Tampilkan postingan dengan label hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2010

Antara Jiwa dan Raga

0 komentar


Sekilas, jiwa dan raga selalu satu. Paradigma yang ada pun akhirnya juga demikian. Tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raga. Keduanya sama-sama menjadi unsur yang penting bagi manusia. Keduanya sangat dibutuhkan.

Lalu adakah yang lebih penting di antara kedua?

Jawabannya tentu saja ada.

Jiwa merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya, yaitu kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan panca indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Namun meski gerak jiwa itu tidak dapat diamati secara panca indra, namun ia dapat dirasakan. Bahkan jiwa itulah yang sebenarnya menjadi penggerak dan motorik bagi raga.
Jika demikian, jiwa adalah sebuah substansi yang ada dalam diri manusia. Substansi itu kemudian dituangkan menjadi raga. Namun ternyata juga tidak semua raga itu dapat merepresentasikan substansi diri kita. Ada jiwa yang hanya ada dalam jiwa itu sendiri.

Dalam analogi lain, kehidupan kehidupan dunia adalah kongkrit. Sedangkan kehidupan setelah dunia, yaitu akhirat sifatnya masih abstrak. Mana yang lebih penting antara kehidupan dunia dan akherat? Tentu saja akherat lebih penting bukan? Akhirat merupakan substansi dari kehidupan. Karena ia adalah tujuan akhir hidup ini. Maka, jiwa yang memiliki karakteristis yang sama dengan akhirat tentu saja lebih penting daripada raga. Walaupun sebenarnya jiwa itu bukan akhirat itu sendiri.

Cobalah perhatikan orang yang cacat fisik! Apakah dia tidak punya hati, tidak punya cinta, dan rasa? Tentu saja masih punya. Meski ada orang yang tidak diberikan anugrah penglihatan –misalnya- oleh Allah, tetapi Dia tetap memberikan hati atau jiwa. Intinya, semua manusia pasti memiliki jiwa, namun tidak semuanya memiliki raga yang lengkap.

Jadi, jiwa itu lebih penting daripada raga.
Wallahu’alam[]

Senin, 21 Desember 2009

Apakah Ilmu Itu Sugesti?

0 komentar


Manusia sekarang sudah sampai pada peradaban ilmu pengetahuan yang modern. Berbagai macam cabang ilmu pengetahuan dikembangkan, yang tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Tujuannya adalah agar kehidupan manusia lebih hidup dan berarti. Agar segala bentuk kemudahan dalam hidup hadir di depan mata kita. Karena bukan suatu bentuk kemodernan jika tidak ada kemudahan.

Telah terbukti begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Bahkan tanpa ilmu, manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Karena segala sesuatunya untuk hidup di dunia ini harus berlandaskan dengan ilmu. Hal itu telah terlihat sejak pertama kalinya kita menangisi dunia ini.

Manusia akan berani bertindak untuk melakukan sesuatu setelah adanya ilmu tentang sesuatu itu dulu. Dan kalaupun ada yang melakukan percobaan tanpa landasan ilmu terlebih dahulu, maka tujuannya pun tidak lepas untuk ilmu. Bukankan awal dari percobaan itu adalah penasaran, dan penasaran itu bertujuan untuk pengetahuan?
Nah, ketika setiap perbuatan itu atas landasan dan untuk ilmu, maka apakah ilmu itu sebuat sugesti?

Terlepas dari positif maupun negatifnya jawaban atas pertanyaan di atas tadi, yang terpenting kita sendiri sebenarnya dapat menilai hal itu. Jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Kita lah yang dapat membuktikannya. Tidak perlu praktek secara khusus, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita telah membuktikannya.

Jika kita telah mengetahui jawab dari pertanyaan tersebut, lalu adakah kemungkinan kita akan meninggalkan pekerjaan mulia menuntut ilmu? Akankan proses penuntukan ilmu itu akan terhenti secara formal saja? Maka, benarlah adanya perkataan Rasullah SAW, bahwa kita harus menuntut ilmu dari buayan sampai liang lahat. []

Rabu, 07 Oktober 2009

Memaknai Bencana Indonesia

0 komentar

Oleh: Ahmad Sadzali

Pamor Indonesia sebagai negara yang akrab dengan bencana alam sudah tidak diragukan lagi. Betapa tidak, rutinitas bencana terus berjalan dan berkesinambungan layaknya episode dalam sinetron. Tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati ini sekarang telah menjadi sebuah ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, karena ia bisa datang kapan saja dan di mana saja tanpa ada dugaan atau perhitungan sebelumnya. Suasana senang menikmati indahnya bumi Khatulistiwa, bisa saja setiap saat berubah menjadi suasana sedih dan menakutkan ketika melihat banyaknya korban berjatuhan dan rumah serta gedung yang runtuh oleh dahsyatnya getaran bumi.

Bila semua ini telah terjadi, lalu apakah kita hanya bisa diam menerima keadaan?

Tidak. Tentunya kita tidak bisa hanya tinggal diam dengan musibah yang menimpa kita. Paling tidak kita akan menanyakan, "Mengapa semua ini bisa terjadi?". Namun dari pertanyaan yang simpel itulah sebenarnya kita akan tahu apa yang selanjutnya harus kita perbuat? Dan apa yang ke depannya harus kita perbaiki?

Dalam menaggapi bencana atau memaknainya, semua orang tentu memiliki perspektif yang beragam. Ada yang memaknainya sebagai azab dan siksa dunia, ada juga menganggapnya sebagai ujian dan cobaan, ada juga yang menyikapinya sebagai peringatan atau teguran kepada kita semua, dan bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai manfaat dan keuntungan. Itu semua tergantung pada individu masing-masing.

Namun tentunya kita sebagai Muslim dan masyarakat Indonesia yang umumnya beragama Islam, merasa bahwa bencana alam itu adalah sebuah cobaan dan peringatan dari Allah SWT. Kita yakin kalau cobaan ini bisa kita lewati dengan baik, maka kadar keimanan kita akan semakin bertambah.

”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2-3).

Di samping itu kita juga yakin kalau ini adalah peringatan keras dari Allah atas kelalaian kita selama ini. Allah memperingati kita dengan bencana ini agar kita kembali kepada-Nya, jangan seperti orang-orang terdahulu yang telah melakukan kemungkaran terhadap-Nya.

Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).

Bagi mereka yang tertimpa musibah tersebut, maka tidak ada kata lain selain kata sabar. Tanpa kesabaran, maka untuk menerima semua ini sungguhlah berat. Dalam psikologi manusia, kehilangan keluarga, orang-orang tercinta, dan harta benda bukanlah hal yang mudah. Sedih dan beban mental sudah menjadi fitrah manusia, namun kesabaranlah yang akan membuktikan kualitas taqwa.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153).

Saatnya sekarang kita benar-benar melakukan perubahan yang nyata. Dari kemungkaran kepada ketaqwaan, dari kemusyrikan kepada keimanan. Sudah terlalu banyak orang yang berbicara tentang hikmah di balik bencana, sudah terlalu sering tulisan yang mengangkat tema hikmah dari bencana, tapi kalau itu semua hanya seperti angin lalu, maka apalah artinya. Wallahu a'alam. []

Selasa, 21 Juli 2009

Kematian Itu Sungguh Dekat

0 komentar

Kematian adalah suatu kepastian. Tak ada satu pun makhluk di alam ini yang kekal. Hanya Allah saja lah yang Maha Kekal. Kehidupan kita di dunia ini laksana mimpi belaka. Terkadang mimpi indah. Kadang juga mimpi buruk. Semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Dan suatu saat nanti kita akan bangun dari tidur panjang ini. Bangun lewat kematian.
Kematian itu sungguh terasa sangat dekat. Aku benar-benar merasakannya. Inilah salah satu hikmah yang aku ambil dari meninggalnya teman dekatku, Badrun. Beberapa menit lalu aku masih bercanda ria dengan dia. Tapi ternyata kuasa Allah berkata lain. Kegembiraan itu telah direnggut dari jiwaku dengan kematian dia. Kematian yang tidak pernah terduga. Dalam hitungan menit, bahkan detik, Allah telah mengambil dia.
Sekarang aku benar-benar sadar akan sebuah kematian. Kematian datang tidak dengan permisi. Kematian datang tanpa pamrih. Kematian datang tanpa malu. Kematian datang tanpa diundang. Kematian datang bias kapan pun dan di mana pun.
Lalu apakah kita siap untuk menghadapi kematian itu? Bagaimana jika saat kematian menjemput, kita dalam maksiat kepada Allah? Sempatkah kita bertobat? Kalau sekarang kita penuh dengan lumuran dosa, lalu kapan mau tobat?
Semoga kita selalu ingat dengan kematian. Karena dengan begitulah kita akan selalu ingin dekat dengan Allah SWT.[]

Selasa, 23 Juni 2009

Hati Nurani dan Materi

0 komentar
Gila! Gila banget!
Kemajuan dan kecanggihan zaman ini ternyata bertolak belakang sekali dengan kemerosotan akhlak dan moral. Zaman di mana semuanya serba materi. Zaman yang tidak pernah kompromi dengan dengan hati nurani.
Namun apakah layak kita mengutuk zaman sekeras-kerasnya, sedangkan kita sendiri berada di dalamnya. Apakah pantas begi kita menyesali keadaan zaman seperti sekarang ini, sedangkan kita juga menikmatinya. Apakah kita sendiri tidak bercermin. Dan apakah kita lupa atau mungkin kita pura-pura lupa, bahwa yang membentuk zaman seperti sekarang ini adalah kita sendiri.
Coba sekarang kita tanyakan saja pada diri kita masing-masing. Apakah kita masih punya hati nurani di zaman ini dan buat zaman ini? Atau kita lebih mementingkan materi?
Ingatlah! Hati nurani itu adalah anugrah yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, manusia. Dengan hati nurani itulah kita berbeda dengan binatang. Sekarang bila kita sudah tidak punya hati nurani, apakah kita mau disamakan dengan binatang?[]

Kamis, 18 Juni 2009

Bukan Penghalang

0 komentar
Kesalahan bukan penghalang kebenaran. Keburukan bukan penghalang kebaikan. Kekurangan bukan penghalang prestasi. Jangan terjebak oleh itu semua, lalu berhenti untuk berbuat.

Taubat

0 komentar
Bilal bin Rabbah berkata:
"Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah pada kebesaran Dzat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya"

Ujian

0 komentar
Dalam kesakitan teruji kesabaran.
Dalam perjuangan teruji keikhlasan.
Dalam ukhuwah teruji ketulusan.
Dalam tawakkal teruji keyakinan.
Hidup akan sangat indah jika segala perbuatan hanya untuk Allah.

Do'a

0 komentar
Do'a memberikan kekuatan pada orang yang lemah. Membuat orang yang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.

Pilihan Pasti

0 komentar
Jangan tukar emas dengan sampah, yang besar dengan yang kecil, harapan dengan penyesalan, kebahagiaan dengan tangisan, masa depan dengan kenikmatan sesaat, dan akhirat dengan dunia.

Arti Sahabat

0 komentar
Sahabat akan terus ada di hati, menunjukkan cinta sejati, menemani hidup ini, menunjukkan jalan menuju Ilahi Rabbi. Jasad boleh tiada, tapi pemberian sahabat harus selalu ada. Baik itu ilmu maupun cinta.

Antara Tiga Masa

0 komentar
Masa lalu adalah sejarah. Sekarang adalah masa depan. Akan datang adalah impian. Jas Merah, kata Bung Karno, itu berfungsi sebagai motivasi dan evaluasi. Tapi orang besar banyak melihat ke masa depan dan sedikit melihat ke belakang. Hidup kita adalah sekarang dan yang akan datang.

Falsafah Angin

0 komentar
"Tau gak falsafah angin? Ia memberikan kesejukan dan banyak kebaikan bagi kita, tapi kita tidak dapat melihatnya, namun hanya dapat dirasakan. Seperti itu juga cinta. Dan kalau kita kiaskan kepada manusia, itu lah orang-orang yang ikhlas"
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template