Sabtu, 29 Mei 2010

Bahaya Film "Cin(T)a"



Bismillahirrahmanirrahim.

Aku yakin teman-teman juga sudah ada yang nonton film ini. Jadi, kalo dibilang basi, itu memang wajar juga. Karena film ini sudah dirilis tahun 2009 lalu. Namun, tidak menutup kemungkinan juga kan, ada teman-teman yang belom nonton nih film, dan nanti akan menontonnya. Aku juga tergolong orang yang baru nonton dan baru tau kok sama film ini. Tepatnya kemarin malam aku nonton film ini.

Ketika pertama kali nonton sih sepertinya seru dan unik. Gimana tidak unik, wong pemeran filmnya aja cuman 2 orang kok. Kisahnya menceritakan sepasang kekasih yang berbeda agama yang saling jatuh cinta. Yang laki-laki dengan nama Cina itu beragama kristen, dan perempuan dengan nama Annisa itu Islam. Keduanya sama-sama sekolah di fakultas Arsitektur ITB.

Setelah mengikuti sampai habis film ini, aku langsung menilai kalau film ini membawa misi Pluralisme Agama, Kristenisasi, dan bahkan Ateisme. Bahkan aku langsung menuliskannya di status Facabook. ^_^. Ternyata emang betul demikian adanya. Pendapatku ternyata tidak sendiri. Setelah mencari tau tentang film ini, aku dapati sekian banyak kritikan dan protes atas film ini. Bahkan aku mendapatkan rekaman wawancara eksklusif dengan sutradara film tersebut, Sammaria Simanjuntak,seorang yang beragama Kristen. Dan dari penuturannya, dia sendiri mengakui bahwa dia adalah salah satu orang yang sulit untuk percaya Tuhan begitu saja.

Untungnya aku dapat mernafas lega sedikit, ketika aku telusuri film ini di LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia, ternyata film ini tidak lulus sensor. Dan aku cari di Studio 21 pun juga demikian, ternyata tidak terdapat film yang kontroversial ini. Artinya, film ini belum banyak diketahui khalayak ramai, dan penyebaran filmnya pun hanya diam-diam. Namun film ini juga pernah ditayangkan sih waktu ia diikutkan dalam festival film di Yogjakarta pada Agustus 2009 lalu. Ketika itu terdapat sekitar 250an orang yang menonton film ini. Selain itu juga pernah tayang di Inggris. Tapi yang palign cuman gitu-gitu aja, dan masih tidak banyak masyarakat awam yang tau tentang film ini.

Nah, aku yakin banget jika kita (apalagi remaja) dilarang terhadap sesuatu, maka keingin tahuan terhadap sesuatu yang dilarang itu semakin tinggi. Maka tidak menutup kemungkinan juga, ada dari teman-teman yang justru penasaran dengan isi film ini, lalu mencari dan menontonnya. Ya, itu sih wajar saja, dan silahkan saja. Tapi dengan syarat, ketika nonton film itu harus hati-hati, dan jangan sampai termakan nilai-nilai yang ada pada film itu. Gunakanlah daya kritis kalian sebagai orang yang berworldview Islam.

Untuk itulah aku ingin ngasih tau beberapa catatan penting yang perlu kita perhatikan dalam adegan-adegan dan dialog di film ini. Ingat! Kalo aku boleh bilang ya, setiap dialog yang ada dalam film ini, sarat dengan misi filofis tersendiri. Maka kalau kita tidak jeli melihatnya, brabe deh kita jadinya ntar. hehehe...!

Beberapa catataku sebagai berikut:

1. Dari judul film ini saja sudah terkesan misterius dan terdapat makna tersembunyi di balik itu semua. Judulnya "Cin(T)a". Maksudnya, menceritakan tokoh laki-laki dalam film itu, yang namanya "Cina". Sedangkan huruf "T" yang di dalam kurung apa donk...? Kalo aku berpendapat sih (wallahu'alam), itu salah satu misi kristenisasi. (Bukan maksudku su'udzon ato buruk sangka lho ya...! Tapi ini adalah bentuk kehati-hatian). Huruf "T" adalah lambang salib. Mengapa aku ber[endapat demikian? Pertama, karena sutradara dari film ini sendiri adalah seorang Kristen, yang sangat kental dengan kekristenannya. Kedua, Cina yang menjadi tokoh utama dalam film itu memang beragama Kristen.

2. Film itu sangat tidak adil terhadap Islam. Maksudnya, dari segi penokohannya, Cina dilambangkan sebagai orang yang sangat alim dan konsisten terhadap agamanya. Sedangkan si Annisa, tokoh wanitanya yang beragama Islam, digambarkan bukan sebagai muslimah yang konsisten terhadap agamanya. Mengapa demikian? Karena Annisa di dalam film ini diperankan sebagai artis. Sehingga dengan alasan itulah, oleh sutradara ia tidak dipakaikan jilbab, membuka aurat, dan bebas bersentuhan, berdekatan, dan berpegangan tangan dengan laki-laki. Yah, aku akui sih, itu memang salah satu kecerdasa sutradara dalam film ini. ^_^

3. Menghina terhadap nama Annisa yang diambil dari Al-Qur'an. Ini terdapat dalam dialog ketika Cina ditanya nama aslinya oleh Annisa. Cina menjawab kalau nama dia itu memang Cina. Terus Annisa nyeletuk "Tega banget ya bokap loe, udah tau cina, masih dikasih nama Cina...!" Lantas si Cina itu menjawan dengan cerdar pernyataaan Annisa itu. Dan malah menyerang balik dengan berkata, "Udah tau perempuan, malah dikasih nama Annisa." Tidak hanya sampai di situ, dalam dialog itu juga terdapat penghinaan terhadap nama surat Annisa sebagai surat di Al-Qur'an yang sangat sadis dan tidak tolerir dengan wanita, karena di dalam surat Annisa terdapat ayat yang menganjurkan untuk memukul wanita. Ini distorsi penafsiran!

4. Meremehkan Tuhan. Ini terdapat dalam dialognya si Cina yang mengatakan, "Emang arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak terpikirkan kalau ada rancangan yang lebih baik!" Coba kalian pahami dan teliti benar-benar di kalimat ini! Kalimat ini menunjukkan kalau Tuhan itu tidak kuasa. Ini dapat dibuktikan dengan mafhum mukhalafahnya. Seperti ini, "Emang arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak terpikirkan kalau ada rancangan yang lebih baik. Artinya rancangan tuhan itu belum tentu baik, karena ada rancangan lagi yang lebih baik dari Tuhan!" Kalo ada yang salah dalam pemaham aku di poin ini, tolong kasih komen dan kritikannya aja ya...! Kali aja kan kali sependapat dengan statment itu. hehehe...!

5. Neraka disamakan dengan perumahan atau permukiman kumuh. Ini terdapat dalam dialog Annisa ketika makan bakso dengan Cina di pinggiran permukiman yang kumuh. Lantas aku bertanya-tanya, emang neraka masih seenak permukiman kumuh ya...? Wah, kalu gitu gak serem amat sih neraka. hehehehe....!

6. Dialog Annisa yang mengandaikan kejadian yang sudah terjadi dan cenderung meremehkan dakwahnya Nabi Muhammad SAW. Annisa mengatakan, "Tuhan itu sangat sutradara banget! Kalau Allah ketemu Nabi Muhammad zaman sekarang, pasti bikinnya film". Alasan dari statment Annisa itu adalah, generasi kita tidak mempan dikasih tulisan, karena kita adalah generasi yang get philosofi in the movie.

7. Mengajarkan untuk tidak konsisten dengan ajaran agama. Ini terdapat dalam dialog Annisa yang ngomong, "Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi loe ntar!?"

8. Sangat meremehkan agama. Salah satu buktinya terdapat dalam dialognya si Cina, yang mengatakan bahwa agama itu murah harganya, hanya seharga lima ribuan, dan dapat dibeli di tiap simpang. Ini secara tidak langsung mengasumsikan bahwa pindah agama itu boleh dan mudah sekali dilakukan.

9. Mengurangi kekuasaan Tuhan. Ini terdapat dalam dialognya Annisa yang mengatakan, "Kalo gitu mengapa Tuha menciptakan Ateis? Capek tau disembah dan dipuji setiap orang dan setiap saat". Sejak kapan Tuhan bisa capek...? Lagian juga kebesaran Tuhan itu kan bukan karena ibadah umatnya. huuuhhh...! Ada ada aja tuh Annisa...!

10. Tuhan dianggap mengkotomi dan cenderung membeda-bedakan manusia. Ini terdapat dalam dialognya Cina ketika ditanya oleh Annisa: "Emang Tuhan suka yang kayak apa?" Jawab Cina "Yang IP-nya di atas 3". Cina juga bilang kalau hanya dia dan Tuhan saja yang bisa cinta kepada Annisa bukan karena kecantikannya, tapi karena Annisa kaya! Wah, kalo gitu, Tuhan gak seneng sama yang miskin donk....? :(

11. Cina meremehkan hukum Islam. Ini terdapat dalam adegan ketika Annisa secara bercanda menempeleng muka si cina, dan Annisa bilang kalau dalam agamanya diajarkan, jika kamu ditampar pipimu, maka kamu balas juga dengan menampar pipinya. Namun kemudian Cina menjawab, "Semangat balas dendam dicampur dengan semangat menyalahin orang lain." Dia tambahkan bahwa hukur seperti itu tidak bisa menciptakan perdamaian dunia.

12. Semangat pluralisme agama yang sangat jelas. Terdapat dalam perkataan Annisa yang bilang, "Kenapa Tuhan ciptakan kita beda-beda, kalau Allah hanya mau disembah sengan satu cara?"

13. Lagi-lagi meremehkan Tuhan. Ini dari perkataan Annisa lagi ketika menyanggah perkataan si cina dengan mengatakan, "Siapa sih loe, coba nyelesaiin konflik agama di dunia? Tuhan aja gak bisa!

14. Adegan berdoa sebelum makan yang dilakukan Cina dan Annisa sangat kental juga dengan pluralisme. Annisa berdoa seperti ini, "Tuhan yang kami sebut dengan berbagai naman. dan yang kami sembah dengan berbagai cara" ....

15. Penyalahgunaan ayat Al-Qur'an beserta penafsirannya. Di dalam adegan film itu dibacakan ayat ke-62 dari Surah Al-Baqarah yang menyatakan bahwa umat Islam, Yahudi, Nasrani, dan Shobi'in bisa masuk surga dengan amal baik. Ayat ini memang salah satu ayat andalan bagi kalangan yang gencar menyuarakan pluralisme agama. Padahal sudah banyak ulama yang mengupas habis mengenai tafsiran dari ayat ini. hehehe...! Udah lagu lama tuh...! hahaha..!

16. Annisa turut merayakan natal bersama Cina. Meskipun Annisa menyatakan dalam dialognya kalau Natal itu tidak ada dalam Islam, dan orang Kristen itu dianggap salah oleh Islam.

17. Menyindir Islam yang melarang kapitalis. Cina said, "Mak...! Kapitalis pun gak boleh sama agama kau..!? Bisa penuh ntar neraka kau...!".

18. Menyudutkan umat Islam di Indonesia, dengan menyuarakan berita yang mengupas tentang pengeboman terhadap gereja-geraja pada malam Natal, yang disinyalir dilakukan oleh umat Islam.

19. Bahkan film ini sangat tidak nasionalis. Cina menganggap konsep Pancasila telah gagal untuk merukunkan umat beragama di Indonesia, yaitu dengan menurunkan lambang Garuda Pancasila yang terpampang di dinding kamarnya. Oh iya, selain itu ya, nih film juga ternyata tidak mengakui SBY dan Boediono sebagai pemimpin negara kita. Buktinya, foto dia tuh yang dipacang mendampingi Garuda Pancasila. hehehe...!

20. Di ending cerita ini, bau-bau Ateisme sangat keciuman sekali. Cina mengatakan, "Lebih baik gak usah ada Tuhan. Gak usah ada agama!"

Itu dulu sih yang baru bisa aku dapatkan dari film Cin(T)a itu. Mungkin teman-teman lain bisa menambahkannya. Dan yang terpenting, kalo kamu nonton film ini, hati-hati banget ya dengan setiap dialog yang ada dalam film itu.

Oke deh itu aja...!
Thanks atas perhatiannya.
Kalo ada teman-teman yang gak setuju dengan pendapat aku di atas.
Silahkan kasih komen aja di noteku ini.

56 komentar:

ayas on 23 Juni 2010 23.07 mengatakan...

keren bgt postingannya

Anonim mengatakan...

saranku klu nonton film ini plis jangan disikapi dari segi agama.....
itu aja...

Anonim mengatakan...

saya seorang muslim dan setelah nonton film ini justru ngerasa di kritik abis2an. dan membuat saya tidak main2 dalam menjalankan perintah agama saya. intinya kita mesti open minded saat nonton film ini

Anonim mengatakan...

di dunia hanya ada 2 jenis manusia, manusia yang baik dan manusia yang buruk.
agama apapun, tidak diajarkan untuk mencela.
lakum dinukum waliyadin.
agamamu, agamamu. agamaku, agamaku.
husnudzon jauh lebih baik daripada suudzon,,.
keimanan itu hanya pemeluknya dan Tuhan yang Tau.

Lex dePraxis on 12 Agustus 2010 00.14 mengatakan...

Saya baru post trailer Cin(T)a versi Inception! Coba cek deh di sini http://www.youtube.com/watch?v=DMJ3E6xopRM

Salam kenal.

Lex dePraxis
Unlocked!

free software, software gratis on 15 September 2010 06.28 mengatakan...

assalammualaikum wr wb.
saya penganut islam,
tapi saya suka film ini. sorry no offense.
unik karena mau mengangkat masalah tabu.
setidaknya inti dari film ini mengangkat tentang cerita cinta.
ada yang menikah beda agama, hmm itu pilihan mereka.
toh akhirnya dalam cerita film di atas, mereka akhirnya tidak jadi menikah.... :)
wassalammualaikum wr. wb.

celinekuhan on 21 November 2010 08.54 mengatakan...

endingnya menurut saya bukannya mengajarkan kita untuk BERATHEIS.. tapi mengajak kita untuk semakin meningkatkan rasa toleransi antar agama... cina "menjadi" atheis dan meninggalkan Tuhan, karena merasa putus asa thd toleransi agama yang ada di Indonesia

Anonim mengatakan...

gini aja dech,,buat yg nulis,,loe buat aja film yg bagus dan menurut loe pantas dikonsumsi masyarakat..!!!

emang gini nie wataknya org indo,,yg hanya mau mengkritik tapi ngga' mau ngasih solusi..!!!!

ok??ditungguin loh film buatan loe..!!!!

Anonim mengatakan...

menurut gw film cin(T)a itu good..
dalam film tuh mengajarkan buad kita untuk MENGAHARGAI PERBEDAAAN. semuanya itu tergantung manusianya, pilihan ada di manusia itu masing*...
jangan liad sesuatu dari pikiran sempit atau satu segi pandang, tapi lihat lah dengan cara segi pandandang yg luas...
ok...!!!!
jd jgn saling mengejek agama satu sama lain biar tidak terjadi KONFLIK.

Anonim mengatakan...

saya baru aja nonton film cin(T)a. menurut gw film itu bagus banget. keren dan kreatif. mereka mampu memikirkan sesuatu yang belum tentu bisa dipikirkan oleh kita. jangan meremehkan filmnya. sebaliknya, film ini dapat menjadi panutan dalam membuat film yang lebih kreatif :)

planetperikecil on 9 Februari 2011 22.03 mengatakan...

soal kayakinan kalau dibikin fiksi berbentuk apapun pasti mengundang diskusi yg menarik.

cin(T)a jg. selain dr analisa anda diatas sy jg teringat salah satu dialog yg mengatakan:
Cina dalam film Cin(T)a : Agama udah jadi propaganda yang murah dan efektif sepanjang sejarah bunuh-bunuhan manusia. Kita dikasih privilege buat belajar! Kewajiban kita buat pelopori perdamaian. Orang bodoh dan tak tau apa-apa lebih mudah untuk diprovokasi!

dr sini saya menyimpulkan, film ini sebenarnya tidak mengangkat sesuatu yg membuat perbedaan keyakinan bersinggungan, tapi malah berdampingan. endingnya jg bagus, mrk tahun mrk ga bs menyatu krn perbedaan mendasr itu tp ttp aja mrk berteman. isnt it nice?

Anonim mengatakan...

wah, TS musti nonton lagi nih, catetannya banyak yang harus dicoret tuh.. nonton film ginian mustinya diawali dengan open minded, bukannya dengan defensif. ya, lakum dinukum waliyadin lah.. serap sebagai hiburan, bukan sebagai gerakan ofensif. kapan mau bertoleransi kalo sama ginian doang kemudian bikin ribut2..? banyak hal yang realistis, bukan penghinaan.. tapi memang kejadian kemudian di filmkan. menurut ane yah, TS.. sutradara nih.. ngajak damai, bukan ngajak rusuh. all choice is yours gituh. TS kayaknya punya masalah buat nerjemahin suatu konteks karena sifat defensif TS sendiri. Satu aja nih, ane contohin sama TS : "yakin loe mau sama gue...? tuhan gw aja berani gw khianatin, apalagi loe ntar" dikonteks itu justru annisa nekenin konsistensi dia sama tuhannya. gini cara bacanya kalo bentuk kalimat gak langsung: Annisa bilang kalo tuhan yang dia sembah juga berani dia khianatin, apalagi ntar si cina yang cuma orang. wallahu'alam bishshawab, husnodzan aja TS, kita yang mayoritas seharusnya ngayomi. bukannya jadi semena2 dan seenaknya bersifat senggol bacok.

Prahastia K. Putri on 30 November 2011 22.03 mengatakan...

Assalamualaikum wr. wb.

Wah..justru orang2 seperti masnya ini yang memicu adanya orang bikin film seperti ini.

Kalau mau nulis seharusnya mas lebih banyak referensi dan data tentang filmnya yah. FYI, penulis film ini adalah Sally anom Sari yang merupakan seorang muslimah. Tidak ada alasan buat dia u/ melakukan kristenisasi dong, Sammaria (sutradara) hanya memainkan perannya untuk menDIRECT walaupun dia menulis sedikit skripnya.

Ohya, by the way masnya udh tau belum sih kalo cin(T)a itu singkatan dari CINa (Tuhan) Anisa? mana tanda salibnya?

Well, terlalu banyak sanggahan mas yang menurut saya masih sangat common sense. Walaupun film ini mudah u/ dicerna, tapi u/ menganalisa film ini butuh berkali2 nonton, dan datang langsung ke talkshownya, oke?

Wassalamualaikum wr. wb

Nb: tentu saja film ini ga masuk jejeran 21, karena ini basically film indie yg u/ promosinya hanya lwt pemutaran&talkshow ke kota2.
Dan, kalau mas liat dvd originalnya buatan Jive, tentu ini sudah lulus sensor. Sekali lagi, referensi please.

Anonim mengatakan...

Menurut saya ya film ini jangan di sikapi dengan sisi dari kita sebagai umat islam. Maksudnya ga gitu ko. Emang rada berat jadi semua orang bisa salah penafsiran tentang film ini. Sutradara hanya menyuarakan apa yang ada di pikiran masyarakat selama ini. Percuma hidup maju kalo ga bisa nerima argumen orang. Mungkin dari diri andanya sendiri saja yang terlalu kolot. Sutradara bikin film itu ga main2. T artinya salib? Cerita dari mana? Umat kristen juga ga kenal salib dari huruf T. Coba anda sedikit open minded. Jangan kolot gitulah. Kita ini di indonesia agamanya banyak. Jadi sama2 harus punya tenggang rasa. Kalo anda ga bisa tenggang rasa, ga bisa open minded, percuma anda lulus SD ikut pelajaran kwn. Saya juga islam ko. Tapi saya mencoba untuk membuka jalan pikiran saya. Melihat dari berbagai sudut pandang. Jadi mohon kalo menjudge sesuatu itu ya jangan cuma dari 1 sisi. Allah ga pernah ngajarin untuk menjudge sesuatu yg belum jelas.

4nd1 on 25 Desember 2011 20.21 mengatakan...

bwt ts, gw muslim. tp hampir smua kekonyolan cra berpikir lo itu pngen gw bantah. kasarnya ya, otak lo itu trlalu anak2 n dangkal untuk bs nerima pemikiran yg kritis. yg penulis cerita lakukan tu hanya berdasarkan realita. lo kritik annisa yg ga pke jilbab, skrg gw tanya, silahkan lo bkin prbandingan artis muslim yg berjilbab n ga brjilbab. saya ngutip kata2nya noe dalam video klip letto - senyumanmu " mikir kui ra nganggo dengkul ae, pisan2 nggo ati ben waras, iling"

Anonim mengatakan...

poin : "siapa lo berusaha nyelesain konflik agama? tuhan aja nggak bisa"
setau gue nggak ada kalimat 'tuhan aja nggak bisa' setelah kalimat 'siapa lo berusaha nyelesain konflik agama' tapi kalimat setelah itu 'the less you can do is jangan coba bikin konflik baru disini'
tonton lagi deh filmnya. posting lo nyinyir sebelah.
judul cin(T)a itu maksudnya 'cin' dari CINA, (T) dari Tuhan dan 'a' dari anissa. lo search lagi apa arti judul ini. teori lo ga masuk akal banget kali ngira itu salib.
kalo semua orang islam kaya lo, justru yang bikin propaganda kerusuhan antar agama ya lo sendiri, salah satunya dengan posting tentang film yang bahkan seluk beluknya belum lo paham dan ngerti dengan jelas.

Dodon on 1 Maret 2012 10.46 mengatakan...

anda koplak
wkwkwkwkwk
q islam tpi tetep suka ma film ni

Anonim mengatakan...

maaf buat penulis, disini kecenderungan punya pandangan positif, kecuali anda, sangat disayangkan :) anda termasuk koraban dari mengapa film ini dibuat, anda perlu toleransi beragama yang besar :)

Anonim mengatakan...

hmm saya sarankan TS harus belajar KWN lagi deh, biar bisa mencerna arti toleransi umat beragama..
kayanya TS perlu nonton lagi biar lebih open minded dalam menilai film ini, dan pahami baik2 setiap kalimatnya.. nih saya bantu:
Anisa : “Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda, kalau Tuhan cuma pengen disembah dengan satu cara?”
Cina : “Makanya Tuhan nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa satu. Tapi tetep, Cuma satu”
Cina : “kau cantik, aku ganteng. kau yatim, aku piatu. Kau bego, aku pintar. kau..”
Anisa : “Lo Kristen, gue Islam”
Cina : “exactly. Ntar kita bisa di display di taman mini, jadi simbol kerukunan umat beragama. Kau kan belum pernah main beda agama. Atau kau pindah Kristen aja nis?”
Anisa : “yakin lo masih mau sama gue? Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi lo ntar?”
Anisa : “ya Allah, aku tahu Engkau telah menyediakan jodoh yang terbaik buat Cina. Tapi kita masih saling sayang. Nggak dosa kan?”
Cina : “if you love someone, you gotta let them go”
Anisa : “Basi sih tapi bukan berarti nggak bener”
Cina : “mengapa saudari memilih mozaik sebagai tugas akhir saudari?”
Anisa : “mozaik itu beda-beda bentuk, warna, tekstur tapi jika dilihat dari jarak yang tepat, akan menjadi satu kesatuan yang indah. Sama seperti kampung kota, beda-beda suku, agama, status sosial tapi jika dilihat dari jarak yang tepat akan menjadi sebuah kesatuan”


coba, saya mau tau, apa TS masih punya pemikiran sesempit itu?

Anonim mengatakan...

baru liat kritikan tentang film ini, karena sejauh saya browsing yang ada hanya pujian2 dan kepuasan serta kekaguman para penonton untuk film ini dan pembuatnya (banyak penghargaan yang didapat loh)
TAPI
kok kritikan mas ini malah ga bermutu ya?
anda salah pemikiran
atau memang pemikiran anda yang seperti itu (segera diubah klo gtu mas)


film ini tidak memihak
film ini berani, menyampaikan
bukan memihak.

semuanya diserahkan kembali kepada penonton yang menonton ini
makanya endingnya gantung, tdk jelas, karena sang pembuat film ini memberikan kesempatan kpd penonton untuk berpikir dan bertanggung jawab sendiri untuk diri penonton itu sendiri


cin(T)a
cina
(T) TUHAN --> BUKAN SALIBB!!!!
anisa


filosofi dr judulnya aja sudah cerdas,
hanya org cerdas yang dapat mengerti
dan mas ini

kurang cerdas :)

iyan hilman mulyana on 29 Agustus 2013 09.22 mengatakan...

TS nya kemana nih? Ane islam gan. Ane suka filmnya. Walo pun ane sempet nyesek, kok islam kek dijelek2 in gtuh. Ane brusaha open mind bahwa itu kritikan membangun yang harus kita ubah..ane bersyukur film ini g lulus sensor. Kalo di puter di bioskop, bsa2 bnyak islam radikal yg pikirannya kaya TS lagi.
Yu kita perbaiki diri !
Wallahualam

Hana Fajrianti on 30 September 2013 09.46 mengatakan...

Hi Ahmad,
koreksinya mungkin lain kali sertakan referensi dalam menulis ya. happy writing, semoga menjadi lebih baik :)

Anonim mengatakan...

Anda seperti katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia, ya beginilah jadinya.

Fa_拉琳 on 13 November 2013 06.47 mengatakan...

Pada akhirnya kalo kita islam, kita tidak boleh mencintai mereka yang beragama berbeda, begitukah maksudnya?

Anonim mengatakan...

SARAN SAYA TS LEBIH BERPIKIRAN TERBUKA DAN LEBIH OBJEKTIF DALAM PENULISAN CATATAN" TERSEBUT, ANDA TINGGAL DI NEGARA YANG MAJEMUK PENDUDUKNYA, JADI BERPIKIRLAH SEBAGAIMANA SEMESTINYA :)

SEMOGA LEBIH BAIK

Anonim mengatakan...

dalam islam kita memang diajarkan untuk menghargai agama orang lain tetapi bukan berarti kita yang punya agama beda berhak mencampuri ajran agama orang lain bukan???

itulah yang dinamakan menghargai...

Kevin Fernando Horas on 20 Januari 2014 01.40 mengatakan...

1. Anda terlalu kritis, tapi sayangnya bias dan ga netral. Nonton film itu jangan buat presumsi yang bukan-bukan. Nonton dulu secara netral, baru kasih kesimpulan. Di awal filmnya pun udah dijelasin kalau cin(T)a itu maksudnya "Cina" dan "Anisa". "T" yang di tengahnya apa, kalau Anda pikirannya nyambung pasti akan ngerti kalau maksudnya itu "Tuhan".

2. Emangnya kenyataannya semua wanita muslimah pakai jilbab? Justru menurutku Anisa dalam film ini memaparkan Islam dengan open-minded, walaupun sebagai artis dia juga sudah terpengaruh sama "hidup bebas". Perlu diingat Anisa bukan cuma digambarkan sebagai Islam, tetapi juga orang Jawa tulen. Tradisi Jawa-pun sebenarnya ga Islami kan?

3. Seingat saya malah Anisa menjelaskan kalau surat tersebut punya banyak penafsiran. Ada penafsiran yang lebih lembut daripada itu. Jadi semuanya tergantung penafsiran.

4. Malah saya yang ga ngerti maksud Anda. Pernyataan tersebut maksudnya bahwa banyak manusia yang merasa seolah2 dia itu Tuhan, padahal BUKAN, dan tidak sadar kalau banyak rancangan lain lebih bagus.

5. Ini kan cuma omongan joke mereka yang menurut saya ga pantas untuk dimasalahkan, tidak penting. Mereka tidak mungkin betul2 percaya neraka = perumahan kumuh. Inilah susahnya kalau semua omongan dianggap serius, bahkan sampai perandai2an juga dianggap serius.

6. Apa salahnya? Memangnya kenapa kalau Nabi Muhammad mau menciptakan film? Dan menurut saya ga penting masalah ini dipeributkan, karena yang dipermasalahkan di pernyataannya Anisa adalah kelemahan kita sebagai manusia sekarang yang tidak suka membaca, cuma suka menonton film. Padahal buku lebih lengkap. Mungkin karena ini juga sutradaranya buat film ini.

7. Anda kayaknya ga mengikuti konteksnya waktu itu. Waktu itu Cina lagi ngajak Anisa masuk Kristen supaya bisa menikah, tapi Anisa MENOLAK dengan pernyataan tersebut. Maksudnya, kalau dia masuk Kristen, berarti dia mengkhianati Tuhannya. Kalau Tuhan saja bisa dia khianati, apalagi suaminya.

8. Bukan Cina yang meremehkan agama, karena memang kenyataannya begitu. Mungkin maksud Anda, kenyataan yang meremehkan agama. Karena Cina cuma menyampaikan kenyataan. Lagipula kan bagus kalau harga kitab suci itu murah, supaya bisa dijangkau semua kalangan? Apakah penting kitab suci dibuat mahal harga ekonomisnya?

9. Ini pertanyaan filosofis yang vital untuk ditanyakan. Kenapa Tuhan menciptakan ini dan itu? Atau Tuhan cuma menciptakan yang baik-baik, sementara yang jahat dibuat sama Iblis? Ini harusnya Anda tanya ke diri Anda dan simpulkan sendiri, jangan salahkan kalau Anisa bertanya dan menyimpulkan seperti itu.

10. Ucapan tidak seriuspun dijadikan masalah. Cina ngomong suka Anisa karena kaya itu cuma bercanda, ga mungkin betulan! "Tuhan suka yang IP-nya 3" itu motivasi buat Anisa, bukan menghina Tuhan! Memangnya IP 3 itu ga bagus?

Kevin Fernando Horas on 20 Januari 2014 01.42 mengatakan...

11. Memang beda ajaran Kristen dan Islam itu kan? Kalau Anda percaya keyakinan Anda bisa menciptakan perdamaian dunia ya silakan. Kalau Kristen percayanya lain ya silakan juga. Trus apa masalahnya? Kalau yang dibilang Cina tentang ajaran Islam itu benar ya sudah apa masalahnya? Tapi kalau yang dibilang Cina salah ya Anda luruskan. Anehnya kenapa Anda bersikap defensif, padahal menurut saya ajaran membalas seperti ini justru masuk akal dan bagus, makanya ada penjara kan? Asalkan yang dihukum memang benar2 salah.

12. Dan? Itu kan pertanyaan. Pertanyaan ini menunjukkan kalau Annisa serius mencari jawaban eksistensinya dan tentang Tuhan. Tuhan sudah pasti punya jawabannya kan? Jadi saya rasa Anda cuma cari-cari masalah yang sebenarnya sangat tidak perlu untuk dipermasalahkan. Pertanyaan Anisa mempertanyakan sebuah masalah penting, tapi Anda malah mempertanyakan pertanyaan Anisa, yang bikin kita ga pernah punya jawaban atas pertanyaan tersebut.

13. Pertanyaannya: Siapa yang bikin konflik yang dimaksud Anisa?? Karena KONFLIK ini yang bikin Anisa berkata seperti itu. Orang lain fokus pada pertanyaan yang ada dalam film tsb, tapi Anda malah fokus pada "ketidakpantasan tokoh utamanya berkata seperti itu". Padahal memang seperti itu karakter tokoh utama yang dipilih penulisnya. Memang ceritanya ini tentang dua muda-mudi yang sedang bertanya-tanya tentang Tuhan. Kalau Anda tidak suka, ya Anda harusnya meluruskan saja. Bukannya bertanya2 kenapa Anisa seperti itu, ya karena memang watak tokoh yang dikarang seperti itu.

14. Indonesia kan memang negara yang majemuk. Ya syukur-syukur kalau ada beberapa yang mau berbaur berdoa walaupun beda keyakinan. Itu nilai PLUS. Tapi kalau Anda pribadi tidak mau seperti itu ya silakan, asalkan tidak merugikan orang lain. Itu toleransi yang mendasar.

15. Jujur saya waktu baca Al-Qur'an saya juga kaget tapi saya SALUT sama ayat tersebut. Seingat saya ayat-ayat ini ada di bagian surat-surat paling awal di Quran. Eh eh, ternyata Anda malah membanggakan bahwa ayat tersebut punya tafsiran lain (yang mungkin menyatakan umat agama lain masuk neraka). Anda percaya apapun SILAKAN, tapi kalau sampai Anda membanggakan diri karena tafsiran ayat yang mengatakan umat lain tidak masuk surga, LUCU SAJA liatnya.

Kevin Fernando Horas on 20 Januari 2014 01.42 mengatakan...

16. Itu yang disebut TOLERANSI. Anissa sendiri sudah bilang kalau tafsiran Islam itu ada banyak, dan sebagai warga yang majemuk, sepantasnya kita menghargai apa yang diyakini orang lain. Anda ga mau merayakan Natal ya gapapa juga. =__= Pantaskah toleransi seperti ini dikritik dan diprotes? Dan Anda seakan sangat bangga dengan itu?

17. Menarik tuh pertanyaannya! Kenapa Anda tidak jawab saja daripada cuma diperlihatkan ke orang lain? Semua poin dianggap menyesatkan, tapi Anda tidak kasih penjelasan apa2. Memangnya kenapa kalau agama Islam disindir? Kenapa kalau agama Kristen disindir? Kenapa kalau Buddha disindir? Kenapa harus defensif? Kalau punya penjelasan, kenapa harus melarang orang untuk menyindir? Lagipula Cina dan Anisa saling menyindir tidak dalam konteks bermusuhan, tapi saling diskusi secara OPEN-MINDED. Anda juga kalau disindir seperti itu harusnya menjawab yang benar, bukannya cuma mempermasalahkan kenapa disindir.

18. Kenapa tidak introspeksi diri saja? Kalau memang kenyataannya seperti itu kenapa tidak mau diakui dan tidak mau belajar dari kesalahan? Bukan berarti cuma Islam yang pernah jadi teroris. Banyak pihak2 lain yang juga menyebabkan konflik, tapi di sini konteksnya adalah Indonesia, yang warga mayoritasnya beragama Islam. Dan memang kerukunan umat beragamanya saat ini tidak terlalu harmonis karena beberapa kelompok radikal. Semoga bukan Anda

19. INTROSPEKSI DIRILAH kenapa Cina melakukan seperti itu! Orang yang berakal sehat seharusnya sudah bisa berpikir kenapa Cina dalam film itu menurunkan lambang Garuda (lambang "BHINNEKA TUNGGAL IKA")!! Itu namanya KRITIKAN terhadap kita semua, tidak sepantasnya malah Anda yang mengkritik kritikan itu! Keterlaluan.

20. Orang2 ateis ada karena kebodohan beberapa umat beragama. Mereka haus darah dan tidak punya rasa empati terhadap pihak lain yang tidak sepaham dengan mereka. Agama, ideologi, memang jadi sumber pepecahan, kalau tidak ada TOLERANSI. Sekali lagi harusnya Anda (dan semua yang menonton) merasa tersinggung dan introspeksi diri kenapa tokoh utamanya jadi ateis. Apa yang disampaikan oleh penulis film ini? Kalau punya otak, pikir sendiri.

---------------
Harusnya TS introspeksi diri dan memahami kritikan yang disampaikan dalam film ini. Tapi sebaliknya, malah TS mengkritik kritikan dalam film ini, seolah dia tidak mengerti bahwa film ini sedang mengkritik dia sendiri dan semua warga Indonesia. Saya rasa kritikannya benar. Maka dari itu, INTROSPEKSI DIRI. Belajar dari kesalahan.

Anonim mengatakan...

Ga layak jadi kritikus film lu. Konservatif, fanatis, pandangan sempit! Cocoknya jadi ulama aja.

Anonim mengatakan...

Begitu baca, kebelet bgt pengen komentar, tp semua sudah dibahas per poin oleh mas Kevin Fernando Horas dengan baik :)

Makanya kalo nonton film, sebaiknya bersikap netral, bukan dengan defensif. Perilaku seperti anda ini yang menyumbang peran dalam rendahnya toleransi agama di negara ini.

Dan jangan lupa cari referensi sebelum menulis hal-hal seperti ini. Bawa bukti, jangan cuma debat kusir sepihak :)

Semoga TS bisa membuka kembali pikirannya yang sempit. Amin

Anonim mengatakan...

Yang namanya Crictics Review dari sebuah film tuh harusnya ngeliat dari berbagai sisi, menelaah nilai-nilai intrinsik secara non bias, dan netral. Tapi yang saya baca dari sudut pandang anda, terlihat bahwa anda perpandangan sempit dan etnosentris terhadap agama anda. Hal ini yang menyebabkan komentar anda menjadi bias, dan banyak sekali salah penafsiran dari nilai-nilai yang tersirat dalam film. Dan jika anda mau tahu, coba ikuti bedah film dengan anak-anak fakultas filsafat yang fokus dalam bidang keagamaan, supaya anda bisa lebih open minded terhadap suatu situasi. Saya menilai bahwa review yang anda buat sangat tidak pantas, cenderung menjelek-jelekan hasil karya orang lain, dan tidak edukatif serta tidak mencerminkan bahwa anda seseorang yang berpendidikan cukup pantas untuk membuat review film. Trims

Anonim mengatakan...

Saran aja nih kayanya TS harus open minded dulu deh gue islam kok justru dengan nonton ini malah makin ngebuka pikiran gue tentang perbedaan agama dan kalo diambil dari positifnya ada banyak juga kok nilai yg positifnya "10. Tuhan dianggap mengkotomi dan cenderung membeda-bedakan manusia. Ini terdapat dalam dialognya Cina ketika ditanya oleh Annisa: "Emang Tuhan suka yang kayak apa?" Jawab Cina "Yang IP-nya di atas 3". Cina juga bilang kalau hanya dia dan Tuhan saja yang bisa cinta kepada Annisa bukan karena kecantikannya, tapi karena Annisa kaya! Wah, kalo gitu, Tuhan gak seneng sama yang miskin donk....? :(" itu kan maksud si cina kaya begitu biar si Anisa lbh semangat lg belajarnya. Mikirnya jangan kejauhan lah hehe

Anonim mengatakan...

Wah penulid lupa kali ya kalo kita punya Tuhan, terserah mau gimanapun apapun yg dilakuin manusia . Tetep penilaian Tuhan itu mutlak sekalipun manusia anggap itu dosa dengan dasar kitab. Open mind bro, buat apa ada Tuhan kalo lo lo pada bisa nilai "mutlak" kr manusia lain .

Anonim mengatakan...

Wah sayang sekali ya anda kurang terbuka dalam berpikir :) harusnya anda pahami betul sebelum menulis panjang lebar begitu, salah salah malah jadi fitnah. Tulisan seperti ini nih yang memicu perpecahan di negeri ini.

Sir Qiqizz Zhow Al-Mansyur on 11 Juli 2014 18.43 mengatakan...

ini yang punya rumahnya kemana??? kasian amat di bully terus, mending hapus aja deh mas blog ini, malu jadi orang islam tapi pemikirannya sempit.

Anonim mengatakan...

kritikan ini merupakan pendapat pribadi TS, jadi terserah ts mau kritik gimana, saya bersifat netral dalam komentar ini, tergantung dari pembaca komentar ini mau menaggapi seperti apa.

menurut saya kritik TS ini sangat bermanfaat bagi saya untuk menjadi acuan dalam review film Cin(t)a, dan juga dari komentar-komentar sebelum saya juga berfungsi demikian.

kebebasan berpendapat bagi seluruh rakyat indonesia

Anonim mengatakan...

Hoiiii KEVIN FERNANDO HORAS knp msti kau yg sibuk kebakaran jenggot
Lha ts disini khan cmn menyampaikan kekhawatirannya dalam sudut akidahnya
Sedangkan kau memaparkan pemikiran ttg film tsb dari sudut mana? Apakah dari sudut islam? Kristen? Ato kau seorang ateis? Karna pemaparan kau itu gak jelas mengambang,sebentar kau bela islam trus kau hina lagi dan lbh anehnya lagi kau bangga2kn kaum ateis
Hoooiii!!! Ngaca kauuuu,buka kitab agama kau
Sejak kpn ajaran agama baik itu islam,kristen maupun yahudi membenarkan ateis?
Karna dari bacot mu itulah tampak kedangkalan otakmu
Toleransi agama itu ada batasannya,nah klu sampe merayakan natal bersama2 itu disebut jg dgn toleransi???
Sejak kapan islam memboleh umatnya merayakan natal?
Sama aja klu diagama kristen yg melarang umatnya merayakan idul fitri

Irma Halimatus Sya'diyah on 30 November 2014 22.29 mengatakan...

ada yang salah tuh di poin 8.... bukan agama yang 5ribuan, tapi tabloit tentang berita keartisan si anisa....

AquWi on 8 Desember 2014 20.55 mengatakan...

hehehhe. . bener2 gregetan sih sama postingan ini. Tapi alhamdulillah udah dbahas panjang lebar sama masta2 di atas. lagian, g tega juga liat yg laen udh ngebuly.
cuma mau lurusin dikiiit doang. seperti yg dbilang mbak Irma, yg dmksd murah (5 rbuan dtiap simpang ada) itu bukan agama, tapi koran/tablid ttg berita si Anissa.
coba, lbh teliti lagi yaaah klo mau kritik

Tohap Sitanggang on 27 Desember 2014 13.01 mengatakan...

Situ bikin film sendiri aja kalo bisa ....

loe kira buat film murah apa?????


LOE mau film bagus kudu modal juga..

Jangan modal BACOT aja loe lol...

Anonim mengatakan...

Saya sendiri seorang umat Kristen dan juga suku Tiong Hoa, namun saya sangat tidak setuju dengan film ini karena film ini mengandung unsur kalimat mendukung ateisme dalam pernyataan "Lebih baik gak usah ada Tuhan. Gak usah ada agama!". Film ini juga sangat kacau ketika penulis film sangat menyudutkan umat Islam dengan membuat isu pengeboman gereja yang dilakukan oleh teroris beragama Islam. Hal ini membuat saya bertanya, emangnya teroris percaya ajaran Tuhan? Sungguh seseorang yang mencintai Tuhan pasti mencintai semua ciptaannya juga. Semua teroris itu adalah fanatik dan tidak mengenal Tuhan. Yang dikenalnya adalah kebencian dan dosa. Penganut agama yang baik sejatinya berujung pada kerendahan hati, kebaikan, dan perdamaian.

Akhir kata, Film ini sangat tidak direkomendasikan untuk awam karena pesan moral yang berpotensi dapat merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan antar manusia.

Anonim mengatakan...

Saya muslim, pacar kristen, ibu khatolik, bapa muslim. Dalam keluarga saya belum pernah dan jngan smpe ada pertengkaran antar agama. Krn kami tau bnar bagaimana cara toleransi. Kami gmau saling memaksa, krn cinta itu tidak butuh paksaan. Dan sekali lagi agamaku agamaku, agamamu agamamu. :")

ulin nuha on 21 April 2015 00.07 mengatakan...

Ini cara pandangnya cutek bgt, alasan2 yg anda kemukakan keliatan anda blm memahami film ini dgn benar, sangat irrasional. Buat yg blm nonton,tafsirin sendiri film ini secara bijak, dan kalian bakal tau kalau film ini emang bagus dan semua omong kosong yg blog ini kasih ga usah dipikirkan.
Anyway saya sendiri alhamdulillah muslim dan sudah berkali2 nonton film ini.

Anonim mengatakan...

Aku baru saja nonton film ini. Sebelum aku baca tulisan ini. Bahkan karena hbs nonton film ini, aku nemuin tulisan ini. Aku memang merasa demikian ada ketidak adilan dr film trsbt.
Saya sependapat dengan anda yg menulis artikel ini. Saya meng apresiari apa yg anda tulis, semoga amal ibadah anda diterima Allah SWT, , , amin

Tetap semangat menulis kebenaran, biarkan anjing menggonggong! Meskipun anjing itu "mengaku" muslim.

Anonim mengatakan...

Gag usah muna lah loe yg nulis ginian. Gag mutu. Lu ke laut aja dah. Perbedaan agama tu indah asal gag ada orang kek elu di dunia ini. Eeeh gw lupaa.. Kan di dunia ada manusia jahat, ada manusia baik. Sorry sorry y bro, gw lupa lu masuk kategori yg mana. Banyakin doa... Biar sadar

fairytale on 18 Oktober 2015 00.27 mengatakan...

Komen diatas kasar bgt! Apakah anda punya Tuhan?

Secara objectif, film ini sgt sgt bagus jika dilihat dr sisi artistic, unik dan menarik. Film ini dpt menambah deretan referensi film bermutu.

Namun jika ada yng beranggapan film ini kontroversial & bkal memicu konflik itu jg benar!

Sy setuju skali jika ad yng mengatakan film ini berbahaya bagi masyarakat awam, karena bahkan film yng memiliki pesan moril dgn tujuan baik sekalipun akan berakhir buruk jika salah interpretasi. Lagi2 kembali pd siapa penontonnya?

Sy tdk mau mengatakan setuju dgn penilaian penulis, pun menolak mentah2 sudut pandangnya. Ini mslh opini & pemikiran, smua org blh m'miliki perbedaan. Justru yng berkomentar kasar & tak senonoh itulah yng menunjukan dangkal nya suatu pemikiran! You are how you speak n' talk.

Terima kasih atas referensinya, sy muslimah yang sedang berusaha taat kpd اَللّهُ...

wika on 17 November 2015 16.28 mengatakan...

pendapat saya tentang kutipan "Emang arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak terpikirkan kalau ada rancangan yang lebih baik!"
itu bukan mencela tuhan sedikitpun tetapi kata kata itu untuk membuat kita (aritek) nya itu ga sombong dengan hasil karyanya sendiri gak mungkin lah kalo mencela tuhan orang kristen juga punya tuhan ya pasti ga mungkin kalo tuhannya di cela . terimakasih ^_^

life laugh smile cry and dream on 18 November 2015 00.06 mengatakan...

Halo, saya menghargai pendapat anda jika anda tidak suka dengan film ini. Tapi saya mengira, entah dari awal anda membaca judul film tersebut yang unik, atau anda sudah mengetahui sinopsisnya dari awal atau apapun itu, anda sudah memberi 'cap' tertentu secara tidak sengaja terhadap film itu tanpa anda tidak sadari. Dan hal itu, yang mengurangi kemampuan anda dalam mengapresiasi film secara keseluruhan, mengurangi objektivitas dalam menilai, dan membatasi pikiran pikiran anda atas asumsi yang belum terbukti. Bahkan walaupun banyak orang yang memiliki asumsi sama, belum tentu asumsi itu benar.

Anda mungkin berpikiran cin(T)a itu menyimpan lambang salib. Bagaimana dengan ide kalau ternyata huruf T itu artinya Tuhan. Tuhan secara keseluruhan, tidak Tuhan untuk beberapa kelompok saja

Penafsiran tentang " Tuhan gue saja gue khianatin, apalagi lo?" Bukan bermaksud dia tidak konsisten beragama, tapi menyatakan kalau jika Annisa tidak mau pindah agama, karena pindah agama berarti mengkhianati Tuhannya, dan jika dia mengkhianati Tuhannya maka dia juga kemungkinan akan mengkhianati manusia-Nya.

Kalau anda berpikir film ini menyudutkan islam, agama ini juga menyudutkan kristen dengan percakapan orang orang di restoran sewaktu mereka makan. Toh jika memang agama ini menyudutkan pihak tertentu, mereka memang menceritakan kejadian di Indonesia sesungguhnya di mana dulu ada diskriminasi di negara bermayoritas muslim, bahkan di tahun 1998 pun ramai sekali oergerakan diskriminasi kepada orang orang china/non-pribumi. Kalaupun mereka menyudutkan, film ini tidak menyudutkan agama tertentu, tetapi pemeluk2 agama tersebut yang menjadi oknum terjadinya diskriminasi di Indonesia.

Ya, memang ada adegan adegan yang seolah olah menyepelekan Tuhan. Tetapi mereka adalah orang orang biasa, bukan ulama. Film ini memberikan gambaran tentang orang orang tersebut, yang masih kian mempertanyakan agama dan Tuhannya. Terkadang, suatu film dibuat sebagai bentuk ekspresi dan gambaran, tak selalu harus mencontohkan yang baik. Contohnya, film tentang prostitusi bukan mengajarkan kalau prostitusi itu baik, tapi film itu dibuat agar masyarakat lebih terbuka dengan prostitusi itu sendiri, menyuguhkan gambaran sebenernarnya apa saja hal hal negatif di dalam dunia prostitusi, dan juga mengenalkan apa sebenernya penderitaan penderitaan yang dialami orang yang bekerja dalam dunia itu. Sama seperti film ini, film ini hanya menyuguhkan kita perspektif baru, bukan untuk mengubah perspektif kita. Biarkan penonton yang memilih apa yang harus dipercayai.




Anonim mengatakan...

menurut saya film ini sangat cerdas dan berkualitas. film ini menggambarkan realita yg terjadi di masyarakat. butuh cara pandang yang luas dan tidak memandang dari satu sisi saja. karena kenyataannya kita hidup di tengah "masyarakat yg multikultural. jangan terlalu fanatisme memandang sesuatu yang mungkin itu adalah sindirian bagi kita untuk memperbaiki diri lebih baik.

Anonim mengatakan...

Bukannya tidak menghargai sby-boediono, tapi di film tersebut diambil latarnya pada tahun 2002 dimana perayaan lebaran dan natal berdekatan

Anggara Handriatmaja on 18 Januari 2016 16.44 mengatakan...

heheheh... mendingan yang posting review ini pelajari dulu lebih dalam soal film nya, baca buku buat memperdalam, share sama teman-teman, baru deh posting. Oiya satu lagi...film cinTa ini bukan film komersil. dia sejenis film indie yang diperlombakan awalnya. jadi gak mungkin banget ditayangin di bioskop. jd mendingan pelajari dan cari informasi lebih banyak dulu ya... CinTa itu singkatan dari Cina Tuhan dan Annisa. ga ada sama sekali gambarv salib atau objek kristen di film itu.tengkiu

Anonim mengatakan...

orang-orang yang seperti ini, yang nonton film aja.... ribet banget, itu ada film, ditonton, diliat, yaudah. toh anda bukan anak dibawah umur yg terpengaruh kan?

sama aja kaya film tanda tanya dan sejenisnya.

apa bedanya sama emak2 yang nonton sinetron dibawa ke hati?
dan pihak LSF dan 21 udah ga nayangin yaudah, bagus...jadi ga ada anak2 yg nonton juga, dah, fix.

Anonim mengatakan...

Yang saya lihat sih ini adalah pendapat dari orang yg menkhawatirkan akidah saudara muslimin dan muslimah yang ikut menonton film ini. Maklum lah kepala semua orang isinya beda-beda, pendapatpun beda2. Alhamdulillah masih ada yg peduli pada akidah sesama sehingga mau mengingatkan meskipun oleh saudara yg dipedulikan malah dicemooh.
Yang saya tahu, film ini dari segi entertain sangat menghibur. Menyajikan kisah cinta yang hangat dan memikat (diluar unsur religius yg diusung).
semoga dengan adanya film ini tidak menggoyahkan keimanan dan ketaqwaan kita sebagai muslimin dan muslimah untuk membenarkan beberapa yg melenceng dalam film ini, diantaranya :
1. Sebagai muslimah Annisa tidak berhijab untuk menutupi aurat. Sedangkan kita semua tahu, hijab untuk menutupi aurat bukanlah pilihan hidup. Itu adalah perintah dari Allah SWT.
2. Tidak dibenarkan untuk menikah dengan orang yg berbeda agama (meskipun disini tidak sampai menikah, tapi mungkin beberapa orang berpendapat alangkah lebih bagus kalo endingnya mereka menikah meskipun beda agama karena mereka bertoleransi {?}). Hukumnya haram karena sama seperti zina (meskipun tidak melakukan), untuk lebih jelasnya silahkan ditanyakan kepada ahli ilmu agama Islam. Bukan kapasitas saya untuk menjelaskan. Disini saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu.
3. Beberapa penafsiran Al-Qur'an yg disalah artikan disini. Untuk lebih jelas silahkan tanya kepada ahli tafsir Al-Qur'an. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang lemah lembut.

Oya, lucu juga baca komentar bang Kevin yg merasa LUCU SAJA mengetahui penafsiran Al-Qur'an mengenai umat agama lain yang tidak masuk surga. Itu adalah firman Allah SWT dan kami beriman pada-Nya. Kalau boleh saya tahu apa diajaran agama abang semua umat agama selain agama abang masuk surga? Kalau begitu kenapa ada neraka? Kenapa abang pilih agama yg abang anut, bukan agama Islam saja, toh sama2 masuk surga kan kalo begitu menurut abang?
Terima kasih atas perhatiannya.

Adofan Nainggolan on 3 Juni 2016 18.02 mengatakan...

Saya kristen, 5 tahun berpacaran dengan muslim, dan saya sangat mencintai dia.
Tetapi hubungan kami tidak bisa dilanjutkan karena perbedaan tersebut.. Film ini mungkin hanya bisa di rasakan bagi orang yang mengalami hal tersebut ( saling cinta tapi tidak bisa dipersatukan ).
Saya menghargai agama pacar saya, dan sebaliknya.

Kami hanya berandai andai agama hanya satu, mungkin kami akan menikah dan bahagia. Mungkin berawal dari sini timbul pemikiran akan adanya konflik agama oleh TS. Seakan akan harus ada yang pindah agama atau tidak beragama sekalian.
Tapi jika kalian merasakannya sendiri, kalian tidak akan kepikiran sedikitpun kesana. Kalian hanya berpikir bagaimana caranya biar kalian bersatu.

Kami sepakat untuk berpisah secara baik2. Karena pihak keluarga kami saling bertentangan.

Menurut saya film ini hanya untuk orang2 tertentu saja, jika di tonton oleh orang yang tidak mengalaminya pasti akan lain pendapatnya.

sonia elma thalia on 16 Februari 2017 06.05 mengatakan...

Benar mas, saya nonton karena saya mengalami cinta dengan perbedaan itu. Berharap kami bisa bersatu. Tapi bener kata anisa, kalau Tuhan berani dikhianati apalagi ciptaannya.

 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template