustus 2009

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 2)

0 komentar
Sambungan debat liberal dari bagian pertama.

Teman: Islam dan pemikiran Islam tak boleh dipisahkan, karena 2 hal saling berkaitan yang akan saya jelaskan nanti. Masalah liberal dan Mu'tazilin memang beda, namun yang patut kita perhatikan adalah bahwa kedua firqoh ini sama-sama menganggap bahwa akal yang paling utama. Insya Allah saya akan lebih memperdalam lagi pengetahuan saya tentang Mu'tazilin dan liberal. Sehingga saya akan lebih mantap menyebarkan semangat perubahan ini pada masarakat yg sudah bosan dengan kehidupan yang statis. Hidup Mu'tazilah, liberal, dan relativisme. Lanjutkan!

Saya: Tuh kan...? Ente dengan semaunya ingin menyamakan antara Islam dan Pemikiran Islam. Keduanya itu beda dan memiliki arti yang beda juga. Memang kalau orang yang berpikiran liberal, lebih cenderung menyamakan antara keduanya itu. Anda harus belajar lebih dalam lagi temanku...! Kemudian mengenai Mu'tazilah dan liberal, memang keduanya mempunyai landasan akal. Tapi Anda juga harus belajar batasan-batasan yang mereka gunakan. Kalau Anda mau mengangkat isu Mu'tazilah kepada Islam Liberal, itu merupakan hal yang qias yang bathil. Masalah relativisme? Kayaknya Anda juga harus tau lebih dalam tentang Hermeneutika...!

Teman: Thanks for masukannya dan saya akan lebih mendalami lagi, biar lebih mantap ana melangkah dalam penyebaran keyakinan ini? Kalau ada yg lebih baik kenap malah yang lain. Kalau ada yagn dinamis ngapain milh statis. Liberal, Mu'tazilah, dan relativisme selalu dalam hatiku. Bukalah cakrawala berfikir Anda dengan sikap klusif.

Saya: Seharusnya Anda lebih mendalami ajaran Islam secara murni dulu, baru kemudian mempelajari tentang liberal. Ajaran murni Islam aja Anda masih tidak begitu tau seluk-beluknya, gimana mau mau mempelajari liberal. Akan hancur Anda teman...! Klusif...? Klusif yang mana...? Anda jangan asal ngomong...!

Teman: Manusia tak akan pernah sempurna sobat, buang kalimat itu dari benak Anda, itu hanya membuat kita pesimis. Yang ada adalah berusaha untuk sempurna. Sayang kebanyakan Muslim terlalu candu terhadap buah hasil pemikiran orang dulu.
Justru saya sudah menganggap apa yang saya geluti adalah bagian dari Islam dan memang Islam. Emang Islam yang mana yg murni???????

Saya: Saya sangat sependapat kalau manusia itu gak pernah sempurna sobat...! Saya acungin jempol tuh...! Nah, sekarang Anda sudah tau bahwasannya manusia itu gak sempurna, terus mengapa Anda mau mengikuti liberal yang jelas-jelas mendewakan akal manusia? Padahal akal manusia kan terbatas dan gak sempurna...? Pikirkan lagi sobat...!

Debat Liberal dengan Sahabatku (bag 1)

0 komentar
Ini adalah debat yang terjadi di kolom komentar dalam Face Book, antar saya dengan sahabat saya. Saya rasa ini penting untuk diangkat karena ini adalah salah satu bukti bahwa arus liberalisasi Islam itu sangat deras. Sasaran utamanya adalah para intelektual atau para pemuda yang lagi puber intelektual, namun masih belum mempunyai pondasi yang kuat untuk menerimanya arus tersebut. Salah satunya adalah sahabat saya ini.
Berikut perdebatan tersebut:

Teman: Bergabung ma JIL gw y?

Saya: Apa...?
Siap-siap berhadapan sama ana tuh ente kalo gitu.....!

Teman: Yoi, but ana pendalaman dulu ne. Sedang belajar ma seniorku. Doakan ya biar misiku meliberalkan Indonesia tercapai. Khususnya Medan. Karena dgn semangat liberal Islam akan mendapatkan jaman keemasannya lagi setelah sekian lama tidur akibat ulah kaum beragama statis.

Saya: Alah...!
Pendapat ngawur itu....!
Mau-maunya tertipu daya oleh Barat....!

Teman: Saya tidak tertipu oleh pemikiran Barat. Andaikata orang tidak terlanjur percaya dan mensakralkan ulama-ulama perumus hukum-hukum Islam di awal kemajuan Islam, saya yakin semua orang kan menerima pemikiran liberal. Jadi bukan saya tau kami yang terdoktirin tapi memang fitrah kami yang merindukan perubahan dan kebebasan yang berorientasi pada kemajuan.

Saya: Tapi perubahan yang bagaimana...?
Perubahan yang nantinya akan keluar dari koridor Islam...?
Perubahan yang akan membawa kepada kebebasan tanpa batas...?
Cotohnya reformasi sekarang....!
Gak ada baik-baiknya negara kita ini...

Teman: Sama saja, ketika dunia keberagamaan menjadi penguasa juga hanya pembawa kemunduran. Sejak kapan penguasa beragama maju?? Masa jaman keemasan Islam contohnya masa itu tidak akan muncul andai kata tidak ada campur tangan Mu'tazilin di dalamnya.

Saya: Semuanya memang menghendaki kalau agama Islam ini maju, berkembang pesat seperti kejayaannya dulu. Memang juga gak bisa dipungkiri kalau kejayaan itu berada di masa Mu'tazilah.Tapi sepertinya Anda harus memahami dan meneliti kembali sejarah tersebut. Sejarah bagaimana mu'tazilah. Jangan samakan Mu'tazilah dengan Islam Liberal...!Oke...?
Terus Anda juga harus mempelajari dan memahami bagaimana Islam itu sebenarnya. Beserta seluruh komponen-komponennya. Anda juga harus tau perbedaan antara Islam dan Pemikiran Islam. Jangan asal nyelonong masuk ke tempat bahaya aja....!
Ana tau kok siapa ente. Setengah tahun kita sekamar, sudah cukup tuh mempelajari gimana ente.
Ana cuma gak mau, dari Perpus itu, keluar orang-orang yang pikirannya nyelenah.

Senin, 03 Agustus 2009

Dualisme Berbahaya

1 komentar


Tulisan ini sebenarnya adalah rewriting setelah membaca artikelnya ustadz saya, Ust Hamid Fahmy Zarkasyi yang judulnya “Dualisme” di situs INSISTS. Menurut saya masalah ini sangat penting sekali untuk diangkat dan diketahui orang banyak. Karena paham ini telah merasuk ke dalam pemikiran manusia modern.

Menurut Ust Hamid, paham dualisme ini telah lama mengakar di dalam pemikiran Barat. Dan apa pendapat yang mensinyalir bahwa Barat sendiri telah mengadopsi paham ini dari kepercayaan Zoroaster di Timur, sekitar 1000 tahun sebelum Masehi silam. Selanjutnya paham ini semakin berkembang di zaman Yunani melalui berbagai pemikiran filsafat, seperti Platoisme dan Aristotle. Dan perkembangan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Seperti apa sebenarnya paham dualisme ini?
Ini adalah paham yang menggabungkan antara kebajikan dengan kejahatan dalam satu wadah. Paham yang membenarkan percampuran antara keduanya. Orang yang berpikiran dualis akan melihat sesuatu itu secara mendua. Dia akan memisahkan peranan antara jiwa dan raga, antara perbuatan dan hati. Dan akhirnya dia akan berpendapat, perbuatan boleh melakukan kesalahan tetapi hati selalu dalam kebenaran. Mencuri boleh asalkan dengan niat baik. Menjadi pelacur silahkan saja asalkan dengan niat baik untuk menghidupi keluarganya.

Padahal dalam Islam ada suatu keterkaitan fungsi antara jiwa dan raga, antara niat dengan perbuatan. Dalam sebuah hadist shahih telah dijelaskan, “Innama al-a'mal bi al-niyyat”. Sesungguhnya segala perbuatan itu ada niatnya. Ada hubungan persamaan antara kebersihan jiwa dan kebersihan raga. Selain itu Islam juga telah menetapkan hukum yang harus ditaati dan tidak boleh sama sekali dilanggar dengan alasan yang tidak syar’i.

Tentu saja dualisme ini adalah paham yang sangat berbahaya. Paham yang telah dianut Barat selama beratus-ratus tahun ini terang saja juga ikut mempengaruhi umat di dunia pada umumnya dan Islam secara khusus lewat gerakan Westernisasi. Maka dari itu hal ini perlu diantisipasi bersama.

Mungkin ini secuil dari pengetahuan tentang dualisme. Anda bisa mempelajarinya lagi di situs http://insistnet.com. Syukron![]

Minggu, 02 Agustus 2009

Teh Hangat Untuk Indonesia

1 komentar


Sekarang kita sudah memasuki bulan Agustus di tahun 2009. Bulan yang penuh dengan sejarah bagi bangsa Indonesia. Bulan yang di dalamnya tertoreh tinta emas perjuangan para pahlawan Indonesia. Bulan yang telah mengeluarkan Indoensia dari belunggu penjajahan. Bulan yang sarat dengan makna-makna motivasi untuk perkembangan bangsa ini di masa yang akan datang.

Tentu sebagai bangsa yang menghargai sejarahnya, hari kemerdekaan yang sangat berharga ini tidak akan lepas dari peringatan. Peringatan hari kemerdekaan memang penting bagi kita. Peringatan hari kemerdekaan memang dapat membawa kita kepada semangat baru, seperti semangatnya para pahlawan untuk memerdekakan bangsa ini.

Ingat kata Bung Karno! Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah perjuangan bangsanya. Begitulah. Sejarah sangat berharga dalam kehidupan kita. Dengan sejarah lah kita bisa mengenal bangsa kita. Arti pentingnya sejarah tidak aka pernah tergantikan. Karena ia merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menghargai sejarahnya. Bangsa Indonesia menghormati sejarahnya dengan penuh keanggunan. Setiap hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, selalu mendapat tempat untuk diperingati. Namun apakah dengan demikian bangsa Indonesia sudah bisa dikatakan bangsa yang besar?

Peringatan demi peringatan tidak cukup untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Terkadang kita lupa makna dan maksud dari sebuah peringatan tersebut. Terkadang kita hanya sekedar asal menjalankan dan melaksanakannya saja. Terkadang sejarah yang begitu penting itu hanya lewat sepintas di depan mata. Terkadang kita memang lalai.

Apakah pernah adalah dalam benak kita semua, bagaimana seandainya para pejuang yang telah berkorban jiwa, raga, dan nyawanya itu melihat kondisi bangsa seperti sekarang ini? Apakah pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa mereka akan menangis? Apakah pernah kita berpikir bahwa meraka akan merasa perjuangannya sia-sia belaka?

Sadarlah kawan! Bangsa Indonesia sekarang ini tidak jauh lebih baik dari bangsa yang terjajah. Bangsa Indonesia ini pada hakekatnya terbelung dalam penjajahan. Penjajahan yang lebih menyakitkan dari penjajahan colonial. Penjajahan yang kita hadapi sekarang adalah penjajahan moral, penjajahan pikiran, penjajahan budaya, dan penjajahan indentitas bangsa.[]

Sabtu, 01 Agustus 2009

Rasa

4 komentar


Rasanya ingin ku luapkan
rasa yang ada dalam lubuk hati
dan rasa itu akan terus menghiasi hati

rasanya ingin ku ungkapkan
rasa yang penuh dengan warna-warni indah
dan rasa itu akan menjadi mimpi indah

rasanya ingin ku nyatakan
rasa yang memiliki kekuatan
dan rasa itu akan memberikan kekuatan

rasanya ingin ku katakan
rasa yang mempunyai keajaiban
dan rasa itu darinya akan ada keajaiban

Cinta!

Jumat, 31 Juli 2009

Menangislah Pemimpinku...!

0 komentar


Jauh di Indonesiaku sana
bangsa yang penuh dengan daya
daya alam, daya manusia
daya tenaga, daya cendekia
daya wisata, daya budaya

bangsa yang melimpah dengan nikmat Sang Pencipta

tapi di balik itu semua...
masih banyak anak bangsa
yang dibekam dalam duka
yang makannya susah
yang pendidikannya putus
yang usahanya pupus
yang hidup dalam kemiskinan
yang tenggelam dalam ketidakadilan
ketidakpastian, kebebasan, kekerasan, ketidakamanan

Wahai pemimpinku!
tidakkah engkau melihatnya?
tidakkah engkau mendengarnya?
tidakkah engkau memperhatikannya?
tidakkah engkau menghiraukannya?
tidakkah engkau merasaknnya?

Wahai pemimpinku!
Menangislah!
Menangislah untuk negeriku!

Minggu, 26 Juli 2009

Materialisme

0 komentar


Paham yang pada abad sekarang ini sudah menjamur di segala penjuru dunia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisai seperti ini, jamur ini semakin tumbuh subur. Zaman sekarang layaknya seperti musim hujan bagi paham yang satu ini.

Bila kita tinjau dari segi historis, sekitar abad ke-19 ada teori dari kalangan filusuf Yunani yang mengatakan bahwa materi sebagai landasan mutlak keberadaan dan menolak keberadaan apa pun selain materi. Materi dianggap sebagai hal yang abadi. Maka mereka juga mempercayai bahwa alam semesta tidak berawal dan alam semesta ada untuk selamanya. Dengan demikian mereka juga mengingkari adanya Sang Pencipta. Teori ini lah yang kemudian kita kenal dengan teori materialisme.

Tapi ternyata teori itu sangatlah rapuh dan akhirnya dunia ilmu pengetahuan pada abad ke-20 menemukan bahwa bumi itu ternyata diciptakan. Ini berawal dari ditemukannya teori baru yang dinamakan teori Ledakan Besar. Teori ini menyatakan bahwa pada mulanya system tata surya ini adalah sesuatu yang satu. Namun kemudian terjadi ledakan yang mengakibatkan terbentuknya planet-planet.

Sekarang istilah materialisme itu lebih kita kenal dengan paham yang mengedepankan uang atau benda kekayaan lainnya. Materi diartikan sebagai harta. Telah terjadi penyempitan makna. Sehingga paham ini kembali muncul dengan wajah baru.

Maka bagi siapa saja yang mengagung-agungkan harta, atau hidupnya hanya untuk materi saja, ketahuilah bahwa sebenarnya paham yang Anda anut itu paham yang menolak adanya Tuhan. Wallahu’alam.[]

Jumat, 24 Juli 2009

Antara Hati dan Logika

3 komentar


Sudah merupakan kodratnya kita diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan. Dan di antara pasang-pasangan itu ada suatu interaksi yang bersifat primer. Kita tidak dapat hidup sendirian, karana kita adalah makhluk sosial. Dan kita juga tidak dibenarkan egois, karena orang lain juga mempunyai haknya.

Dalam interaksi-interaksi sosial khususnya antara lawan jenis, terdapat suatu proses untuk menuju suatu anugrah Allah yang sangat indah. Anugrah yang tak ternilai harganya. Anugrah yang tidak ada tandingannya. Anugrah yang membuat segala sesuatunya menjadi indah. Cinta. Yup….! Itulah cinta.

Proses itu tergantung kepada individu yang menjalankannya. Bila kita sudah mencapai puncak proses itu, kita akan terbuai dalam singgasana cinta. Kita akan dimanjanya. Kita akan terlena dalam belaiannya.

Perlu kita ketahui bahwasannya terdapat perbedaan prinsip yang mendasar antara laki-laki dan perempuan dalam interaksi cinta ini. Perbedaan prinsip itu sedikit banyaknya juga akan mempengaruhi interaksi tersebut. Namun itu bisa diatasi.
Perbedaan itu adalah antara hati dan logika, perasaan dan realita. Dalam interaksinya, laki-laki biasanya lebih cenderung menggunakan logika dan melihat kepada realita. Itulah salah satu yang menyebabkan laki-laki itu jarang menangis dalam urusan cinta. Dalam urusan cinta, laki-laki selalu tegar dan bisa bersifat rasional.

Sedangkan perempuan lebih menggunakan hati mereka yang lebut. Hati tersebut memang mempunyai benteng yang kokoh. Tapi bila sudah dapat ditembus, hati tersebut akan benar-benar tunduk. Kelembutan hati dalam urusan cinta sering membuatnya meneteskan air mata. Entah air mata bahagia maupun duka. Dan terkadang karena perasaan yang mendalam itu, lupa akan realita yang ada.

Ini bukan pembelaan kepada laki-laki ataupun perempuan. Ini juga bukan diskriminasi antara keduanya. Tapi ini adalah kenyataan yang ada dari sekian banyak kejadian. Ini juga bukan berarti laki-laki tidak punya hati, atau perempuan tidak punya logika. Tapi ini adalah masalah dominasi. Kita tidak bisa memungkirinya. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada di antara kita yang tidak demikian. Karena tidak semua orang sama. Wallahu'alam.[]

Selasa, 21 Juli 2009

Semenanjung Sinai

2 komentar

Sinai merupakan salah satu bukti bisu sejarah perjalanan agama Allah SWT. Ini merupakan tempat yang sangat penting bagi umat Islam dan juga bagi umat Kristen. Ini merupakan semenanjung yang terletak di Mesir. Jarak yang dapat ditempuh dari Kairo sekitar 412 km.
Di Semenanjung Sinai ini terdapat Gunung Sinai yang juga terkenal dengan nama Jabal Mousa. Tingginya sekitar 2.285 meter. Gunung ini terletak di barisan pengunungan bagian selatan semenanjung ini. Waktu yang dibutuhkan untuk mendaki gunung ini biasanya sekitar 2-4 jam. Biasanya pendakian dilakukan pada malam hari berkisar jam 2 dini hari. Karena sebagian besar para pendaki ingin dapat menikmati indahnya sun rise di puncak gunung Sinai.
Di Semenanjung Sinai ini juga terdapat Jabal Thur dan Saint Catherine. Ini diyakini sebagai tempat suci. Karena di Jabal Thur inilah Nabi Musa AS berbicara dengan Allah ketika menerima wahyu, yang dikenal dengan Ten Commandents.
Di lembah Semenanjung Sinai ini juga terdapat biara Saint Catherine yang dibangun pada abad ke 6 M. Dan pada 4 Februari 1859, Codex Sinaiticus, sebuah manuskrip Perjanjian Lama dari abad ke-4, ditemukan oleh Konstantin von Tischendorf di kaki gunung Semenanjung Sinai ini.
Sekarang Semenanjung Sinai ini merupakan objek wista yang takkan terlewatkan bagi turis-turis mancanegara. Apalagi saat musim panas, objek ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.[]

Kematian Itu Sungguh Dekat

0 komentar

Kematian adalah suatu kepastian. Tak ada satu pun makhluk di alam ini yang kekal. Hanya Allah saja lah yang Maha Kekal. Kehidupan kita di dunia ini laksana mimpi belaka. Terkadang mimpi indah. Kadang juga mimpi buruk. Semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Dan suatu saat nanti kita akan bangun dari tidur panjang ini. Bangun lewat kematian.
Kematian itu sungguh terasa sangat dekat. Aku benar-benar merasakannya. Inilah salah satu hikmah yang aku ambil dari meninggalnya teman dekatku, Badrun. Beberapa menit lalu aku masih bercanda ria dengan dia. Tapi ternyata kuasa Allah berkata lain. Kegembiraan itu telah direnggut dari jiwaku dengan kematian dia. Kematian yang tidak pernah terduga. Dalam hitungan menit, bahkan detik, Allah telah mengambil dia.
Sekarang aku benar-benar sadar akan sebuah kematian. Kematian datang tidak dengan permisi. Kematian datang tanpa pamrih. Kematian datang tanpa malu. Kematian datang tanpa diundang. Kematian datang bias kapan pun dan di mana pun.
Lalu apakah kita siap untuk menghadapi kematian itu? Bagaimana jika saat kematian menjemput, kita dalam maksiat kepada Allah? Sempatkah kita bertobat? Kalau sekarang kita penuh dengan lumuran dosa, lalu kapan mau tobat?
Semoga kita selalu ingat dengan kematian. Karena dengan begitulah kita akan selalu ingin dekat dengan Allah SWT.[]

Jumat, 10 Juli 2009

Demokrasi Athena atau Demokrasi Islam?

0 komentar
Wacana tentang demokrasi ini sebenarnya bukan hal baru muncul di permukaan. Diskusi tentang demokrasi ini sudah lama terjadi di kalangan akademitas. Namun masalah ini ternyata juga tidak habis-habisnya dibahas. Hal inilah yang lantas bertanya-tanya tentang demokrasi itu.
Sebagian orang berpendapat dan meyakini bahwa demokrasi itu berasal dari sistem pemerintahan Athena yang dilaksanakan kira-kira sekitar tahun 500an sebelum Masehi. Tapi juga ada yang berpendapat bahwasannya konsep demokrasi itu juga berasal dari Islam, yaitu sistem yang diterapkan oleh Rasulullah ketika membangun negara Madinah.
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mengatasnamakan rakyat. Artinya rakyatlah yang sebenarnya berkuasa. Semboyan yang sering kita dengar tentang demokrasi adalah “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Ini semua berujung untuk mensejahterakan rakyat dan agar tidak adanya penindasan dari kalangan penguasa kepada rakyatnya.
Dalam sejarahnya, demokrasi Athena ternyata telah menorehkan tinta merah. Sejarah kelam ini sangat jelas terlihat. Pada masa itu, di dalam masyarakat Athena masih terdapat perbudakan dan penindasan terhadap wanita. Bahkan sepertiga dari penduduk Athena adalah budak. Dan yang lebih ironisnya lagi, Plato yang merupakan salah satu pencetus demokrasi Athena ini tercatat memiliki 50 budak.
Begitu juga dengan kaum wanita, posisi mereka tidak jauh berbeda dengan budak. Mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar baca-tulis. Karena menurut mereka, itu hanya akan menjadi boomerang bagi kaum laki-laki.
Lalu demokrasi inikah yang sekarang lagi diagung-agungkan?
Dalam Islam sendiri, masih terdapat perdebatan tentang konsep demokrasi ini. Apakah konsep demokrasi itu juga ada di dalam Islam? Apakah syuro itu sama dengan demokrasi? Apakah piagam Madinah itu sebagai simbol demokrasi dalam Islam?
Terlepas dari perdebatan itu, yang jelas kita perlu kembali mempelajari bagaimana sistem pemerintahan yang telah diterapkan Rasulullah dalam membangun negara Islam Madinah yang ketika itu masih terdapat kemajemukan umat beragama. Yang patut kita contoh adalah sistem pemerintahan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena sistem itu telah terbukti sangat ampuh untuk dijalankan dalam sebuah negara yang majemuk. Semua kalangan beragama dapat menerima dan menjalankannya dengan lapang, tanpa paksaan.
Sekarang tinggal kita saja lagi bagaimana memahami demokrasi itu. Apakah demokrasi yang telah berjalan di negara kita ini telah sesuai harapan? Dan demokrasi yang bagaimanakah yang diterapkan?[]

Rabu, 08 Juli 2009

Relativisme Tafsir

0 komentar
Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan saya pada pembahasan sebelumnya di kolom kajian yang berjudul Hermeneutika. Kalau sebelumnya itu kita telah mengenal sedikit tentang apa itu Hermeneutika, maka sekarang kita berusaha mempelajari dampak-dampak yang timbul dari konsep atau metode Hermeneutika ini.
Salah satu dampak yang sangat berbahaya dari Hermeneutika ini adalah adanya pemikiran tentang relativisme tafsir. Hal ini memasuki bidang tafsir kerena Hermeneutika yang lebih kental dengan metodelogi Bible ini memang digunakan untuk menafsirkan al-Qur'an.
Istilah relatif dalam bahasa arab mungkin lebih kita kenal dengan kata dzonni. Sesuatu yang bersifat dzonni tentu saja membawa kepada pemahaman yang menafikan adanya kebenaran yang qoth'i. Pemahaman ini sangat jelas bertentangan dengan konsep yang ada dalam Islam, karena Islam mempunyai hokum-hukum yang qoth'i dan tidak bisa dirubah-rubah lagi kapanpun dan dimanapun. Seperti hukum shalat lima waktu adalah wajib, haramnya babi, haramnya pernikahan muslimah dengan lelaki non-muslim, dan lainnya. Ini adalah hukum yang qoth'i dan tidak bisa dirubah lagi.
Relativisme tafsir ini muncul karena dalam Hermeneutika, al-Qur'an itu diposisikan sebagai produk budaya atau karangan manusia yang bebas ditafsirkan sesuai dengan kondisi zaman. Al-Qur'an lewat Hermeneutika ditafsirkan secara kontekstual. Sehingga prosuk tafsir yang dihasilkan bersifat relatif, karena disesuaikan dengan kondisi dan zaman.
Ini tentu saja sangat berbahaya dan sangat menyesatkan. Maka tidak heran dari Hermeneutika ini akan muncul hokum-hukum baru yang lebih relative dan sesuai dengan zaman yang mengubah hukum-hukum yang telah qoth’i. Misalkan ayat al-Qur’an yang mengharamkan pernikahan muslimah dengan lelaki non-muslim yang ditafsirkan dengan kontekstual, maka produk yang dihasilkan adalah hilangnya larangan pernikahan tersebut alias diperbolehkannya pernikahan muslimah dengan non-muslim.
Banyak lagi dampak-dampak yang bahaya yang dihasilkan dari penerapan metode Hermeneutika ini. Tulisan hanya mewakili secuilnya saja. Insya Allah pada kesempatan lain akan kita bahas lagi. Wallahu’lam.[]

Sabtu, 04 Juli 2009

Adopsi Peradaban

0 komentar
Islam pada sejatinya adalah sebuah peradaban yang maju. Diutusnya Nabi Muhammad SAW bukan saja mengajarkan agama Islam, melainkan jauh lebih dari itu adalah membentuk suatu peradaban baru, yaitu peradaban Islam. Hal ini terbukti dari banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi setelah diutusnya beliau. Bahkan hal itu telah melekat dalam istilah yang sering kita dengar "shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita keluar dari zaman kegelapan dan jahiliyah kepada zaman yang terang-benderang, penuh ilmu pengetahuan dan hidayah".
Kemajuan peradaban Islam ini terus bertambah maju sampai kepada zaman Khulafah Ar-Rosyidiin dan zaman khilafah Usmaniyah. Kurang lebih sekitar 10 abad lamanya. Kemajuan itu terlihat sekali dari kebudayaan dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Di mana saat itu Islam mencapai puncak kejayaan ilmu pengetahuannya.
Dalam proses pembentukan peradaban semacam ini, tentunya Islam juga paling tidak telah mengambil atau belajar dari beberapa peradaban yang telah maju sebelumnya, seperti Yunani. Contohnya Islam banyak mempelajari filsafat Yunani yang kemudian diterapkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Proses itu banyak dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu, di mana mereka banyak mempelajari filsafat Yunani yang ketika itu maju. Namun tentu saja proses itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan filter, tidak hanya diambil secara mentah-mentah atau copy paste saja. Dan ini lah yang disebut dengan proses Islamisasi ilmu pengetahuan.
Namun ternyata kemajuan dan kejayaan peradaban Islam seperti itu telah menarik Barat untuk mempelajarinya. Barat sangat tergoda sekali untuk mengadopsi ilmu pengetahuan Islam dan bahkan kebudayaannya. Maka dari itu dilancarkanlah suatu gerakan yang berusaha mewujudkan impian mereka tersebut, yaitu imperialisme.
Sejak adanya imperialisme Barat secara besar-besaran, umat Islam seakan dibuat tak berkutik lagi. Peradaban Islam yang dulunya jaya, sekarang seakan sudah sirna dan musnah. Umat Islam sudah seperti terjajah.
Padahal pada sejatinya peradaban Barat telah banyak berhutang kepada peradaban Islam. Mereka telah banyak mengadopsi kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam. Namun mereka ternyata malah menafikan itu semua. Mereka telah lupa pada kulitnya. Mereka telah mengklaim bahwa mereka maju atas usaha mereka sendiri. Bahkan mereka telah menutup segala pintu yang akan membuka kepada hutang peradaban Barat tersebut.
Salah satu contoh, mereka selalu mengklaim bahwa ahli astronomi adalah dari mereka. Mereka menyebutkan nama-nama seperti Galileo dan Copernicus. Tapi mereka tidak menyebutkan kalau sebenarnya mereka telah berhutang banyak kepada astronom Muslim, Ibnu Sathir.
Itu merupakan hal yang jelas tidak bisa diterima oleh umat Islam. Karena Barat tidak akan pernah mengenal peradaban Yunani kalau tidak melalui Islam. Barat tidak bakal pernah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan kalau bukan dari Islam.
Sekarang hal itu semua telah membalikkan keadaan. Umat Islam sekarang lagi tercengang dengan kemajuan peradaban Barat sekarang. Banyak umat Islam yang lantas mempelajari kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Barat. Tidak sedikit pula orang Islam yang langsung datang ke Barat guna mengadopsi peradaban mereka.
Hal ini sebenarnya lumrah saja terjadi. Suatu peradaban yang lagi maju memang selalu mendapat sorotan. Namun tentunya itu semua tidak bisa begitu saja dilakukan secara copy paste. Kita tetap mempunyai aturan yang berlaku. Dalam proses mempelajari peradaban Barat ini, kita harus selalu bersikap kritis. Yang harus kita lakukan adalah Islamisai ilmu pengetahuan seperti yang telah dilakukan ulama-ulama terdahulu terhadap peradaban Yunani. Bukan malah mendukung westernisasi. KArena kita tetap berbeda dengan Barat. Karena kita memiliki worldview atau pandangan hidup yang berbeda.
Saya rasa untuk sementara sampai di sini dulu. Selanjutnya hal ini akan kita bahas lagi, insyaAllah.[]

Jumat, 03 Juli 2009

Tipu Muslihat Obama dan Yahudi Israel

0 komentar


Saya rasa masih terngiang-ngiang sekali di telinga kita peristiwa kebiadaban Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Serangan brutal selama lebih dari tiga pekan itu sudah membuat bumi Gaza seperti kota mati. Sudah menewaskan lebih dari 1500 jiwa. Belum lagi penderitaan rakyat Palestina yang sangat berat setelah perang. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal lagi, terpisah dari keluarga, menderita cacat, kesulitan air bersih dan listrik, dan penderitaan lainnya.
Kondisi seperti itu tentu saja mendapat sorotan lebih dari dunia Internasional, apa lagi dari dunia Islam. Terang saja banyak umat Islam di seluruh dunia yang berunjuk rasa mengecam kebiadaban Zionis Israel. Bahkan umat non-Islam pun juga banyak yang memprotes aksi Israel tersebut dengan alasan kemanusiaan. Tak berlebihan juga bila ada beberapa negara yang langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel.
Beberapa saat sebelum pecahnya agresi Israel ke Palestina pada tanggal 27 Desember 2008, terjadi juga kejadian yang menghebohkan seluruh penduduk dunia, yaitu krisis financial Amerika Serikat yang sampai sekarang dampaknya masih sangat terasa. Banyak orang beranggapan bahwa krisis financial Amerika berarti juga krisis financial dunia. Dan terbukti, banyak negara-negara yang terkena imbasnya, termasuk Indonesia.
Dua peristiwa besar inilah yang mewarnai akhir tahun 2008 kemaren. Dua peristiwa yang kalau kita amati dan pikirkan dengan akal sehat sangat bertolak-belakang. Di satu sisi terjadi krisis financial Amerika yang begitu dahsyat. Di sisi lain terjadi pembuangan uang besar-besaran untuk anggaran perang. Sementara itu sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika adalah negara yang paling nomer satu berada di belakang Israel dan mendukung setiap tindakan Israel. Mungkin ini bisa menjadi catatan kritis awal kita terhadap dua peristiwa besar yang terjadi hampir bersamaan ini.
Tapi di tengah dua peristiwa besar ini, masyarakat dunia tidak lantas berputus asa dan pesimistis. Karena telah muncul seorang tokoh atau mungkin figur yang dianggap dapat menyelesaikannya, yaitu presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama. Dari awal-awal kempanye politik menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, banyak kalangan yang menilai bahwa sosok ini lah yang dapat dipercaya untuk membuat suatu perubahan dan perbaikan pada krisis financial Amerika. Dan saat-saat menjelang pelantikannya sebagai presiden Amerika, tidak sedikit orang juga yang berpendapat dan menaruh harapan kepada Obama untuk dapat menyelesaikan krisis Timur Tengah yang sudah terjadi berkepanjangan.
Tak hanya itu, sosok Obama bahkan sudah banyak sekali menjadi inspirasi dan bahkan motivasi bagi masyarakat di berbagai penjuru dunia. Karena dengan terpilihnya ia sebagai presiden Amerika kulit hitam pertama, maka dianggap ia sudah dapat menjadikan hal sebelumnya tidak mungkin menjadi mungkin. Maka tak ayal juga jika akhirnya orang banyak yang memuja-muji sosok yang satu ini. Bak seorang pahlawan di akhir zaman. Terlebih lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia yang merasa bangga dengan Obama, yang hanya dikarenakan ia pernah tinggal dan bersekolah di Menteng, Jakarta.
Maka sebenarnya kejadian ini semua, kalau boleh saya katakan hanyalah tipu muslihat kaum missionarisnya kaum Yahudi untuk menguasai dunia dan khususnya untuk menghancurkan umat Islam. Dengan kata lain, kejadian yang telah disebutkan di atas tadi adalah rekayasa kaum Yahudi belaka. Ini sangat mungkin sekali dilakukan oleh Yahudi, karena ia akan menempuh berbagai cara untuk melumpuhkan rival abadinya, Islam. Walaupun harus dengan dana yang sangat besar dan kebohongan yang sangat rapi.
Contoh lain yang dapat menguatkan pendapat ini adalah kejadian WTC beberapa tahun silam. Dengan rekayasa Yahudi yang rela menghancurkan gedung pencakar langit yang megah itu dan menuduh bahwa kaum teroris lah yang melakukannya, akhirnya Amerika berhasil membuat image baru bagi dunia bahwa Islam adalah agama teroris. Bahkan dengan dalih itu juga Amerika dapat memerangi Afganistan yang dituduh sebagai sarangnya teroris Jaringan Al-Qaida.
Sementara tipu muslihat melalui tokoh Obama adalah strategi baru yang diluncurkan Yahudi untuk menusuk Islam dari dalam. Setelah mereka berhasil membuat berbagai figur-figur melalui dunia intertaiment lewat kemajuan teknologinya yang akhirnya banyak ditiru dan didewakan oleh generasi muda di berbagai belahan dunia, tidak ketinggalan juga generasi Muslim. Sekarang Yahudi mencoba untuk menyihir dunia agar mendewakan sosok seorang pemimpin Obama yang dipercaya akan mengadakan perubahan. Perubahan seperti apa?
Sekarang Obama pun menempuh cara baru dalam rangka untuk menguasai dunia. Setelah dengan cara kekerasan dan senjata yang dilakukan presiden Bush tidak ampuh, maka Obama mencoba melakukan perubahan cara, yaitu dengan kekuatan kata-kata.
Hal ini pun sangat sejalan dengan kata seorang missionaris Henry Martyn. Ia mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.
Dalam hal ini kaum Yahudi juga telah membuktikan akan kekuatan teror "kata" dan "kasih". Begitu dahsyatnya sehingga mampu menghancurkan imperium besar (Utsmani) yang telah berusia hampir 700 tahun. Sejarah telah mencatat bahwa bagi Zionis, Turki Utsmani adalah penghalang utama mewujudkan negara Yahudi di Palestina. Turki Utsmani sulit dihancurkan dengan senjata. Maka untuk menghancurkannya, Yahudi menempuh cara lain yaitu melalui organisasi Committee and Union Progress (CUP) yang beranggotakan para cendekiawan Turki yang telah ter-Barat-kan (westernized).
Dan dalam skenario dua peristiwa besar tadi, Yahudi paling tidak telah memakai pepatah “sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui”. Tidak hanya membunuh ribuan umat Islam di Palestina, mareka juga telah membunuh hati umat Islam agar menaruh harapan kepada orang Kafir. Sedangkan umat Islam tidak dibolehkan menaruh harapan apa pun kepada orang kafir. Seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali-‘Imran: 28)
Maka umat Islam dalam hal ini sangat diharapkan sekali untuk selalu waspada dan hati-hati kepada tipu muslihat kaum Yahudi. Karena walau bagaimanapun mereka tetap menjadikan kita sebagai musuh abadi yang ditakuti. Dan mereka selalu berusaha dengan berbagai cara untuk menghancurkan kita. Waallahu a’lam.[]AS
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template