Minggu, 10 Januari 2010

Hermeneutika Tak Bisa Menggantikan Tafsir Al-Quran

0 komentar


Para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) tidak segan-segan memberikan tuduhan yang negatif kepada para ulama Islam

Oleh: Ahmad Sadzali*

Al-Quran adalah sumber dan rujukan utama dalam ajaran-ajaran agama Islam sehingga sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk berpegang teguh kepada Al-Quran. Karena jelas, Al-Quran adalah wahyu yang diturukan oleh Allah melalui perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Namun pada praktek penerapannya, kita sangat membutuhkan sebuah metodologi agar dapat menguraikan maksud dari ayat-ayat Al-Quran. Metodologi tersebut adalah tafsir Al-Quran.

Tafsir berasal dari kata fas-sa-ra. Secara etimologis dapat diartikan ‘keterangan atau penjelasan yang menerangkan maksud dari suatu lafazh’. Seperti yang telah disinggung dalam Al-Quran;

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” [al-Furqaan: 33]

Secara singkat, tafsir dapat didefinisikan sebagai ilmu yang membantu memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan menggunakan metode dan aturan-aturan tertentu.

Menurut Abdurrahman Al-Baghdadi, menafsikan Al-Quran haruslah dengan cara yang sesuai dengan Al-Quran itu sendiri. Yaitu dengan tekstual, dan bukan dengan kontekstual (sesuai dengan situasi dan konsisi). Kemudian kita juga harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dikemukakan oleh Al-Quran, yaitu dengan mempelajarinya secara ijmal (garis besar) sehingga hakikat yang dikemukakan oleh Al-Quran itu tampak jelas. Selain itu juga kita harus mempelajari dari segi lafazh dan maknanya sesuai dengan ketentuan bahasa Arab dan keterangan Rasulullah SAW. Dan untuk memahami ayat-ayat kauniah, kita juga membutuhkan wawasan khusus tentang ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang dari waktu ke waktu.

Karena Al-Quran adalah Risalah Ilahiah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, maka orang tidak akan mungkin dapat memahami semua isinya secara benar kecuali melalui apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam As-Sunnah (Al-Hadits). Seperti yang telah dijelaskan oleh Allah bahwa Al-Quran diturunkan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan ayat-ayatnya kepada manusia, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya;

“…Dan Kami turunkan az-zikr (Al-Quran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan (isi kandungan Al-Quran).” [an-Nahl: 44]

Dengan kata lain orang yang ingin menafsirkan Al-Quran harus menguasai As-Sunnah, yang dalam hal ini adalah memahami sepenuhnya nash (teks) As-Sunnah, memahami setiap ide dan setiap hukum yang terkandung di dalamnya dan mengetahui tujuan yang dimaksud oleh kata-katanya, bukan hanya sekedar hafal susunan kalimatnya.

Tidak hanya sampai di situ. Masih banyak lagi ketentuan-ketentuan lain yang wajib kita ikuti untuk dapat menafsirkan Al-Quran. Seperti mengetahui dan memahami kisah-kisah sejarah di dalam Al-Quran atau berita tentang berbagai umat manusia pada zaman dulu yang bersumber dari Rasulullah. Kemudian kita juga harus mengetahui berbagai ilmu yang mendukung metode tafsir seperti ilmu Tauhid, ilmu Fiqih, ilmu I’rab (gramatika), ilmu Balaghah, ilmu sejarah dan lain sebagainya.

Standar ketentuan semacam itu akhirnya akan melahirkan tafsir Al-Quran yang benar-benar baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Dan produk dari tafsir itu sendiri tidak akan keluar dari koridor-koridor ajaran Islam. Sehingga Al-Quran tetap dapat diterapkan di setiap tempat dan zaman (fi kulli makan wa zaman) tanpa harus mengubah hukum-hukum yang telah qoth’i dalam Al-Quran.

Hermeneutika sebuah tawaran?

Seiring dengan gencarnya arus gerakan orientalis dan musuh-musuh Islam dalam selimut untuk mengguncang tatanan ajaran Islam, maka metode tafsir Al-Quran ini mulai dikritisi dan dicitrakan buruk. Misalkan pencitraan terhadap orang yang tekstuil dalam memahami Al-Quran adalah kolot, tradisionalis, dan statis. Atau dengan mengatakan bahwa penafsiran Al-Quran yang ada ini masih relatif kebenaranya. Sehingga masih memungkin penafsiran-penafsiran yang lebih bebas dari itu.

Seperti yang dikatakan oleh Badarus Syamsi dalam artikelnya di situs islamlib.com. “Jangan berharap bahwa penafsiran dan upaya pemahaman atas Islam akan sempurna betul, karena kesempurnaan adalah suatu hal yang relatif,” tulisnya.

Dengan adanya anggapan semacam itu, pada akhirnya mereka seakan mengajukan suatu metode lain untuk menafsirkan Al-Quran. Metode yang mereka ajukan tersebut adalah metode hermeneutika, suatu metode yang biasanya digunakan untuk menafsirkan Bibel.

“Hermeneutika sebagai sebuah metode interpretasi sangat relevan kita pakai dalam memahami pesan Al-Quran agar subtilitas inttelegendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas ecsplicandi (ketepatan penjabaran) dari pesan Allah bisa ditelusuri secara komprehensif. Maksudnya, pesan Allah yang diturunkan pada teks Al-Quran melalui Nabi Muhammad itu tidak hanya kita pahami secara tekstual, juga bisa kita pahami secara kontekstual dan menyeluruh dengan tidak membatasi diri pada teks dan konteks ketika Al-Quran turun”, tulis Ahmad Fuad Fanani, aktifis Jaringan Islam Libaral [JIL], dalam sebuah artikelnya yang berjudul Metode Hermeneutika Untuk Al-Quran.

Bak gayung bersambut, beberapa Perguruan Tinggi Islam seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, dan sebagainya, kini telah menetapkan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib di Jurusan Tafsir Hasits. Para mahasiswa diarahkan untuk menulis skripsi/tesis dengan menggunakan metode hermeneutika, dan bukan dengan ilmu tafsir klasik.

Sungguh sangat ironis memang, ketika produk ilmu dari khazanah kita sendiri diabaikan dan produk orang lain diagung-agungkan.

Sejatinya, istilah hermeneutika ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang terkenal dengan nama Hermes. Ia bertugas sebagai dewa yang menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani ini, akhirnya hermeneutika berkembang menjadi metodologi penafsiran Bibel, yang selanjutnya dikembangkan lagi oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara umum.

Bibel yang sifatnya sebagai “teks manusiawi” sangat memungkinkan menerima berbagai metode penafsiran hermeneutika, dan menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarah. Ini tentunya sangat berbeda dengan sifat Al-Quran yang otentik dan final, sehingga Islam memang bukan bagian dari dinamika sejarah. Islam telah sempurna dari awal. Dan Islam tidak berubah sejalan dengan perkembangan sejarah.

Jika ketidakcocokan ini dipaksa untuk diterapkan, maka yang terjadi adalah penyelewengan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Jika hermeneutika diterapkan dalam tafsir Al-Quran, maka yang secara otomatis Al-Quran akan ditempatkan sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi), tidak lagi sebagai wahyu suci yang mempunyai kesakralan.

Produk yang dihasilkan dari hermeneutika adalah suatu paham relativisme yang menganggap tidak adanya tafsir yang tetap. Semua tafsir dianggap produk akal manusia yang felatif, kontekstual, temporal, dan personal. Dengan hermeneutika, hukum Islam memang menjadi tidak ada ada yang pasti. Contohnya, hukum tentang perkawinan antaragama. Dalam Islam, jelas muslimah diharamkan menikah dengan laki-laki non-Muslim. Tapi karena hukum ini dipandang bertentangan dengan hak asasi manusia dan tidak sesuai dengan zaman, maka harus diubah. Agama tidak boleh menjadi faktor penghalang bagi perkawinan. Sehingga pada akhirnya hukum perkawinan antaragama menjadi sesuatu yang halal.

Para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang negatif kepada para ulama Islam. Seperti yang terjadi pada kasus kritikan terhadap Imam Syafi’i. Dalam buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh Paramadina, Imam Syafi’i dituduh sebagai orang yang membelenggu pemikiran fiqih sehingga tidak berkembang.

Banyak lagi dampak negatif dari penerapan hermeneutika pada tafsir Al-Quran. Jika metodologi ini dibiarkan begitu saja menjamur di kalangan cendikiawan umat Islam khususnya pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, maka yang terjadi adalah pendekonstruksian ajaran-ajaran Islam secara besar-besaran. Akhirnya lulusan Perguruan Tinggi Islam bukannya menjadi ulama di masyarakat, melainkan malah menjadi orang yang nomor satu mengkritisi khazanah keislaman.

Tentunya kita tidak menginginkan hal seperti itu terjadi. Kita harus berusaha melestarikan dan mengembangkan khazanah keislaman yang sudah dibangun kokoh oleh para pendahulu kita. Namun perlu diingat, melestarikan bukan berarti statis, dan mengembangkan bukan berarti liberal. Semuanya ada batasan dan koridornya. Dan Islam, sangat indah mengaturnya. Wallahu’alam. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Koordinator Kajian SIT (Study of Islamic Thought) Kairo

Selasa, 05 Januari 2010

“I think, therefore I am”

1 komentar

Siapa yang belum pernah dengar kata-kata ini? Tentunya kalimat ini sudah sangat popular sekali di kalangan pemikir dan filosof. Yups, itulah kalimat yang menjadi filsafat hidup Descartes. Dengan itu dia telah menancapkan sebuah revolusi filsafat di Eropa, yang beranggapan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kepastian itu hanya akan didapat melalui pikiran.

Descartes sering dijuluki sebagai "Penemu Filsafat Modern. Salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Pemikirannya telah menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, dan membawa mereka kepada filsafat rasionalitas.

Simak dan perhatikan saja secara mendalam makna yang terkandung dalam kalimat pendek tersebut. “Aku berpikir, maka aku ada”, merupakan sebuah pengagungan yang besar kepada akal dan logika manusia. Seakan logika dapat berkreasi tanpa batas. Tidak ada rambu-rambu yang dapat membatasinya. Sedangkan jika ada yang tidak sesuai dengan logika tersebut, maka itu bisa dikatakan mustahil, tidak rasional, tidak pasti, dan lain sebagainya.

Filsafat semacam inilah yang lantas banyak mempengaruhi Barat dalam kehidupannya. Hingga akhirnya pemikir Barat gagal dalam menemukan konsep Tuhan secara akal. Logika mereka tidak sampai untuk menemukan hakekat Tuhan sesungguhnya. Dan dampak dari itu, akhirnya Barat tidak dapat menemukan tujuan hidup mereka. Kehidupan yang penuh dengan kegemerlapan itu ternyata hanya hampa, karena tidak ada tujuan. Moto hidup mereka menjadi, “hidup untuk dinikmati” saja. Tanpa ada pemikiran apalagi persiapan untuk kehidupan setelah kehidupan ini.

Wallahu'alam!

Senin, 04 Januari 2010

Antara Jiwa dan Raga

0 komentar


Sekilas, jiwa dan raga selalu satu. Paradigma yang ada pun akhirnya juga demikian. Tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raga. Keduanya sama-sama menjadi unsur yang penting bagi manusia. Keduanya sangat dibutuhkan.

Lalu adakah yang lebih penting di antara kedua?

Jawabannya tentu saja ada.

Jiwa merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya, yaitu kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan panca indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Namun meski gerak jiwa itu tidak dapat diamati secara panca indra, namun ia dapat dirasakan. Bahkan jiwa itulah yang sebenarnya menjadi penggerak dan motorik bagi raga.
Jika demikian, jiwa adalah sebuah substansi yang ada dalam diri manusia. Substansi itu kemudian dituangkan menjadi raga. Namun ternyata juga tidak semua raga itu dapat merepresentasikan substansi diri kita. Ada jiwa yang hanya ada dalam jiwa itu sendiri.

Dalam analogi lain, kehidupan kehidupan dunia adalah kongkrit. Sedangkan kehidupan setelah dunia, yaitu akhirat sifatnya masih abstrak. Mana yang lebih penting antara kehidupan dunia dan akherat? Tentu saja akherat lebih penting bukan? Akhirat merupakan substansi dari kehidupan. Karena ia adalah tujuan akhir hidup ini. Maka, jiwa yang memiliki karakteristis yang sama dengan akhirat tentu saja lebih penting daripada raga. Walaupun sebenarnya jiwa itu bukan akhirat itu sendiri.

Cobalah perhatikan orang yang cacat fisik! Apakah dia tidak punya hati, tidak punya cinta, dan rasa? Tentu saja masih punya. Meski ada orang yang tidak diberikan anugrah penglihatan –misalnya- oleh Allah, tetapi Dia tetap memberikan hati atau jiwa. Intinya, semua manusia pasti memiliki jiwa, namun tidak semuanya memiliki raga yang lengkap.

Jadi, jiwa itu lebih penting daripada raga.
Wallahu’alam[]

Kamis, 31 Desember 2009

Sekilas Tentang Pluralisme Agama

0 komentar


Salah satu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah gencarnya arus pluralisme agama. Yaitu, ideologi yang meyakini bahwa semua agama itu sebenarnya adalah sama, semuanya benar, dan ada hakekatnya Tuhan semua agama itu satu. Pluralisme agama ini, terlebih dalam Islam, sangat berbahaya sekali. Karena itulah disebut sebagai tantangan.

Bagaimana pluralisme agama bisa menjadi sebuah bahaya, khususnya bagi Islam?

Sebab ideologi yang secara singkat singkat telah dijelaskan di atas, dapat mengusik tatanan konsep akidah Islam yang sudah final. Dalam Islam, konsep yang paling mendasar adalah konsep Kalimat Syahadah, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka ketika konsep ini dimasuki ide-ide pluralisme, berarti juga mengakui adanya Tuhan selain Allah, yaitu Tuhan-tuhan agama lain. Dan kalau ada keyakinan bahwa semua Tuhan itu sebenarnya sama, namun panggilan Tuhan itu saja yang berbeda-beda, maka sama saja dengan menyamakan Allah dengan Tuhan –buatan- lainnya.

Tentu saja hal ini dilarang keras dalam Islam. Dan pemikiran seperti ini tidak jauh berbeda dengan pemikiran yang dimiliki orang kafir. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Kemudian orang-orang kafir itu menyama-nyamakan (makhluk yang mereka sembah) dengan Tuhan mereka.” Keyakinan dan tindakan sesat inilah yang dikenal sebagai syirik dan tidak aneh jika merupakan dosa yang paling besar. Para pelaku syirik itu akan mengakuinya sendiri di Akhirat nanti, “Demi Allah, kami dulunya betul-betul berada dalam kesesatan yang nyata! (Yaitu) ketika kami menyamakan kalian (yang kami sembah) itu dengan Tuhan seru sekalian alam!” (QS. Asy-Syu’ara': 98)

Namun sayangnya, pemikiran atau ide pluralism ini masih saja ada yang menggandronginya. Lebih parah lagi, mereka itu orang Islam itu sendiri. Terkadang mereka berdalih pluralisme sebagai salah satu bentuk toleransi umat beragama. Padahal antara toleransi dengan pluralisme sangat jauh berbeda, dan tidak ada kaitan satu sama lain.

“Apakah orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan buruk itu mengira bahwa Kami akan jadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal shalih, baik yang hidup maupun yang mati? Alangkah buruk penilaian mereka!” (QS. Al-Jâtsiyah: 21.
Wallahu'alam[]

Senin, 21 Desember 2009

Apakah Ilmu Itu Sugesti?

0 komentar


Manusia sekarang sudah sampai pada peradaban ilmu pengetahuan yang modern. Berbagai macam cabang ilmu pengetahuan dikembangkan, yang tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Tujuannya adalah agar kehidupan manusia lebih hidup dan berarti. Agar segala bentuk kemudahan dalam hidup hadir di depan mata kita. Karena bukan suatu bentuk kemodernan jika tidak ada kemudahan.

Telah terbukti begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Bahkan tanpa ilmu, manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Karena segala sesuatunya untuk hidup di dunia ini harus berlandaskan dengan ilmu. Hal itu telah terlihat sejak pertama kalinya kita menangisi dunia ini.

Manusia akan berani bertindak untuk melakukan sesuatu setelah adanya ilmu tentang sesuatu itu dulu. Dan kalaupun ada yang melakukan percobaan tanpa landasan ilmu terlebih dahulu, maka tujuannya pun tidak lepas untuk ilmu. Bukankan awal dari percobaan itu adalah penasaran, dan penasaran itu bertujuan untuk pengetahuan?
Nah, ketika setiap perbuatan itu atas landasan dan untuk ilmu, maka apakah ilmu itu sebuat sugesti?

Terlepas dari positif maupun negatifnya jawaban atas pertanyaan di atas tadi, yang terpenting kita sendiri sebenarnya dapat menilai hal itu. Jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Kita lah yang dapat membuktikannya. Tidak perlu praktek secara khusus, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita telah membuktikannya.

Jika kita telah mengetahui jawab dari pertanyaan tersebut, lalu adakah kemungkinan kita akan meninggalkan pekerjaan mulia menuntut ilmu? Akankan proses penuntukan ilmu itu akan terhenti secara formal saja? Maka, benarlah adanya perkataan Rasullah SAW, bahwa kita harus menuntut ilmu dari buayan sampai liang lahat. []

Rabu, 16 Desember 2009

Coretan Persahabatan

0 komentar

memang serasa indah
keindahannya mungkin melibihi pesona cleopatra
keindahan itu tidak hanya dirasakan panca indra,
tetapi juga terasa di jiwa

sobat!
tak ada yang lebih berharga dari hanya sekedar harta
selain sahabat
tak ada yang lebih mempesona dari hanya sekedar pantai kuta
selain sahabat
tak ada yang lebih berguna dari hanya sekedar jasa
selain sahabat

sobat!
aku ingin tali ini diikat dengan simpul mati
simpul yang kuat, yang selalu terikat

sobat!
karena kalian lah aku kuat
karena kalian lah aku semangat

aku ingin persahabatan ini selalu ada
untuk selamanya....

cairo, 26 september 2009

Jumat, 11 Desember 2009

Pesona Wanita Shalehah

0 komentar

Seperti indahnya pelangi yang menghiasi sore hari, begitulah mungkin perumpamaan wanita sebagai penghias dunia ini. Dan bahkan lebih penting dan berarti lagi dari hanya sekedar perhiasan. Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini tanpa adanya wanita?

Kata Rhoma Irama dalam lagunya, “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Cinta itu ibarat seorang wanita. Bisa dikatakan wanita adalah sumber inspirasi cinta. Boleh jadi seandainya tidak ada wanita, maka tidak ada cinta. Ya, mungkin begitulah jika para pujangga berbicara tentang korelasi antara cinta dan wanita.

Lantas wanita yang bagaimanakah yang benar-benar bisa menjadikan hidup kita ini indah, yang dapat menghiasi setiap alunan nafas kita, menemani setiap detak jantung kita sehingga berbuah menjadi sebuah tasbih kepada Allah?

Maka jawabanya termaktub dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya:
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim)

Tolak ukur wanita itu bisa dikatakan shalehah atau tidak adalah ketaqwaannya. Dan kadar ketaqwaannya itu menetukan tingkat keshalehah wanita tersebut. Sedangkan ketaqwaan itu sedikit banyaknya dapat dinilai dari seberapa besar ketaatannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah, dan dalam menjauhi segala larangan-Nya.

Banyak poin yang tentunya dapat diamalkan dalam rangka menjadi wanita yang shalehah. Baik poin itu berupa “reques “ dari Al-Qur’an, maupun dari kaum yang menyukai wanita itu sendiri, yaitu kaum Adam.

Ketaatan yang akan membungkusi keshalehan tersebut tertuang dalam poin-poin penting yang perlu diperhatikan oleh wanita. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat….”

Secara prinsip, wanita shalihah adalah wanita yang selalu istiqomah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pesona kemuliaannya bukan dari perhiasan dan aksisoris yang dia gunakan. Sebaliknya, ia selalu menjaga kecantikan dirinya supaya tidak berbuah menjadi fitnah bagi orang lain dan dirinya sendiri. Ini sangat penting dilakukan, karena kecantikan sewaktu-waktu menjadi energi positif, dan bisa juga di waktu yang lain menjadi energi negatif.

Namun ketika ia memiliki keterbatasan fisik, wanita shalehah tidak akan kecewa dan sakit hati terhadap karunia Allah tersebut. Bahkan ia masih dapat bersyukur dengan apa yang ada. Kepribadiannya yang baik yang akan merubah dirinya menjadi lebih indah dan menarik.

Banyak wanita yang dalam kehiudpannya bisa sukses, atau yang sering kita sebut dengan wanita karir. Tapi itu semua tidak akan menjamin keshalihannya. Kita tidak dapat hanya mengukur dari kesuksesan dalam karirnya saja, tanpa mengabaikan kesuksesan-kesuksesan lain seperti kesuksesan dalam mengurus rumah tangga, kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya, dan bahkan kesuksesan dalam menempatkan dirinya sendiri sebagai Muslimah.

Pandangan tentang wanita shalehah ini tentunya bersifat umum. Baik itu ditujukan kepada wanita yang sudah berkeluarga, maupun bagi wanita yang belum berkeluarga.

Bagi remaja Muslimah, untuk menjadi wanita shalehah membutuhkan komitmen yang tinggi. Lingkungan pergaulan menjadi faktor utama yang menunjang. Lingkungan dalam bergaul sangat besar sekali dalam menentukan perkembangan kepribadian remaja. Bahkan bisa dikatakan bahwa remaja adalah produk lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat secara luas.

Keshalehan seorang remaja Muslimah menjadi harga mati dalam kehidupan rumah tangga, jika ia berkeluarga kelak. Karena dia lah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, sebagai contoh, pembentuk suasana keluarga yang harmonis.

Tidak hanya sampai di situ. Wanita shalehah juga merupakan kunci penting dalam menentukan kebaikan dan kemajuan suatu bangsa. Sering sekali kita mendengan istilah, “Di belakang pemimpin yang hebat, ada wanita yang luar biasa”. Bahkan wanita adalah tiang negara. Ya, kenyataanya memang benar demikian. Laki-laki tanpa wanita tidak akan jadi apa-apa. Berapa banyak laki-laki yang mendapatkan motivasi untuk bekerja dan berbuat dari wanita? Berapa banyak para bapak yang selalu bersemangat kerana istrinya yang shalehah? Kita tidak bisa memungkiri itu semua.

Sehingga pada akhirnya kita harus bersyukur atas ciptaan Allah yang paling indah ini. Wanita memang sungguh sangat berharga dan tiada taranya. Pengaruhnya sungguh sangat besar. Pesonanya akan selalu bersinar dalam setiap langkah kaki para lelaki.[]
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template