Zaman selalu bergerak maju tanpa sedikitpun melihat ke belakang. Dan roda kehidupan selalu berputar. Begitu juga dengan manusia, akan selalu ada setiap hembusan nafas kita yang berkurang dari umur kita sesunggguhnya.
Istilah 'patah tumbuh silih berganti' tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Para pendahulu kita telah banyak meninggalkan goresan sejarah tinta emas untuk kehidupan kita ini. Para pejuang berani gugur dalam medan perang demi kehidupan yang lebih baik bagi anak-cucu mereka. Sedangkan para ilmuan dan penulis, telah mengorbankan waktu mereka untuk menuliskan ilmu-ilmu mereka biar bisa kita konsumsi.
Mereka telah menjadi generasi putih. Generasi yang dapat keluar dari hitam kelamnya dunia. Generasi yang dapat lulus dari keabu-abuannya ujian hidup remaja. Generasi yang mampu bertahan dalam berbagai macam warna dan corak kehidupan. Mereka bahkan seakan mentari yang dapat menyinari orang lain.
Sedangkan kita?
Semuanya masih samar-samar. Belum jelas. Masih kabut. Belum tau apa yang ada di depan. Akankah kita bisa keluar dari hitamnya dunia? Atau mungkin dapat bertahan dari berbagai godaan warna kehidupan? Ataukah masih dapat bertahan pada indahnya warna puith? Akankah kita bisa melajutkan tongkat estapet kehidupan ini? Akankah
kita juga mampu mengoraskan tinta emas dalam lembaran sejarah?
(buat teman-temanku yang remaja....)
Selasa, 30 Juni 2009
Senin, 29 Juni 2009
Hermeneutika
Arus liberalisasi agama kian terus terasa. Berbagai macam pemikiran-pemikiran baru yang menjurus kepada sekularisasi juga makin gencar. Terlebih lagi di kalangan akademisi kampus, hal semacam itu sudah menjadi warna dalam bidang studi mereka.
Salah satu model yang muncul dalam proses liberalisasi ini adalah penerapan metodelogi penafsiran Bible untuk menafsirkan al-Qur'an. Atau yang biasa disebut dengan Hermeneutika.
Secara harfiah, Hermeneutika bermakna 'tafsir'. Secara etimologis, istilah Hermeneutika diambil dari bahasa Yunani. Istilah ini sebenarnya merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani bernama Hermes. Dalam kepercayaan Yunani, Hermes dikenal seorang dewa yang menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari mitologi Yunani inilah, akhirnya Hermeneutika berkembang sebagai metodologi dalam mentafsirkan Bible.
Secara singkat, metode Hermeneutika ini adalah cara untuk mentafsirkan Bible. Dalam hal ini, Bible diposisikan sebagai buatan manusia, dengan kata lain Bible bukanlah dalam posisi sebagai wahyu suci dari Tuhan. Oleh karenanya Bible bisa ditafsrikan secara bebas.
Namun sayangnya, metode inilah sekarang yang banyak dipelajari untuk diterapkan dalam tafsir al-Qur'an. Beberapa Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, seperti UIN Syarif Hidayatullah, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, dan sebagainya, telah menjadikan Hermeneutika sebagai mata kuliah wajib.
Padahal metode tafsir Bible ini jelas tidak bisa diterapkan dalam penafsiran al-Qur'an. Karena bila diterapkan, berarti al-Qur'an harus ditetapkan sebagai produk buatan manusia. Dan itu tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebenarnya masih sangat banyak sekali yang harus kita ketahui tentang Hermeneutika ini, agar kita bisa terlepas dari pengaruh-pengaruhnya. Namun pada kesempatan ini, saya hanya membahas muqaddimahnya saja. InsyaAllah lain kali akan kita bahas lagi.[]
Salah satu model yang muncul dalam proses liberalisasi ini adalah penerapan metodelogi penafsiran Bible untuk menafsirkan al-Qur'an. Atau yang biasa disebut dengan Hermeneutika.
Secara harfiah, Hermeneutika bermakna 'tafsir'. Secara etimologis, istilah Hermeneutika diambil dari bahasa Yunani. Istilah ini sebenarnya merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani bernama Hermes. Dalam kepercayaan Yunani, Hermes dikenal seorang dewa yang menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari mitologi Yunani inilah, akhirnya Hermeneutika berkembang sebagai metodologi dalam mentafsirkan Bible.
Secara singkat, metode Hermeneutika ini adalah cara untuk mentafsirkan Bible. Dalam hal ini, Bible diposisikan sebagai buatan manusia, dengan kata lain Bible bukanlah dalam posisi sebagai wahyu suci dari Tuhan. Oleh karenanya Bible bisa ditafsrikan secara bebas.
Namun sayangnya, metode inilah sekarang yang banyak dipelajari untuk diterapkan dalam tafsir al-Qur'an. Beberapa Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, seperti UIN Syarif Hidayatullah, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, dan sebagainya, telah menjadikan Hermeneutika sebagai mata kuliah wajib.
Padahal metode tafsir Bible ini jelas tidak bisa diterapkan dalam penafsiran al-Qur'an. Karena bila diterapkan, berarti al-Qur'an harus ditetapkan sebagai produk buatan manusia. Dan itu tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebenarnya masih sangat banyak sekali yang harus kita ketahui tentang Hermeneutika ini, agar kita bisa terlepas dari pengaruh-pengaruhnya. Namun pada kesempatan ini, saya hanya membahas muqaddimahnya saja. InsyaAllah lain kali akan kita bahas lagi.[]
Minggu, 28 Juni 2009
Khas Klasik Masjid 'Amru bin Ash
Masjid ini adalah salah satu masjid yang paling bersejarah bagi umat Islam, khususnya bagi masyarakat Muslim di Mesir. Karena masjid inilah yang menjadi cikal-bakal perkembangan Islam selanjutnya di benua Afrika, terlebih lagi di Mesir. Sampai sekarang kita bisa melihat dan merasakan bagaimana pesatnya perkembangan Muslim di Mesir. Sampai-sampai Mesir menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam di dunia.
Masjid ini adalah masjid yang pertama kali dibangun di benua Afrika. Atas perintah Khalifah Umar bin Khattab, Masjid ini dibangun oleh 'Amru bin Ash ketika menaklukkan Mesir. Masjid yang terletak di kota Fushthat ini, sampai sekarang kita masih bisa menikmati bukti peradaban Islam ini. Masjid ini masih terlihat indah dengan gaya arsitektur khas Islam klasik.
Bagian masjid ini yang paling berkesan bagi saya, selain karena masjid ini tertua di Afrika adalah arsitektur yang menghiasinya. Dari penilaian saya dari beberapa masjid bersejarah dan tua di Mesir, mungkin salah satu ciri khas masjid klasik Islam di Mesir adalah, terdapat tempat wudhu di tengah-tengah masjid. Seperti yang terdapat tepat di belakang saya berdiri. Dan di bagian tengah masjid tidak terdapat atap yang melindunginya. Mungkin pada kesempatan lain kita akan mencoba menguak tentang arsitektur-arsitektur klasik masjid di Mesir.[]
Makam Imam Syafi'i
Tentunya kita semua tahu atau paling tidak pernah dengar nama Imam Syafi'i. Beliau adalah salah satu imam dari empat madzhab fiqih. Nama asli beliau adalah Muhammad bin Idris as-Syafi'i. Beliau dilahirkan pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Di mana pada tahun kelahiran beliau ini, juga merupakan tahun meninggalnya Imam Abu Hanifah. Dan Imam syafi'i meninggal pada tahun 820 M. Kepandaian dan ketaatan beliau sudah terlihat dari kecil. Terbukti di umur yang sungguh relatif kecil, beliau sudah hafal al-Qur'an.
Makam beliau terdapat di masjid yang juga dinamakan Masjid Imam Syafi'i. Tempat ini terletak di kawasan Hayyun Syafi'i, di daerah Sayyidah 'Aisyah. Di sepanjang jalan menuju kawasan ini, kita akan menemukan kuburan-kuburan yang konon katanya adalah kuburan orang-orang terhormat dan para syuhada. Di sana juga terdapat makam Waqi' gurunya Imam Syafi'i.
Di samping samping makam Imam Syafi'i terdapat jejak kaki yang konon katanya jejak kaki Rasulullah. Jejak kaki itu langsung diambil dari Arab Saudi. Namun kebanyakan penduduk sekitar hanya meyakini bahwa itu adalah jejak kaki salah seorang nabi. Namun tidak dapat dipastikan jejak kaki nabi siapa. Jadi sebenarnya sulit untuk membuktikan kebenaran tentang jejak kaki tersebut.
Meskipun kawasan ini terlihat kurang terawat, tapi makam Imam Syafi'i ini juga menjadi salah satu obyek sejarah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Di sekitar kawasan ini terdapat pasar kecil tradisional, dan juga beberapa para peminta-minta. Kemudian di samping makam Imam Syafi'i ini juga terdapat tempat talaqqi atau belajar al-Qur'an.
Maka bagi teman-teman yang mau jalan-jalan di Mesir khususnya Kairo, jangan lupa untuk ziarah ke makam Imam Syafi'i. Apa lagi bagi kalian yang bermadzhab Syafi'i.[]
Masjid Sultan Hasan

Masjid ini juga merupakan masjid yang sangat bersejarah bagi umat Islam Mesir. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan an-Nashir Hasan bin Muhammad al-Qalawun, pada tahun 757 H / 1421 M. Sultan Hasan adalah salah satu dari raja-raja pada Dinasti Mamalik Bahriyyah.
Masjid ini mendapat julukan masjid yang termahal di antara masjid-masjid di Mesir. Hal itu memang dikarenakan pembangunan masjid ini banyak menelan biaya. Untuk biaya pembangunan ruang masjid ini saja, menghabiskan anggaran sebesar seratus ribu dinar pada waktu itu.
Bagian yang paling menarik dari bangunan masjid ini adalah dinding masjid yang sungguh begitu tinggi, dan pintu masuk masjidnya yang konon merupakan pintu masuk tertinggi di antara pintu-pintu masuk bangunan-bangunan tua peninggalan Islam di Mesir. Bukan hanya tingginya saja, arsitektur yang menghiasi bagian atas atau atap mesjid pun sungguh luar biasa. Ditambah lagi lorong-lorong yang unik ketika memasuki masjid ini.

Masjid ini dulunya mempunyai multifungsi. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai madrasah atau sekolah empat madzhab fiqih, yaitu Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Dan tentunya terdapat ruangan-ruangan khusus untuk keempat madzhab itu. Selain itu di masjid ini dulunya juga terdapat rumah sakit dan beberapa ruangan untuk tempat tinggal para santri dan pengurus masjid.
Di dalam masjid ini juga terdapat makam Sultan Hasan. Jadi para pengunjung bisa langsung berziarah ke makam beliau. Di samping makam beliau terdapat tempat duduk dengan tempat al-Qur'an yang besar, yang dulu biasanya digunakan oleh para santri di sana untuk membaca al-Qur'an. Tempat duduk itu terbuat dari kayu, dan sampai sekarang masih tetap kokoh.
Masjid yang terletak di kawasan Benteng Shalahuddin al-Ayyubi ini juga lah yang menjadi obyek pertama kali yang dikunjungi oleh presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika mengadakan kunjungan kepresidenan ke Mesir. Pokoknya banyak sekali kesan yang akan terus teringat bila berkunjung ke masjid Sultan Hasan ini.[]
Kamis, 25 Juni 2009
Rindu
Mengapa kita semua memiliki rasa rindu? Mengapa rasa rindu kepada seseorang itu selalu muncul ketika kita jauh dari orang tersebut? Apakah kerinduan itu selalu diawali dengan perpisahan? Apakah rindu itu sangat kuat kaitannya dengan cinta? Dan bagaimana seharusnya kerinduan itu?
Setiap dari kita sudah tentu tidak asing lagi dengan perasaan rindu. Karena perasaan itu sudah menjadi tabiat yang manusiawi. Perasaan ini layaknya cinta, adalah sebuah anugrah dari Allah juga. Karena kerinduan itu tidak akan muncul kalau bukan dari hati kita. Dan yang mengendalikan, yang membolak-balik hati kita hanyalah Allah SWT.
Kerinduan memang sangat identik dengan perpisahan, jarak, dan waktu. Jarak yang jauh adalah salah satu alasan kuat mengapa kita bisa rindu kapada seseorang. Dan begitu juga dengan waktu yang lama tidak bertemu. Tapi sebenarnya rindu itu tidak perlu diawali dengan perpisahan. Bahkan kerinduan yang hakiki adalah kerinduan dimana kita belum pernah sama sekali bertemu dengan orang yang kita rindukan itu. Mengapa demikian? …
Ya, rindu itu sangat kuat kaitannya dengan cinta. Tidak ada cinta, maka tidak ada rindu. Ada rindu pasti ada cinta. Ada cinta belum tentu ada rindu. Begitulah rindu selalu ada dibelakan cinta. Maka bila kita merindukan seseorang, artinya kita mencintai orang itu. Namun tentu saja kadar cinta itu berbeda-beda.
Dan rindu yang seharusnya itu adalah rindu yang dapat menumbuhkan motivasi di dalam diri kita. Rindu yang dapat memperkuat keimanan. Rindu yang dapat menambah ketaqwaan. Maka tak lain rindu itu adalah rindu kepada Sang Pencipta, Allah SWT.[]
Setiap dari kita sudah tentu tidak asing lagi dengan perasaan rindu. Karena perasaan itu sudah menjadi tabiat yang manusiawi. Perasaan ini layaknya cinta, adalah sebuah anugrah dari Allah juga. Karena kerinduan itu tidak akan muncul kalau bukan dari hati kita. Dan yang mengendalikan, yang membolak-balik hati kita hanyalah Allah SWT.
Kerinduan memang sangat identik dengan perpisahan, jarak, dan waktu. Jarak yang jauh adalah salah satu alasan kuat mengapa kita bisa rindu kapada seseorang. Dan begitu juga dengan waktu yang lama tidak bertemu. Tapi sebenarnya rindu itu tidak perlu diawali dengan perpisahan. Bahkan kerinduan yang hakiki adalah kerinduan dimana kita belum pernah sama sekali bertemu dengan orang yang kita rindukan itu. Mengapa demikian? …
Ya, rindu itu sangat kuat kaitannya dengan cinta. Tidak ada cinta, maka tidak ada rindu. Ada rindu pasti ada cinta. Ada cinta belum tentu ada rindu. Begitulah rindu selalu ada dibelakan cinta. Maka bila kita merindukan seseorang, artinya kita mencintai orang itu. Namun tentu saja kadar cinta itu berbeda-beda.
Dan rindu yang seharusnya itu adalah rindu yang dapat menumbuhkan motivasi di dalam diri kita. Rindu yang dapat memperkuat keimanan. Rindu yang dapat menambah ketaqwaan. Maka tak lain rindu itu adalah rindu kepada Sang Pencipta, Allah SWT.[]
Rabu, 24 Juni 2009
Ada apa dengan Demokrasi Indonesia?
Sudah bukan rahasia lagi kalau Negara kita Indonesia melaksanakan politik demokrasi. Dengan alasan bahwa sistem ini lah yang paling ideal dalam sebuah pemerintahan, dimana kekuasaan rakyat berada di atas segalanya. Apalagi seperti Indonesia yang terdapat banyak keragaman budaya, watak, dan agama masyarakatnya.
Tahun ini Indonesia kembali melaksanakan pesta demokrasi. Semua rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat ituk pemilu, berhak memilih wakil rakyat dan presidennya. Berbagai tanggapan dari masyarakat tentang pemilu pun bermunculan. Baik itu tanggapan yang positif maupun yang negatif. Ada yang optimis dengan pemilu ini, ada juga yang pesimis.
Namun apabila kita perhatikan dan amati pesta demokrasi ini, sebenarnya terdapat kejanggalan yang sangat nyata. Di mana banyak orang berbondong-bondong untuk bisa menjadi wakil rakyat. Jumlah partai politik pun semakin banyak, baik banyak jumlahnya ataupun banyak yang gak jelasnya. Ambisius mereka sangat jelas sekali. Bahkan sampai menghalalkan segala cara. Ya, seperti polotik uang. Seakan-akan pemilu adalah ajang perlombaan tuk mencari popularitas dan keuntungan materialitas.
Padahal dalam demokrasi yang sesungguhnya itu, sebenarnya tidak demikian. Wakil rakyat itu adalah sebuah amanat bukan sebuah jabatan. Wakil rakyat adalah seorang pembantu rakyat, bukan raja bagi rakyat. Kalau hal ini yang sebenarnya dipahami benar-benar oleh rakyat Indonesia, maka untuk menjadi wakil rakyat itu adalah keputusan yang sungguh berat dan besar. Artinya ia harus benar-benar siap melaksanakan amanat rakyat itu. Ia harus siap untuk dapat mensejahterakan rakyat, bukan malah mensejahterakan diri sendiri. Bahkan ia harus siap untuk melarat demi kesejahteraan rakyat. Ia harus siap mempertanggungjawabkan amanatnya itu di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah kelak.
Maka bila di sebuah negara demokrasi terdapat sekelompok orang yang memperebutkan kekuasaan, maka demokrasi di negara itu perlu dipertanyakan. Lalu ada apa dengan demokrasi di Indonesia?[]
Tahun ini Indonesia kembali melaksanakan pesta demokrasi. Semua rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat ituk pemilu, berhak memilih wakil rakyat dan presidennya. Berbagai tanggapan dari masyarakat tentang pemilu pun bermunculan. Baik itu tanggapan yang positif maupun yang negatif. Ada yang optimis dengan pemilu ini, ada juga yang pesimis.
Namun apabila kita perhatikan dan amati pesta demokrasi ini, sebenarnya terdapat kejanggalan yang sangat nyata. Di mana banyak orang berbondong-bondong untuk bisa menjadi wakil rakyat. Jumlah partai politik pun semakin banyak, baik banyak jumlahnya ataupun banyak yang gak jelasnya. Ambisius mereka sangat jelas sekali. Bahkan sampai menghalalkan segala cara. Ya, seperti polotik uang. Seakan-akan pemilu adalah ajang perlombaan tuk mencari popularitas dan keuntungan materialitas.
Padahal dalam demokrasi yang sesungguhnya itu, sebenarnya tidak demikian. Wakil rakyat itu adalah sebuah amanat bukan sebuah jabatan. Wakil rakyat adalah seorang pembantu rakyat, bukan raja bagi rakyat. Kalau hal ini yang sebenarnya dipahami benar-benar oleh rakyat Indonesia, maka untuk menjadi wakil rakyat itu adalah keputusan yang sungguh berat dan besar. Artinya ia harus benar-benar siap melaksanakan amanat rakyat itu. Ia harus siap untuk dapat mensejahterakan rakyat, bukan malah mensejahterakan diri sendiri. Bahkan ia harus siap untuk melarat demi kesejahteraan rakyat. Ia harus siap mempertanggungjawabkan amanatnya itu di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah kelak.
Maka bila di sebuah negara demokrasi terdapat sekelompok orang yang memperebutkan kekuasaan, maka demokrasi di negara itu perlu dipertanyakan. Lalu ada apa dengan demokrasi di Indonesia?[]
Langganan:
Postingan (Atom)
