Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Mei 2010

Bhinneka dan Ujian Liberalisme

3 komentar

Hidayatullah.com--Sudah menjadi maklumat umum bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, baik keberagaman suku bangsa, bahasa, adat istiadat, norma masyarakat, bahkan sampai watak dan karakteristik setiap penduduknya.

Indonesia memiliki 17.667 buah pulau, baik besar maupun kecil. Sebagian besar adalah perairan, sedangkan luas wilayah daratannya hanya 735.000 mil persegi (seluas Alaska). Di sekian banyak pulau yang ditempati penduduk Indonesia tersebut, terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang sangat berbeda. Dan sistem sosialnya juga berbeda-beda, dari desa-desa kecil yang terpencil sampai kepada kota-kota metropolitan yang besar dan maju. Maka wajar saja kalau negara kita ini memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beraneka ragam namun satu jua.

Semboyan ini sesungguhnya sudah sangat mewakili gambaran masyarakat Indonesia. Meski keberagaman itu banyak sekali, namun semuanya itu masih tetap berada di bawah satu atap, yaitu negara Republik Indonesia. Keragaman yang ada bukanlah suatu hambatan bagi masyarakat Indonesia untuk bersosial dan berinteraksi. Ketika semboyan ini diserukan, seketika itu juga jiwa persatuan itu tumbuh.

Akan tetapi permasalahannya tidak hanya sampai di situ saja. Ternyata di balik semboyan ini juga tersirat suatu peringatan yang penting bagi masyarakat Indonesia agar selalu menjaga integritas bangsa. Dengan kata lain, sebenarnya semboyan tersebut sangatlah sensitif terhadapat keutuhan tanah air. Jika keberagaman tersebut tidak dapat dijembatani dengan baik, maka dengan mudahnya masyarakat Indonesia akan pecah. Terbukti dengan kasus bercerainya Timor Timur dari NKRI, adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), perang suku yang terjadi di Sambas, kericuhan antara umat Islam dan Kristen di Poso, dan lain sebagainya.

Tentu saja ini menjadi catatan dan perhatian yang serius bagi kita semua. Keutuhan NKRI bagaimanapun harus tetap dijaga dan dipertahankan. Namun bukan berarti untuk mempertahankannya itu, kita harus mengorbankan keberagaman yang ada. Bukan berarti juga keberagaman itu yang menjadi sebab utama perpecahan yang ada. Karena keberagaman yang ada memang sudah menjadi sunnatullah. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut, bisa menjadikan rahmat bagi umat.

Ujian liberalisme

Sekarang keberagaman yang ada di Indoneisa, khususnya keberagaman budaya, tengah menghadapi ujian yang cukup besar. Ujian itu datang melalui arus yang diberi nama dengan liberalisasi. Arus ini seolah menawarkan solusi yang tepat untuk mengatasi keberagaman tersebut. Kebebasan menjadi alternatif persamaan atas perbedaan. Sebab inilah mengapa liberalisasi itu dikatakan sebagai ujian bagi keberagaman Indonesia.

Bahkan liberalisasi tidak hanya sebagai ujian saja bagi kebhinekaan nusatara, namun lebih dari itu ia juga menjadi pengkhianat bagi kultur budaya Indonesia. Liberalisasi telah menjadi musuh dalam selimut bangsa. Salah satu buktinya adalah ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dilayangkan, banyak para liberalis yang mengatasnamakan keberagaman budaya untuk menolaknya.

Gesekan budaya Indonesia dengan budaya Barat sudah sejak lama muncul. Yaitu ketika mulai masuknya kolonial bangsa Barat ke Indonesia. Bangsa Barat ketika menjajah Indonesia, tentu saja tidak hanya karena mengeksplorasi rempah-rempah atau kekayaan alam Indonesia belaka. Di samping itu juga terdapat visi lain, yaitu penyebaran ajaran kepercayaan dan kebudayaan Barat.

Orang Indonesia yang hidup di zaman kolonial ini tentu sangat merasakan bagaimana gesekan budaya pribumi dengan budaya Barat itu terjadi. Dengan kekuasaannya, Barat sangat mudah memaksakan budaya dan pemikirannya kepada masyarakat Indonesia. Hasilnya adalah modernisasi adat dan budaya itu sendiri.

Tapi yang seharusnya menjadi pertanyaan mendasar bagi kita adalah, apakah cocok budaya dan pemikiran Barat itu jika diterapkan pada masyarakat Indonesia?

Pada dasarnya kultur Barat dan Indonesia sangat berbeda. Kultur Barat dengan kapitalismenya memiliki sifat seperti berikut; adanya minat yang tinggi terhadap hal yang baru, adanya semangat berpetualang dalam mengusahakan hal-hal yang baru tersebut, tingginya individualisme, dan pengagungan kepada materi. Sifat seperti ini tidak mudah untuk ditanamkan di tempat lain. Ibarat suatu bibit tanaman, maka sifat-sifat yang ada pada Barat ini membutuhkan lahan yang sesuai dengannya, agar ia bisa tumbuh subur.

Agar lahan itu cocok dengan bibitnya, maka setidaknya ada persyaratan yang harus dimiliki. Salah satu syarat untuk lahan tersebut adalah, adanya suatu suatu kelas yang kuat dari kaum urban yang terdiri dari orang-orang yang relatif bebas serta mandiri. Namun sayangnya Indonesia belum memiliki kelas seperti itu. Seperti realita sekarang, di Indonesia masih memiliki keragaman sosial. Konsep pemerintahan yang menjadi faktanya. Ada pemerintahan kota, ada juga pemerintahan desa. Dan keragaman seperti ini telah melekat dengan budaya Indonesia, serta masuk dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu bukti untuk menguatkan pendapat ini adalah kebijaksanaan kolonial Belanda di bidang perdagangan pada abad ke-17 dan ke-18, bahkan di abad ke-19, hanya mampu membawa sedikit perubahan di bidang kehidupan ekonomi. Kebijakan ekonomi Belanda ternyata tidak mampu mengubah struktur sosial masyarakat Indonesia secara berarti.

Sekiranya ini sudah cukup untuk membuktikan kalau budaya pemikiran Barat itu tidak cocok jika diterapkan di Indonesia. Negara ini bukan lahan yang pantas bagi bibit-bibit Barat seperti liberalisme. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kultur Barat dan Indonesia, yang menyebabkan ketidakcocokan itu.

Selanjutnya, ada catatan penting yang harus disampaikan di sini. Kolonialisme Barat ternyata masih belum berakhir. Sampai sekarang gaungnya masih dapat didengarkan, meskipun masih sayup-sayup. Jika dulu kolonialisme adalah dengan cara pendudukan pemerintahan dan mengambil segala kekayaan alam yang ada di Indonesia, namun sekarang gerakan kolonialisme itu berbentuk ekspansi pemikiran Barat ke dalam masyarakat kita. Akan tetapi tujuan utama dari kolonialisme kuno dan sekarang tetap sama, yaitu menguasai negara dan dunia. Jika itu di Indonesia, niscaya ia akan mengusai Indonesia.

Maka di sinilah letaknya peranan kebudayaan beragam Indonesia dalam membasmi bibit-bibit Barat yang kolonialis dan liberalis. Keragaman budaya ini jangan mau dirasuki begitu saja oleh paham-paham seperti ini. Konsep pemikiran Barat seperti liberalisme itu bukan malah menjadi perantara untuk menjembatani kebhinnekaan Indonesia, akan tetapi justru menjadi bumerang yang nantinya menimbulkan kekacauan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Wallahu’alam.[www.hidayatullah.com]

Rabu, 13 Januari 2010

Bocoran “Soal” Ujian Nasional

1 komentar

Ujian Nasional bukan merupakan barang baru lagi bagi siswa dan siswi di Indonesia. Meski sempat beberapa kali berubah nama, namun substansinya tetap sama. Yaitu sebagai standarisasi kelulusan siswa se-Indonesia. Karena UN mungkin dianggap satu-satunya jalan terbaik untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Buktinya sampai detik ini UN masih eksis dilaksanakan.

Namun sekian tahun berjalan. Mulai dari saya SD sampai sekarang duduk di bangku kuliah, pendidikan Indonesia tetap gitu-gitu aja. Alih-alih mau memperbaiki pendidikan, malah kenakalan remaja yang mengatasnamakan dirinya pelajar semakin meraja lela. Sampai-sampai Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang lagi dilanda krisis yang sangat memalukan dan mengkhawatirkan melebihi krisis ekonomi global, yaitu krisis akhlak dan moral.

Atas dasar ini, maka sudah sepatutnya kita tanyakan kepada diri kita sebagai pengenyam pendidikan ala Indonesia, benarkah sengan sistim pendidikan seperti ini, kita itu betul-betul dididik? Seberapa banyak pendidikan yang di dapat di lembaga “pendidikan” Indonesia? Dan kalaupun ada, seberapa membekaskah pendidikan itu, hingga kita akan selalu berperilaku baik? Atau jangan-jangan yang terjadi di lembaga “pendidikan” Indonesia itu hanya transformasi informasi saja?

Kembali kepada masalah UN. Akhir-akhir ini banyak kalangan yang menyuarakan sekaligus mempertanyakan kembali efesiensi dan manfaat UN. Karena mengingat hasil yang diperoleh dari UN itu sampai sekarang masih belum mencapai tujuan, yaitu standarisasi pendidikan. Malahan yang ada justru “dikotomi” pendidikan antara sekolah-sekolah di perkotaan dengan sekolah yang terletak di pelosok-pelosok daerah. Bagaimana tidak, dengan fasilitas dan kemampuan tenaga pengajar yang berbeda-beda di tiap sekolah dan daerah, standarisasi kelulusan siswa justru lebih dulu “dipaksakan”.

Pertanyaannya adalah, jelas-jelas hasil yang diperoleh dari UN sungguh sangat tidak memuaskan, lantas mengapa UN tetap dipertanyakan?

Meski hanya sebatas analisa, namun kecendrungan adanya permainan bisnis dan tander besar dari pengadaan UN ini sepertinya bisa menjadi sebab utama untuk menjawab pertanyaan di atas. Contoh kecilnya “bisnis” pensil 2B dan penggaris ujian, jika itu diwajibkan kepada seluruh siswa-siswi se-Indonesia, apakah itu bukan sumber duit? Belum banyaknya dana yang habis untuk kepanitiaan, sosialisasi, pengawasan, dan lain sebagainya.

Coba kita pikirkan dengan akal sehat kita yang sesehat-sehatnya, apakah mungkin dan pantas kelulusan siswa-siswi yang belajar 3 tahun bahkan lebih, hanya ditentukan dengan 5 mata pelajaran? Hanya ditentukan dalam waktu 3 hari ujian? Hanya ditentukan berdasarkan hitam di atas putihnya lembar jawab? Tidakkah penilaian moral lebih penting dari nilai ujian? Tidakkah pendidikan itu lebih diutamakan dari pengajaran?
Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya lembaga “pendidikan” Indonesia dirubah namanya menjadi lembaga pengajaran dan transformasi informasi saja.

Pertanyaan terakhir, apakah sebenarnya memang sudah tidak ada lagi jalan lain yang lebih baik untuk memajukan pendidikan di Indonesia selain dengan cara UN?
Saya rasa jawabannya tentu saja ada. Dan pastinya orang-orang “pintar” di atas sana lebih mengetahuinya. Hanya saja mereka masih belum tergerak untuk melakukan reformasi pendidikan di negara kita tercinta ini. Semoga saja pendidikan kita semakin baik.Wallahu’alam[]

Jumat, 11 Desember 2009

Pesona Wanita Shalehah

0 komentar

Seperti indahnya pelangi yang menghiasi sore hari, begitulah mungkin perumpamaan wanita sebagai penghias dunia ini. Dan bahkan lebih penting dan berarti lagi dari hanya sekedar perhiasan. Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini tanpa adanya wanita?

Kata Rhoma Irama dalam lagunya, “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Cinta itu ibarat seorang wanita. Bisa dikatakan wanita adalah sumber inspirasi cinta. Boleh jadi seandainya tidak ada wanita, maka tidak ada cinta. Ya, mungkin begitulah jika para pujangga berbicara tentang korelasi antara cinta dan wanita.

Lantas wanita yang bagaimanakah yang benar-benar bisa menjadikan hidup kita ini indah, yang dapat menghiasi setiap alunan nafas kita, menemani setiap detak jantung kita sehingga berbuah menjadi sebuah tasbih kepada Allah?

Maka jawabanya termaktub dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya:
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim)

Tolak ukur wanita itu bisa dikatakan shalehah atau tidak adalah ketaqwaannya. Dan kadar ketaqwaannya itu menetukan tingkat keshalehah wanita tersebut. Sedangkan ketaqwaan itu sedikit banyaknya dapat dinilai dari seberapa besar ketaatannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah, dan dalam menjauhi segala larangan-Nya.

Banyak poin yang tentunya dapat diamalkan dalam rangka menjadi wanita yang shalehah. Baik poin itu berupa “reques “ dari Al-Qur’an, maupun dari kaum yang menyukai wanita itu sendiri, yaitu kaum Adam.

Ketaatan yang akan membungkusi keshalehan tersebut tertuang dalam poin-poin penting yang perlu diperhatikan oleh wanita. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat….”

Secara prinsip, wanita shalihah adalah wanita yang selalu istiqomah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pesona kemuliaannya bukan dari perhiasan dan aksisoris yang dia gunakan. Sebaliknya, ia selalu menjaga kecantikan dirinya supaya tidak berbuah menjadi fitnah bagi orang lain dan dirinya sendiri. Ini sangat penting dilakukan, karena kecantikan sewaktu-waktu menjadi energi positif, dan bisa juga di waktu yang lain menjadi energi negatif.

Namun ketika ia memiliki keterbatasan fisik, wanita shalehah tidak akan kecewa dan sakit hati terhadap karunia Allah tersebut. Bahkan ia masih dapat bersyukur dengan apa yang ada. Kepribadiannya yang baik yang akan merubah dirinya menjadi lebih indah dan menarik.

Banyak wanita yang dalam kehiudpannya bisa sukses, atau yang sering kita sebut dengan wanita karir. Tapi itu semua tidak akan menjamin keshalihannya. Kita tidak dapat hanya mengukur dari kesuksesan dalam karirnya saja, tanpa mengabaikan kesuksesan-kesuksesan lain seperti kesuksesan dalam mengurus rumah tangga, kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya, dan bahkan kesuksesan dalam menempatkan dirinya sendiri sebagai Muslimah.

Pandangan tentang wanita shalehah ini tentunya bersifat umum. Baik itu ditujukan kepada wanita yang sudah berkeluarga, maupun bagi wanita yang belum berkeluarga.

Bagi remaja Muslimah, untuk menjadi wanita shalehah membutuhkan komitmen yang tinggi. Lingkungan pergaulan menjadi faktor utama yang menunjang. Lingkungan dalam bergaul sangat besar sekali dalam menentukan perkembangan kepribadian remaja. Bahkan bisa dikatakan bahwa remaja adalah produk lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat secara luas.

Keshalehan seorang remaja Muslimah menjadi harga mati dalam kehidupan rumah tangga, jika ia berkeluarga kelak. Karena dia lah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, sebagai contoh, pembentuk suasana keluarga yang harmonis.

Tidak hanya sampai di situ. Wanita shalehah juga merupakan kunci penting dalam menentukan kebaikan dan kemajuan suatu bangsa. Sering sekali kita mendengan istilah, “Di belakang pemimpin yang hebat, ada wanita yang luar biasa”. Bahkan wanita adalah tiang negara. Ya, kenyataanya memang benar demikian. Laki-laki tanpa wanita tidak akan jadi apa-apa. Berapa banyak laki-laki yang mendapatkan motivasi untuk bekerja dan berbuat dari wanita? Berapa banyak para bapak yang selalu bersemangat kerana istrinya yang shalehah? Kita tidak bisa memungkiri itu semua.

Sehingga pada akhirnya kita harus bersyukur atas ciptaan Allah yang paling indah ini. Wanita memang sungguh sangat berharga dan tiada taranya. Pengaruhnya sungguh sangat besar. Pesonanya akan selalu bersinar dalam setiap langkah kaki para lelaki.[]

Minggu, 20 September 2009

Antara Intelektual dan Politik

0 komentar
Oleh: Ahmad Sadzali

SALAH satu hal menarik untuk dibicarakan setelah pesta demokrasi adalah peran ulama atau kiai dalam ranah perpolitikan Indonesia. Banyak ulama yang mencoba terjun ke dalam kancah politik, dengan alasan politik sebagai media untuk dakwah.

Situasi semacam itu ternyata menjadi sorotan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan apakah ulama benar-benar mampu berpolitik? Apakah dengan terjunnya ulama dalam bidang politik dapat mengubah suasana perpolitikan di Indonesia?

Ada pendapat yang menyatakan agar ulama mundur dari dunia politik, karena tugasnya mengajarkan agama, pendidikan dan sosial kepada masyarakat. Politik itu kotor, sedangkan agama itu sakral. Jangan sampai mengotori agama yang sakral tersebut dengan politik.

Pernyataan seperti itulah yang lantas mendorong KH Miftakhul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim angkat bicara. Menurutnya, dalam situs Republika Online, 4 Agustus 2009, pernyataan seperti itu harus diwaspadai oleh umat Islam khususnya warga Nahdiyin. Sebab pernyataan seperti itu sekuler yang terselubung, berusaha mengerdilkan Islam.

Dalam sejarah kejayaan Islam, peran intelektual sangat besar. Khalifah Islam adalah para pemimpin yang selalu dan sangat memerhatikan masalah ilmu pengetahuan dan keintelektualan. Di belakang khalifah adalah deretan orang yang ahli dalam bidang masing-masing. Maka tak ayal kalau khilafah Islamiyah bisa mencapai kejayaan karena keintelektualannya.

Peranan ulama dahulu sebagai inspirator kemerdekaan Indonesia. Di antaranya HOS Cokroaminoto, Dr Wahidin Sudiro Husodo, Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, Ki Hajar Dewantoro, M Natsir dan sejumlah ulama serta intelektual lainnya.

Pendapat yang berusaha untuk memisahkan intelektual dengan politik sebenarnya pendapat yang sekuler. Pendapat yang mengotomi politik itu sendiri. Politik dinilai sebagai sesuatu yang hina, sehingga agama yang sifatnya suci tidak diperbolehkan masuk.

Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah adalah jargon yang banyak membuat ilmuwan atau ulama yang terjun di dunia politik kehilangan arah tujuannya.

Bila hal seperti ini terus terjadi dan berkembang di dalam dunia intelektual, maka akan menjadi momok bagi ulama maupun ilmuwan. Akhirnya mereka akan makin jauh dari dunia politik, sehingga terciptalah sebuah negara yang sekuler. Negara yang asas pemikirannya selalu berlandaskan untung dan rugi, tanpa menghiraukan etika dan moral.

Maka kita perlu mempersandingkan kembali antara intelektual dengan politik, keduanya saling melengkapi. Politik tidak akan terkontrol tanpa adanya kehadiran intelektual. Politik yang busuk adalah politik yang tanpa dilandasi intelektual. Politik dianggap kotor dan kejam karena tidak dikawal dengan intelektual. Jadi kehadiran intelektual dalam dunia politik sangatlah penting. Keduanya tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan.

Sekarang ini Indonesia tengah dilanda krisis politikus yang intelek, sehingga elite politik banyak yang tidak bermoral. Kekuasaan dalam pikirannya hanyalah sebuah alat untuk meraih kenikmatan dunia. Pemilu baginya hanyalah ajang perlombaan antara menang dan kalah.

Maka, tidak bisa disalahkan kalau Indonesia tidak bisa bangkit lagi seperti zaman perjuangan dulu. Tokoh elite politiknya tidak sebobot dengan politikus dulu. Contohnya, Soekarno dan Hatta. Mereka adalah tokoh politik dan juga tokoh intelektual.

Sekarang Indonesia perlu berbenah diri kembali. Indonesia perlu mencetak generasi penerus politikus yang akan memikirkan bangsa dengan politikus yang intelek.

Indonesia memerlukan pemimpin yang bisa memadukan antara intelektual dan politik, sehingga dapat bangkit kembali dari penjajahan dan keterpurukan.

[banjarmasinpost.co.id/edisi 20 Agustus 2009]

Minggu, 02 Agustus 2009

Teh Hangat Untuk Indonesia

1 komentar


Sekarang kita sudah memasuki bulan Agustus di tahun 2009. Bulan yang penuh dengan sejarah bagi bangsa Indonesia. Bulan yang di dalamnya tertoreh tinta emas perjuangan para pahlawan Indonesia. Bulan yang telah mengeluarkan Indoensia dari belunggu penjajahan. Bulan yang sarat dengan makna-makna motivasi untuk perkembangan bangsa ini di masa yang akan datang.

Tentu sebagai bangsa yang menghargai sejarahnya, hari kemerdekaan yang sangat berharga ini tidak akan lepas dari peringatan. Peringatan hari kemerdekaan memang penting bagi kita. Peringatan hari kemerdekaan memang dapat membawa kita kepada semangat baru, seperti semangatnya para pahlawan untuk memerdekakan bangsa ini.

Ingat kata Bung Karno! Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah perjuangan bangsanya. Begitulah. Sejarah sangat berharga dalam kehidupan kita. Dengan sejarah lah kita bisa mengenal bangsa kita. Arti pentingnya sejarah tidak aka pernah tergantikan. Karena ia merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menghargai sejarahnya. Bangsa Indonesia menghormati sejarahnya dengan penuh keanggunan. Setiap hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, selalu mendapat tempat untuk diperingati. Namun apakah dengan demikian bangsa Indonesia sudah bisa dikatakan bangsa yang besar?

Peringatan demi peringatan tidak cukup untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Terkadang kita lupa makna dan maksud dari sebuah peringatan tersebut. Terkadang kita hanya sekedar asal menjalankan dan melaksanakannya saja. Terkadang sejarah yang begitu penting itu hanya lewat sepintas di depan mata. Terkadang kita memang lalai.

Apakah pernah adalah dalam benak kita semua, bagaimana seandainya para pejuang yang telah berkorban jiwa, raga, dan nyawanya itu melihat kondisi bangsa seperti sekarang ini? Apakah pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa mereka akan menangis? Apakah pernah kita berpikir bahwa meraka akan merasa perjuangannya sia-sia belaka?

Sadarlah kawan! Bangsa Indonesia sekarang ini tidak jauh lebih baik dari bangsa yang terjajah. Bangsa Indonesia ini pada hakekatnya terbelung dalam penjajahan. Penjajahan yang lebih menyakitkan dari penjajahan colonial. Penjajahan yang kita hadapi sekarang adalah penjajahan moral, penjajahan pikiran, penjajahan budaya, dan penjajahan indentitas bangsa.[]

Jumat, 03 Juli 2009

Tipu Muslihat Obama dan Yahudi Israel

0 komentar


Saya rasa masih terngiang-ngiang sekali di telinga kita peristiwa kebiadaban Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Serangan brutal selama lebih dari tiga pekan itu sudah membuat bumi Gaza seperti kota mati. Sudah menewaskan lebih dari 1500 jiwa. Belum lagi penderitaan rakyat Palestina yang sangat berat setelah perang. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal lagi, terpisah dari keluarga, menderita cacat, kesulitan air bersih dan listrik, dan penderitaan lainnya.
Kondisi seperti itu tentu saja mendapat sorotan lebih dari dunia Internasional, apa lagi dari dunia Islam. Terang saja banyak umat Islam di seluruh dunia yang berunjuk rasa mengecam kebiadaban Zionis Israel. Bahkan umat non-Islam pun juga banyak yang memprotes aksi Israel tersebut dengan alasan kemanusiaan. Tak berlebihan juga bila ada beberapa negara yang langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel.
Beberapa saat sebelum pecahnya agresi Israel ke Palestina pada tanggal 27 Desember 2008, terjadi juga kejadian yang menghebohkan seluruh penduduk dunia, yaitu krisis financial Amerika Serikat yang sampai sekarang dampaknya masih sangat terasa. Banyak orang beranggapan bahwa krisis financial Amerika berarti juga krisis financial dunia. Dan terbukti, banyak negara-negara yang terkena imbasnya, termasuk Indonesia.
Dua peristiwa besar inilah yang mewarnai akhir tahun 2008 kemaren. Dua peristiwa yang kalau kita amati dan pikirkan dengan akal sehat sangat bertolak-belakang. Di satu sisi terjadi krisis financial Amerika yang begitu dahsyat. Di sisi lain terjadi pembuangan uang besar-besaran untuk anggaran perang. Sementara itu sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika adalah negara yang paling nomer satu berada di belakang Israel dan mendukung setiap tindakan Israel. Mungkin ini bisa menjadi catatan kritis awal kita terhadap dua peristiwa besar yang terjadi hampir bersamaan ini.
Tapi di tengah dua peristiwa besar ini, masyarakat dunia tidak lantas berputus asa dan pesimistis. Karena telah muncul seorang tokoh atau mungkin figur yang dianggap dapat menyelesaikannya, yaitu presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama. Dari awal-awal kempanye politik menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, banyak kalangan yang menilai bahwa sosok ini lah yang dapat dipercaya untuk membuat suatu perubahan dan perbaikan pada krisis financial Amerika. Dan saat-saat menjelang pelantikannya sebagai presiden Amerika, tidak sedikit orang juga yang berpendapat dan menaruh harapan kepada Obama untuk dapat menyelesaikan krisis Timur Tengah yang sudah terjadi berkepanjangan.
Tak hanya itu, sosok Obama bahkan sudah banyak sekali menjadi inspirasi dan bahkan motivasi bagi masyarakat di berbagai penjuru dunia. Karena dengan terpilihnya ia sebagai presiden Amerika kulit hitam pertama, maka dianggap ia sudah dapat menjadikan hal sebelumnya tidak mungkin menjadi mungkin. Maka tak ayal juga jika akhirnya orang banyak yang memuja-muji sosok yang satu ini. Bak seorang pahlawan di akhir zaman. Terlebih lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia yang merasa bangga dengan Obama, yang hanya dikarenakan ia pernah tinggal dan bersekolah di Menteng, Jakarta.
Maka sebenarnya kejadian ini semua, kalau boleh saya katakan hanyalah tipu muslihat kaum missionarisnya kaum Yahudi untuk menguasai dunia dan khususnya untuk menghancurkan umat Islam. Dengan kata lain, kejadian yang telah disebutkan di atas tadi adalah rekayasa kaum Yahudi belaka. Ini sangat mungkin sekali dilakukan oleh Yahudi, karena ia akan menempuh berbagai cara untuk melumpuhkan rival abadinya, Islam. Walaupun harus dengan dana yang sangat besar dan kebohongan yang sangat rapi.
Contoh lain yang dapat menguatkan pendapat ini adalah kejadian WTC beberapa tahun silam. Dengan rekayasa Yahudi yang rela menghancurkan gedung pencakar langit yang megah itu dan menuduh bahwa kaum teroris lah yang melakukannya, akhirnya Amerika berhasil membuat image baru bagi dunia bahwa Islam adalah agama teroris. Bahkan dengan dalih itu juga Amerika dapat memerangi Afganistan yang dituduh sebagai sarangnya teroris Jaringan Al-Qaida.
Sementara tipu muslihat melalui tokoh Obama adalah strategi baru yang diluncurkan Yahudi untuk menusuk Islam dari dalam. Setelah mereka berhasil membuat berbagai figur-figur melalui dunia intertaiment lewat kemajuan teknologinya yang akhirnya banyak ditiru dan didewakan oleh generasi muda di berbagai belahan dunia, tidak ketinggalan juga generasi Muslim. Sekarang Yahudi mencoba untuk menyihir dunia agar mendewakan sosok seorang pemimpin Obama yang dipercaya akan mengadakan perubahan. Perubahan seperti apa?
Sekarang Obama pun menempuh cara baru dalam rangka untuk menguasai dunia. Setelah dengan cara kekerasan dan senjata yang dilakukan presiden Bush tidak ampuh, maka Obama mencoba melakukan perubahan cara, yaitu dengan kekuatan kata-kata.
Hal ini pun sangat sejalan dengan kata seorang missionaris Henry Martyn. Ia mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.
Dalam hal ini kaum Yahudi juga telah membuktikan akan kekuatan teror "kata" dan "kasih". Begitu dahsyatnya sehingga mampu menghancurkan imperium besar (Utsmani) yang telah berusia hampir 700 tahun. Sejarah telah mencatat bahwa bagi Zionis, Turki Utsmani adalah penghalang utama mewujudkan negara Yahudi di Palestina. Turki Utsmani sulit dihancurkan dengan senjata. Maka untuk menghancurkannya, Yahudi menempuh cara lain yaitu melalui organisasi Committee and Union Progress (CUP) yang beranggotakan para cendekiawan Turki yang telah ter-Barat-kan (westernized).
Dan dalam skenario dua peristiwa besar tadi, Yahudi paling tidak telah memakai pepatah “sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui”. Tidak hanya membunuh ribuan umat Islam di Palestina, mareka juga telah membunuh hati umat Islam agar menaruh harapan kepada orang Kafir. Sedangkan umat Islam tidak dibolehkan menaruh harapan apa pun kepada orang kafir. Seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali-‘Imran: 28)
Maka umat Islam dalam hal ini sangat diharapkan sekali untuk selalu waspada dan hati-hati kepada tipu muslihat kaum Yahudi. Karena walau bagaimanapun mereka tetap menjadikan kita sebagai musuh abadi yang ditakuti. Dan mereka selalu berusaha dengan berbagai cara untuk menghancurkan kita. Waallahu a’lam.[]AS

Selasa, 30 Juni 2009

Generasi Abu-abu???

0 komentar
Zaman selalu bergerak maju tanpa sedikitpun melihat ke belakang. Dan roda kehidupan selalu berputar. Begitu juga dengan manusia, akan selalu ada setiap hembusan nafas kita yang berkurang dari umur kita sesunggguhnya.
Istilah 'patah tumbuh silih berganti' tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Para pendahulu kita telah banyak meninggalkan goresan sejarah tinta emas untuk kehidupan kita ini. Para pejuang berani gugur dalam medan perang demi kehidupan yang lebih baik bagi anak-cucu mereka. Sedangkan para ilmuan dan penulis, telah mengorbankan waktu mereka untuk menuliskan ilmu-ilmu mereka biar bisa kita konsumsi.
Mereka telah menjadi generasi putih. Generasi yang dapat keluar dari hitam kelamnya dunia. Generasi yang dapat lulus dari keabu-abuannya ujian hidup remaja. Generasi yang mampu bertahan dalam berbagai macam warna dan corak kehidupan. Mereka bahkan seakan mentari yang dapat menyinari orang lain.
Sedangkan kita?
Semuanya masih samar-samar. Belum jelas. Masih kabut. Belum tau apa yang ada di depan. Akankah kita bisa keluar dari hitamnya dunia? Atau mungkin dapat bertahan dari berbagai godaan warna kehidupan? Ataukah masih dapat bertahan pada indahnya warna puith? Akankah kita bisa melajutkan tongkat estapet kehidupan ini? Akankah
kita juga mampu mengoraskan tinta emas dalam lembaran sejarah?

(buat teman-temanku yang remaja....)

Rabu, 24 Juni 2009

Ada apa dengan Demokrasi Indonesia?

0 komentar
Sudah bukan rahasia lagi kalau Negara kita Indonesia melaksanakan politik demokrasi. Dengan alasan bahwa sistem ini lah yang paling ideal dalam sebuah pemerintahan, dimana kekuasaan rakyat berada di atas segalanya. Apalagi seperti Indonesia yang terdapat banyak keragaman budaya, watak, dan agama masyarakatnya.
Tahun ini Indonesia kembali melaksanakan pesta demokrasi. Semua rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat ituk pemilu, berhak memilih wakil rakyat dan presidennya. Berbagai tanggapan dari masyarakat tentang pemilu pun bermunculan. Baik itu tanggapan yang positif maupun yang negatif. Ada yang optimis dengan pemilu ini, ada juga yang pesimis.
Namun apabila kita perhatikan dan amati pesta demokrasi ini, sebenarnya terdapat kejanggalan yang sangat nyata. Di mana banyak orang berbondong-bondong untuk bisa menjadi wakil rakyat. Jumlah partai politik pun semakin banyak, baik banyak jumlahnya ataupun banyak yang gak jelasnya. Ambisius mereka sangat jelas sekali. Bahkan sampai menghalalkan segala cara. Ya, seperti polotik uang. Seakan-akan pemilu adalah ajang perlombaan tuk mencari popularitas dan keuntungan materialitas.
Padahal dalam demokrasi yang sesungguhnya itu, sebenarnya tidak demikian. Wakil rakyat itu adalah sebuah amanat bukan sebuah jabatan. Wakil rakyat adalah seorang pembantu rakyat, bukan raja bagi rakyat. Kalau hal ini yang sebenarnya dipahami benar-benar oleh rakyat Indonesia, maka untuk menjadi wakil rakyat itu adalah keputusan yang sungguh berat dan besar. Artinya ia harus benar-benar siap melaksanakan amanat rakyat itu. Ia harus siap untuk dapat mensejahterakan rakyat, bukan malah mensejahterakan diri sendiri. Bahkan ia harus siap untuk melarat demi kesejahteraan rakyat. Ia harus siap mempertanggungjawabkan amanatnya itu di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah kelak.
Maka bila di sebuah negara demokrasi terdapat sekelompok orang yang memperebutkan kekuasaan, maka demokrasi di negara itu perlu dipertanyakan. Lalu ada apa dengan demokrasi di Indonesia?[]

Sabtu, 20 Juni 2009

Asas Indonesiaku?

0 komentar
Negara kita adalah negara yang berasaskan Pancasila. Asas itu lah yang selama ini kita pegang tuk mempertahankan kesatuan negara kita. Asas yang udah sekian tahun lamanya berfungsi sebagai semboyan persatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Asas yang telah berusaha keras tuk merukunkan antar umat beragama. Asas yang telah menjadi rujukan utama dalam undang-undang negara kita.
Namun tugas asas itu semakin bertambah usia Indonesia, maka semakin berat juga. Asas tersebut telah dihadapkan kepada situasi dunia yang semakin global system. Asas tersebut sekarang tengah diuji dengan keliberalan kultur. Asas itu telah menyandang tanggung jawab besar untuk tetap menjaga keutuhan NKRI. Bukan hanya secara geografis saja, melainkan jauh lebih penting dari itu adalah menjaga keutuhan masyarakat Indonesia dalam segala hal. Baik dari segi budaya, bahasa, sastra, sistem, agama, hukum dan lain sebagainya.
Namun perlu kita ketahui bersama, asas yang pada dasarnya berdiri di atas asas yang rapuh, maka ia juga akan ikut rapuh. Maksudnya asas yang rapuh itu adalah bila mana asas itu adalah hasil dari produk yang tidak sempurna. Asas yang demikian juga akan jauh dengan kesempurnaan. Bila asas itu sudah tidak sempurna, maka ia juga tidak akan kuat untuk dapat memposisikan dirinya sebagai asas.
Akan kah asas Indonesiaku juga demikian? Akan kah asas Indonesiaku dapat melaksanakan tugas-tugas beratnya itu?[]

Islam itu Satu

0 komentar
Islam itu adalah agama samawi, yang diturunkan oleh Allah SWT melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama yang benar-benar telah diridhoi Allah. Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamiin. Untuk semua umat manusia. Agama yang tetap relevan terhadap zaman. Agama yang yang dapat diterapkan di manapun. Agama yang mudah, yang tidak memberatkan kepada ummatnya. Agama yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran.
Adapun orang-orang yang tidak suka dengan Islam, akan selalu memojokkan Islam. Mereka akan selalu menjatuhkan Islam. Bahkan mereka telah merasuki Islam dari dalam. Mereka telah mengirimkan antek-anteknya sebagai musuh Islam dalam selimut. Mereka akan selalu mempropagandakan Islam dengan ketidakwajaran. Mereka akan selalu berusah mencitrakan hal yang buruk dengan Islam. Dan mereka akan selalu berusaha memecah kesatuan umat Islam.
Maka kita sabagai ummat yang mengatasnamakan Islam sebagai agama kita, sudah seharusnya berhati-hati terhadap musuh-musuh kita itu. Kita harus terus memperbaharui keyakinan kita. Setiap ada cekcok antara umat Islam, maka harus segera diselesaikan dengan akal yang sehat dan pandangan-pandangan yang Islami.
Islam itu bukanlah agama yang terpecah-pecah. Islam itu bukanlah agama yang bermacam-macam. Islam itu satu. Islam itu semuanya mempunyai landasan yang satu. Islam itu mempunyai tujuan yang satu.
Makanya kita harus jeli dalam memahami Islam. Ada perbedaan antara Islam dengan Pemikiran Islam. Dan kita harus benar-benar pandai membedakan antara keduanya. Kalau Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW, yang berpedoman kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Maka dalam Islam tidak ada perbedaan sedikit pun.
Sedangkan pemikiran Islam adalah pemikiran-pemikiran umat Islam yang berkaitan dengan Islam. Pemikiran-pemikiran umat Islam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah. Yang mana sangat memungkinkan sekali terdapat perbedaan pendapat. Karena pemikiran setiap orang itu berbeda-beda. Pemahaman setiap orang tentang al-Qur'an dan as-Sunnah itu berbeda-beda. Maka dari pemikiran Islam ini lah akhirnya muncul berbagai macam madzhab dan aliran.
Jadi, pada akhirnya kita harus benar-benar tahu tentang agama Islam. Maka jangan sampai pernah berhenti untuk mempelajari Islam. Islam itu satu tapi luas. Islam itu luas tapi satu.[]
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template