Sabtu, 29 Mei 2010

Bahaya Film "Cin(T)a"

61 komentar

Bismillahirrahmanirrahim.

Aku yakin teman-teman juga sudah ada yang nonton film ini. Jadi, kalo dibilang basi, itu memang wajar juga. Karena film ini sudah dirilis tahun 2009 lalu. Namun, tidak menutup kemungkinan juga kan, ada teman-teman yang belom nonton nih film, dan nanti akan menontonnya. Aku juga tergolong orang yang baru nonton dan baru tau kok sama film ini. Tepatnya kemarin malam aku nonton film ini.

Ketika pertama kali nonton sih sepertinya seru dan unik. Gimana tidak unik, wong pemeran filmnya aja cuman 2 orang kok. Kisahnya menceritakan sepasang kekasih yang berbeda agama yang saling jatuh cinta. Yang laki-laki dengan nama Cina itu beragama kristen, dan perempuan dengan nama Annisa itu Islam. Keduanya sama-sama sekolah di fakultas Arsitektur ITB.

Setelah mengikuti sampai habis film ini, aku langsung menilai kalau film ini membawa misi Pluralisme Agama, Kristenisasi, dan bahkan Ateisme. Bahkan aku langsung menuliskannya di status Facabook. ^_^. Ternyata emang betul demikian adanya. Pendapatku ternyata tidak sendiri. Setelah mencari tau tentang film ini, aku dapati sekian banyak kritikan dan protes atas film ini. Bahkan aku mendapatkan rekaman wawancara eksklusif dengan sutradara film tersebut, Sammaria Simanjuntak,seorang yang beragama Kristen. Dan dari penuturannya, dia sendiri mengakui bahwa dia adalah salah satu orang yang sulit untuk percaya Tuhan begitu saja.

Untungnya aku dapat mernafas lega sedikit, ketika aku telusuri film ini di LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia, ternyata film ini tidak lulus sensor. Dan aku cari di Studio 21 pun juga demikian, ternyata tidak terdapat film yang kontroversial ini. Artinya, film ini belum banyak diketahui khalayak ramai, dan penyebaran filmnya pun hanya diam-diam. Namun film ini juga pernah ditayangkan sih waktu ia diikutkan dalam festival film di Yogjakarta pada Agustus 2009 lalu. Ketika itu terdapat sekitar 250an orang yang menonton film ini. Selain itu juga pernah tayang di Inggris. Tapi yang palign cuman gitu-gitu aja, dan masih tidak banyak masyarakat awam yang tau tentang film ini.

Nah, aku yakin banget jika kita (apalagi remaja) dilarang terhadap sesuatu, maka keingin tahuan terhadap sesuatu yang dilarang itu semakin tinggi. Maka tidak menutup kemungkinan juga, ada dari teman-teman yang justru penasaran dengan isi film ini, lalu mencari dan menontonnya. Ya, itu sih wajar saja, dan silahkan saja. Tapi dengan syarat, ketika nonton film itu harus hati-hati, dan jangan sampai termakan nilai-nilai yang ada pada film itu. Gunakanlah daya kritis kalian sebagai orang yang berworldview Islam.

Untuk itulah aku ingin ngasih tau beberapa catatan penting yang perlu kita perhatikan dalam adegan-adegan dan dialog di film ini. Ingat! Kalo aku boleh bilang ya, setiap dialog yang ada dalam film ini, sarat dengan misi filofis tersendiri. Maka kalau kita tidak jeli melihatnya, brabe deh kita jadinya ntar. hehehe...!

Beberapa catataku sebagai berikut:

1. Dari judul film ini saja sudah terkesan misterius dan terdapat makna tersembunyi di balik itu semua. Judulnya "Cin(T)a". Maksudnya, menceritakan tokoh laki-laki dalam film itu, yang namanya "Cina". Sedangkan huruf "T" yang di dalam kurung apa donk...? Kalo aku berpendapat sih (wallahu'alam), itu salah satu misi kristenisasi. (Bukan maksudku su'udzon ato buruk sangka lho ya...! Tapi ini adalah bentuk kehati-hatian). Huruf "T" adalah lambang salib. Mengapa aku ber[endapat demikian? Pertama, karena sutradara dari film ini sendiri adalah seorang Kristen, yang sangat kental dengan kekristenannya. Kedua, Cina yang menjadi tokoh utama dalam film itu memang beragama Kristen.

2. Film itu sangat tidak adil terhadap Islam. Maksudnya, dari segi penokohannya, Cina dilambangkan sebagai orang yang sangat alim dan konsisten terhadap agamanya. Sedangkan si Annisa, tokoh wanitanya yang beragama Islam, digambarkan bukan sebagai muslimah yang konsisten terhadap agamanya. Mengapa demikian? Karena Annisa di dalam film ini diperankan sebagai artis. Sehingga dengan alasan itulah, oleh sutradara ia tidak dipakaikan jilbab, membuka aurat, dan bebas bersentuhan, berdekatan, dan berpegangan tangan dengan laki-laki. Yah, aku akui sih, itu memang salah satu kecerdasa sutradara dalam film ini. ^_^

3. Menghina terhadap nama Annisa yang diambil dari Al-Qur'an. Ini terdapat dalam dialog ketika Cina ditanya nama aslinya oleh Annisa. Cina menjawab kalau nama dia itu memang Cina. Terus Annisa nyeletuk "Tega banget ya bokap loe, udah tau cina, masih dikasih nama Cina...!" Lantas si Cina itu menjawan dengan cerdar pernyataaan Annisa itu. Dan malah menyerang balik dengan berkata, "Udah tau perempuan, malah dikasih nama Annisa." Tidak hanya sampai di situ, dalam dialog itu juga terdapat penghinaan terhadap nama surat Annisa sebagai surat di Al-Qur'an yang sangat sadis dan tidak tolerir dengan wanita, karena di dalam surat Annisa terdapat ayat yang menganjurkan untuk memukul wanita. Ini distorsi penafsiran!

4. Meremehkan Tuhan. Ini terdapat dalam dialognya si Cina yang mengatakan, "Emang arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak terpikirkan kalau ada rancangan yang lebih baik!" Coba kalian pahami dan teliti benar-benar di kalimat ini! Kalimat ini menunjukkan kalau Tuhan itu tidak kuasa. Ini dapat dibuktikan dengan mafhum mukhalafahnya. Seperti ini, "Emang arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak terpikirkan kalau ada rancangan yang lebih baik. Artinya rancangan tuhan itu belum tentu baik, karena ada rancangan lagi yang lebih baik dari Tuhan!" Kalo ada yang salah dalam pemaham aku di poin ini, tolong kasih komen dan kritikannya aja ya...! Kali aja kan kali sependapat dengan statment itu. hehehe...!

5. Neraka disamakan dengan perumahan atau permukiman kumuh. Ini terdapat dalam dialog Annisa ketika makan bakso dengan Cina di pinggiran permukiman yang kumuh. Lantas aku bertanya-tanya, emang neraka masih seenak permukiman kumuh ya...? Wah, kalu gitu gak serem amat sih neraka. hehehehe....!

6. Dialog Annisa yang mengandaikan kejadian yang sudah terjadi dan cenderung meremehkan dakwahnya Nabi Muhammad SAW. Annisa mengatakan, "Tuhan itu sangat sutradara banget! Kalau Allah ketemu Nabi Muhammad zaman sekarang, pasti bikinnya film". Alasan dari statment Annisa itu adalah, generasi kita tidak mempan dikasih tulisan, karena kita adalah generasi yang get philosofi in the movie.

7. Mengajarkan untuk tidak konsisten dengan ajaran agama. Ini terdapat dalam dialog Annisa yang ngomong, "Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi loe ntar!?"

8. Sangat meremehkan agama. Salah satu buktinya terdapat dalam dialognya si Cina, yang mengatakan bahwa agama itu murah harganya, hanya seharga lima ribuan, dan dapat dibeli di tiap simpang. Ini secara tidak langsung mengasumsikan bahwa pindah agama itu boleh dan mudah sekali dilakukan.

9. Mengurangi kekuasaan Tuhan. Ini terdapat dalam dialognya Annisa yang mengatakan, "Kalo gitu mengapa Tuha menciptakan Ateis? Capek tau disembah dan dipuji setiap orang dan setiap saat". Sejak kapan Tuhan bisa capek...? Lagian juga kebesaran Tuhan itu kan bukan karena ibadah umatnya. huuuhhh...! Ada ada aja tuh Annisa...!

10. Tuhan dianggap mengkotomi dan cenderung membeda-bedakan manusia. Ini terdapat dalam dialognya Cina ketika ditanya oleh Annisa: "Emang Tuhan suka yang kayak apa?" Jawab Cina "Yang IP-nya di atas 3". Cina juga bilang kalau hanya dia dan Tuhan saja yang bisa cinta kepada Annisa bukan karena kecantikannya, tapi karena Annisa kaya! Wah, kalo gitu, Tuhan gak seneng sama yang miskin donk....? :(

11. Cina meremehkan hukum Islam. Ini terdapat dalam adegan ketika Annisa secara bercanda menempeleng muka si cina, dan Annisa bilang kalau dalam agamanya diajarkan, jika kamu ditampar pipimu, maka kamu balas juga dengan menampar pipinya. Namun kemudian Cina menjawab, "Semangat balas dendam dicampur dengan semangat menyalahin orang lain." Dia tambahkan bahwa hukur seperti itu tidak bisa menciptakan perdamaian dunia.

12. Semangat pluralisme agama yang sangat jelas. Terdapat dalam perkataan Annisa yang bilang, "Kenapa Tuhan ciptakan kita beda-beda, kalau Allah hanya mau disembah sengan satu cara?"

13. Lagi-lagi meremehkan Tuhan. Ini dari perkataan Annisa lagi ketika menyanggah perkataan si cina dengan mengatakan, "Siapa sih loe, coba nyelesaiin konflik agama di dunia? Tuhan aja gak bisa!

14. Adegan berdoa sebelum makan yang dilakukan Cina dan Annisa sangat kental juga dengan pluralisme. Annisa berdoa seperti ini, "Tuhan yang kami sebut dengan berbagai naman. dan yang kami sembah dengan berbagai cara" ....

15. Penyalahgunaan ayat Al-Qur'an beserta penafsirannya. Di dalam adegan film itu dibacakan ayat ke-62 dari Surah Al-Baqarah yang menyatakan bahwa umat Islam, Yahudi, Nasrani, dan Shobi'in bisa masuk surga dengan amal baik. Ayat ini memang salah satu ayat andalan bagi kalangan yang gencar menyuarakan pluralisme agama. Padahal sudah banyak ulama yang mengupas habis mengenai tafsiran dari ayat ini. hehehe...! Udah lagu lama tuh...! hahaha..!

16. Annisa turut merayakan natal bersama Cina. Meskipun Annisa menyatakan dalam dialognya kalau Natal itu tidak ada dalam Islam, dan orang Kristen itu dianggap salah oleh Islam.

17. Menyindir Islam yang melarang kapitalis. Cina said, "Mak...! Kapitalis pun gak boleh sama agama kau..!? Bisa penuh ntar neraka kau...!".

18. Menyudutkan umat Islam di Indonesia, dengan menyuarakan berita yang mengupas tentang pengeboman terhadap gereja-geraja pada malam Natal, yang disinyalir dilakukan oleh umat Islam.

19. Bahkan film ini sangat tidak nasionalis. Cina menganggap konsep Pancasila telah gagal untuk merukunkan umat beragama di Indonesia, yaitu dengan menurunkan lambang Garuda Pancasila yang terpampang di dinding kamarnya. Oh iya, selain itu ya, nih film juga ternyata tidak mengakui SBY dan Boediono sebagai pemimpin negara kita. Buktinya, foto dia tuh yang dipacang mendampingi Garuda Pancasila. hehehe...!

20. Di ending cerita ini, bau-bau Ateisme sangat keciuman sekali. Cina mengatakan, "Lebih baik gak usah ada Tuhan. Gak usah ada agama!"

Itu dulu sih yang baru bisa aku dapatkan dari film Cin(T)a itu. Mungkin teman-teman lain bisa menambahkannya. Dan yang terpenting, kalo kamu nonton film ini, hati-hati banget ya dengan setiap dialog yang ada dalam film itu.

Oke deh itu aja...!
Thanks atas perhatiannya.
Kalo ada teman-teman yang gak setuju dengan pendapat aku di atas.
Silahkan kasih komen aja di noteku ini.

Selasa, 04 Mei 2010

Bhinneka dan Ujian Liberalisme

3 komentar

Hidayatullah.com--Sudah menjadi maklumat umum bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, baik keberagaman suku bangsa, bahasa, adat istiadat, norma masyarakat, bahkan sampai watak dan karakteristik setiap penduduknya.

Indonesia memiliki 17.667 buah pulau, baik besar maupun kecil. Sebagian besar adalah perairan, sedangkan luas wilayah daratannya hanya 735.000 mil persegi (seluas Alaska). Di sekian banyak pulau yang ditempati penduduk Indonesia tersebut, terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang sangat berbeda. Dan sistem sosialnya juga berbeda-beda, dari desa-desa kecil yang terpencil sampai kepada kota-kota metropolitan yang besar dan maju. Maka wajar saja kalau negara kita ini memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beraneka ragam namun satu jua.

Semboyan ini sesungguhnya sudah sangat mewakili gambaran masyarakat Indonesia. Meski keberagaman itu banyak sekali, namun semuanya itu masih tetap berada di bawah satu atap, yaitu negara Republik Indonesia. Keragaman yang ada bukanlah suatu hambatan bagi masyarakat Indonesia untuk bersosial dan berinteraksi. Ketika semboyan ini diserukan, seketika itu juga jiwa persatuan itu tumbuh.

Akan tetapi permasalahannya tidak hanya sampai di situ saja. Ternyata di balik semboyan ini juga tersirat suatu peringatan yang penting bagi masyarakat Indonesia agar selalu menjaga integritas bangsa. Dengan kata lain, sebenarnya semboyan tersebut sangatlah sensitif terhadapat keutuhan tanah air. Jika keberagaman tersebut tidak dapat dijembatani dengan baik, maka dengan mudahnya masyarakat Indonesia akan pecah. Terbukti dengan kasus bercerainya Timor Timur dari NKRI, adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), perang suku yang terjadi di Sambas, kericuhan antara umat Islam dan Kristen di Poso, dan lain sebagainya.

Tentu saja ini menjadi catatan dan perhatian yang serius bagi kita semua. Keutuhan NKRI bagaimanapun harus tetap dijaga dan dipertahankan. Namun bukan berarti untuk mempertahankannya itu, kita harus mengorbankan keberagaman yang ada. Bukan berarti juga keberagaman itu yang menjadi sebab utama perpecahan yang ada. Karena keberagaman yang ada memang sudah menjadi sunnatullah. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut, bisa menjadikan rahmat bagi umat.

Ujian liberalisme

Sekarang keberagaman yang ada di Indoneisa, khususnya keberagaman budaya, tengah menghadapi ujian yang cukup besar. Ujian itu datang melalui arus yang diberi nama dengan liberalisasi. Arus ini seolah menawarkan solusi yang tepat untuk mengatasi keberagaman tersebut. Kebebasan menjadi alternatif persamaan atas perbedaan. Sebab inilah mengapa liberalisasi itu dikatakan sebagai ujian bagi keberagaman Indonesia.

Bahkan liberalisasi tidak hanya sebagai ujian saja bagi kebhinekaan nusatara, namun lebih dari itu ia juga menjadi pengkhianat bagi kultur budaya Indonesia. Liberalisasi telah menjadi musuh dalam selimut bangsa. Salah satu buktinya adalah ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dilayangkan, banyak para liberalis yang mengatasnamakan keberagaman budaya untuk menolaknya.

Gesekan budaya Indonesia dengan budaya Barat sudah sejak lama muncul. Yaitu ketika mulai masuknya kolonial bangsa Barat ke Indonesia. Bangsa Barat ketika menjajah Indonesia, tentu saja tidak hanya karena mengeksplorasi rempah-rempah atau kekayaan alam Indonesia belaka. Di samping itu juga terdapat visi lain, yaitu penyebaran ajaran kepercayaan dan kebudayaan Barat.

Orang Indonesia yang hidup di zaman kolonial ini tentu sangat merasakan bagaimana gesekan budaya pribumi dengan budaya Barat itu terjadi. Dengan kekuasaannya, Barat sangat mudah memaksakan budaya dan pemikirannya kepada masyarakat Indonesia. Hasilnya adalah modernisasi adat dan budaya itu sendiri.

Tapi yang seharusnya menjadi pertanyaan mendasar bagi kita adalah, apakah cocok budaya dan pemikiran Barat itu jika diterapkan pada masyarakat Indonesia?

Pada dasarnya kultur Barat dan Indonesia sangat berbeda. Kultur Barat dengan kapitalismenya memiliki sifat seperti berikut; adanya minat yang tinggi terhadap hal yang baru, adanya semangat berpetualang dalam mengusahakan hal-hal yang baru tersebut, tingginya individualisme, dan pengagungan kepada materi. Sifat seperti ini tidak mudah untuk ditanamkan di tempat lain. Ibarat suatu bibit tanaman, maka sifat-sifat yang ada pada Barat ini membutuhkan lahan yang sesuai dengannya, agar ia bisa tumbuh subur.

Agar lahan itu cocok dengan bibitnya, maka setidaknya ada persyaratan yang harus dimiliki. Salah satu syarat untuk lahan tersebut adalah, adanya suatu suatu kelas yang kuat dari kaum urban yang terdiri dari orang-orang yang relatif bebas serta mandiri. Namun sayangnya Indonesia belum memiliki kelas seperti itu. Seperti realita sekarang, di Indonesia masih memiliki keragaman sosial. Konsep pemerintahan yang menjadi faktanya. Ada pemerintahan kota, ada juga pemerintahan desa. Dan keragaman seperti ini telah melekat dengan budaya Indonesia, serta masuk dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu bukti untuk menguatkan pendapat ini adalah kebijaksanaan kolonial Belanda di bidang perdagangan pada abad ke-17 dan ke-18, bahkan di abad ke-19, hanya mampu membawa sedikit perubahan di bidang kehidupan ekonomi. Kebijakan ekonomi Belanda ternyata tidak mampu mengubah struktur sosial masyarakat Indonesia secara berarti.

Sekiranya ini sudah cukup untuk membuktikan kalau budaya pemikiran Barat itu tidak cocok jika diterapkan di Indonesia. Negara ini bukan lahan yang pantas bagi bibit-bibit Barat seperti liberalisme. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kultur Barat dan Indonesia, yang menyebabkan ketidakcocokan itu.

Selanjutnya, ada catatan penting yang harus disampaikan di sini. Kolonialisme Barat ternyata masih belum berakhir. Sampai sekarang gaungnya masih dapat didengarkan, meskipun masih sayup-sayup. Jika dulu kolonialisme adalah dengan cara pendudukan pemerintahan dan mengambil segala kekayaan alam yang ada di Indonesia, namun sekarang gerakan kolonialisme itu berbentuk ekspansi pemikiran Barat ke dalam masyarakat kita. Akan tetapi tujuan utama dari kolonialisme kuno dan sekarang tetap sama, yaitu menguasai negara dan dunia. Jika itu di Indonesia, niscaya ia akan mengusai Indonesia.

Maka di sinilah letaknya peranan kebudayaan beragam Indonesia dalam membasmi bibit-bibit Barat yang kolonialis dan liberalis. Keragaman budaya ini jangan mau dirasuki begitu saja oleh paham-paham seperti ini. Konsep pemikiran Barat seperti liberalisme itu bukan malah menjadi perantara untuk menjembatani kebhinnekaan Indonesia, akan tetapi justru menjadi bumerang yang nantinya menimbulkan kekacauan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Wallahu’alam.[www.hidayatullah.com]

Rabu, 31 Maret 2010

Pengantar Studi Sejarah Filsafat Yunani

6 komentar

Mempelajari filsafat merupakan sesuatu yang penting. Karena dengan mengetahui filsafat, dapat membantu kita untuk mengetahui bagaimana pemikiran filosof yang banyak berperan dalam kebudayaan dan bahkan hukum. Ini sudah menjadi maklumat umum bahwa pemikiran adalah landasan segala-galanya yang di atasnya dibangun berbagai macam tingkah laku manusia, hingga itu menjadi kebiasaan yang menjadi kebudayaan, dan akhirnya sampai kepada sebuah peradaban.

Berbicara mengenai filsafat, tentunya tidak terlepas dari perbincangan mengenai Yunani. Karena di sinilah filsafat itu berkembang pesat. Dan salah satu hal yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Yunani adalah dengan mengetahui sejarahnya.

Filsafat Yunani adalah kumulatif dari filsafat masyarakat relegius yang ada di Yunani dan Roma pada zaman dulu. Teori-teori filsafat yang ada pada masyarakat Yunani mulai muncul dan berkembang pada akhir abad ke-7 SM. Sedangkan munculnya filsafat pada masyarakat Roma dimulai dari abad ke-2 SM sampai pada abad ke-6 M.
Filsafat kuno tidak terlepas dari perkembangan pengetahuan para filosofnya. Ini telah terbentuk berdasarkan asas pengetahuan umum, matematika, fisika, dan beberapa bentuk pengetahuan lainnya yang telah masuk ke dalam Yunani. Dan juga terhadap nilai-nilai yang ada dalam cerita-cerita zaman dulu pada seni dan sya’ir.

Filsafat Yunani telah berkembang ke berbagai kota, dari pesisir selatan Asia Kecil, sampai ke Italia Selatan dan kota-kota pesisir di Sicilia, dan juga di Yunani itu sendiri pada abad ke-5 SM. Dan ini telah menjadi pusat kegemilangan filsafat pada abad ke-6 dan ke-5 SM.

Selanjutnya filsafat Yunani berkembang pada masa Iskandaria dari Makedonia di abad ke-4 SM. Ini berada di bawah kekaisaran Romawi Timur. Sedangkan filsafat Romawi kuno sendiri mulai muncul pada abad ke-2 dan ke-1 SM, pada masa kekaisaran Romawi sampai masa keruntuhannya.

Sebagian sejarawan filsafat meyakini bahwa perbudakan sangat mungking sekali menjadi sebab pembagian antara pertanian dan industri. Keadaan seperti ini telah menciptakan peradaban kuno yang gemilang, yaitu peradaban Yunani. Bahkan kalau tidak karena perbudakan tersebut, maka niscaya tidak akan ada negara Yunani, kesenian Yunani, sampai kekaisaran Romawi sakalipun.

Selanjutnya, filsafat Yunani ini memainkan peranan penting dalam perkembangan pemikiran filsafat. Ini akan diketahui lebih jauh dalam studi filsafat Yunani.[]

Jumat, 22 Januari 2010

Menyikapi Perbedaan dalam Perspektif Historis

6 komentar

Perbedaan yang terjadi di zaman Sahabat masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan Islam. Setiap masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah

Oleh: Ahmad Sadzali
[www.hidayatullah.com]

DEWASA ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Salah satunya adalah isu perbedaan yang sekarang ini --bagi sebagian besar kita-- masih belum dapat menyikapinya dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri lagi, banyaknya berbagai golongan dan bahkan aliran yang ada dalam tubuh Islam sekarang ini memicu kontroversi tersendiri di kalangan kita, khususnya umat Islam di Indonesia. Tengok saja perdebatan yang sering terjadi antara sesama Muslim. Satu golongan menyalahkan golongan yang lainnya. Satu kelompok merasa hanya kelompoknya sajalah yang paling benar.

Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencobanya memberikan pencerahan berpikir dalam menanggapi itu semua dari perspektif sejarah.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Perbedaan itu merupakan hal yang lumrah adanya. Karena pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang diberikan Allah kepandaian dan kecerdasan yang baik dalam memahami ajaran agama Islam, namun ada juga yang tidak. Dari kalangan sahabat Rasulullah dulu, ada yang diberikan Allah hafalan yang kuat sehingga dapat menghafal wahyu Al-Quran dan hadist Rasulullah, ada juga yang hafalannya kurang.

Pada masa Rasulullah SAW, perbedaan pun juga sudah terjadi. Namun setiap perbedaan pendapat dan permasalahan umat yang muncul dapat langsung diselesaikan melalui beliau. Pada masa Rasulullah ini sumber utama ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Oleh karena itulah tidak ada masalah internal berarti yang dapat mewarnai kehidupan umat Islam ketika itu. Tentu saja ini salah satu kelebihan bagi umat yang hidup di zaman tersebut, sehingga tidak salah lagi apabila generasi Sahabat tersebut diberi julukan generasi terbaik.

Selanjutnya ketika Rasulullah telah tiada, maka beberapa perbedaan di kalangan umat Islam ketika itu telah bermunculan. Mulai dari masalah pemerintahan, sampai akhirnya berujung kepada aliran keagamaan sendiri dalam Islam. Pada masa Sahabat ini, rujukan umat Islam adalah Al-Quran, Sunnah Nabawiah, ijma', dan ra'yu. Dua rujukan terakhir ini adalah salah satu bentuk untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada di kalangan Sahabat, selain adanya permasalahan yang baru muncul yang tidak dibahas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Namun meskipun demikian, tentu saja yang menjadi rujukan utama dan landasan dari dua rujukan terakhir tetap Al-Quran dan Sunnah Nabawiah.

Dakwah Islamiyah di masa Sahabat ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perluasan wilayah Islamiyah ini adalah salah satu faktor adanya beberapa perbedaan di kalangan Sahabat. Perbedaan adat dan kultur masyarakat dari tempat yang berbeda-beda itulah sebab utamanya. Kultur Arab yang sangat kental pada masyarakat Madinah, berbeda dengan kultur masyarakat Iraq yang ketika itu masih terpengaruh dengan budaya Persia, dan berbeda juga dengan kulturnya masyarakat Mesir dan Syam yang masih menyimpan nilai-nilai budaya Romawi.

Namun perbedaan yang terjadi di antara Sahabat akibat dari faktor tersebut masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan umat Islam. Dan perbedaan yang terjadi ketika itu pun sangat sedikit sekali. Salah satu sebabnya karena para Sahabat masih banyak yang berada di Madinah, khususnya di zaman Khalifah Abu Bakar ra dan Khalifah Umar ibn Khathab ra, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Pada masa Tabi'in, wilayah Islam semakin luas lagi. Tentu saja semakin beragam pula kultur umat Islam yang melatarbelakanginya. Maka wajar ketika masa ini berkembang madrasah yang saling berbeda metode pengambilan hukumnya, khususnya dalam penggunaan ra'yu, yaitu Madrasah Ahlul Hadist di Madinah dan Madrasah Ahlul Ra'yi di Iraq.

Salah satu faktor penyebab berkembangnya Madrasah Ahlul Hadist adalah pengaruh yang diterima Tabi'in dari para Sahabat seperti Zaid ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar. Sedangkan Madrasah Ahlul Ra'yi mendapat pengaruh dari Abdullah ibn Mas'ud yang telah lama bermukim di Kufah sejak zaman Khalifah Umar ibn Khathab ra.

Beranjak ke masa Tabi'at tabi'in, kajian ilmu fikih dan berbagai cabang ilmu lainnya mencapai puncak kegemilangannya. Di mana pada masa inilah banyak ulama Mujtahid bermunculan. Sebagai contoh, munculnya berbagai macam mazhab fikih. Tentu saja perbedaan dalam ijtihad lebih beraneka ragam lagi.

Perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama terdahulu, sebenarnya hanya berkisar pada masalah furu'iyah atau cabang-cabang fikih saja. Itu pun disebabkan metode yang mereka gunakan untuk mengambil hukum fikih tersebut berbeda-beda. Misalnya dalam menentukan suatu hukum yang belum ada dibahas dalam Al-Quran dan Hadist, Imam Malik mengedepankan perbuatan penduduk Madinah, karena menurut beliau segala sesuatu yang berkenaan dengan cara beribadah penduduk Madinah tidak mungkin kalau bukan hasil dari melihat perbuatan Rasulullah yang diturun-temurunkan generasi ke generasi. Berbeda dengan Imam Syafi'i yang lebih mengedepankan Ijma' (kesepakatan para ulama) setelah Al-Quran dan Hadist.

Begitulah sekilas gambaran perjalanan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Intinya agama Islam itu satu, dan tidak ada berbagai macam jenis Islam yang lainnya. Sedangkan perbedaan pendapat dan golongan itu adalah bentuk dari pengembangan pemikiran Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya dalam ranah furu'iyah saja. Jika kemudian perbedaan yang berkembang justru menjurus kepada perbedaan akidah dan tauhid, maka tentu saja dalam hal ini kebenaran atau yang haq itu harus kita kedepankan. Karena batasan dan rambu-rambu yang digambarkan Islam dalam wilayah tauhid dan akidah itu sudah sangat jelas.

Jika ada yang mencoba untuk mengubah rukun Iman dan rukun Islam, maka ini harus kita perangi. Jika ada yang mengatakan Al-Qur'an hanyalah produk budaya, ini pun juga harus kita perangi. Jika ada yang memperbolehkan perkawinan homoseksual, pemikiran seperti ini jelas telah menyimpang dari koridor yang telah ditentukan Islam. Namun cara memeranginya pun juga harus baik. Jika kita diserang dengan pemikiran seperti itu, maka untuk membalasnya tentu saja juga dengan pemikiran juga, bukan malah dengan kekerasan.

Jika hal seperti ini yang terwujud di antara umat Islam di Indonesia sekarang ini, maka serasa indah Islam itu dijalankan. Penilaian-penilaian negatif tentang Islam dan perpecahan, Islam dan kekerasan, hingga Islam dan terorisme, harus segera kita hentikan. Caranya yaitu dengan membangun kembali image Islam yang cinta damai, yang profesional dalam menanggapi segala perbedaan. Image itu akan tumbuh tergantung bagaimana kita menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Wallahua 'lam.[]

Penulis Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo.

Rabu, 13 Januari 2010

Bocoran “Soal” Ujian Nasional

1 komentar

Ujian Nasional bukan merupakan barang baru lagi bagi siswa dan siswi di Indonesia. Meski sempat beberapa kali berubah nama, namun substansinya tetap sama. Yaitu sebagai standarisasi kelulusan siswa se-Indonesia. Karena UN mungkin dianggap satu-satunya jalan terbaik untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Buktinya sampai detik ini UN masih eksis dilaksanakan.

Namun sekian tahun berjalan. Mulai dari saya SD sampai sekarang duduk di bangku kuliah, pendidikan Indonesia tetap gitu-gitu aja. Alih-alih mau memperbaiki pendidikan, malah kenakalan remaja yang mengatasnamakan dirinya pelajar semakin meraja lela. Sampai-sampai Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang lagi dilanda krisis yang sangat memalukan dan mengkhawatirkan melebihi krisis ekonomi global, yaitu krisis akhlak dan moral.

Atas dasar ini, maka sudah sepatutnya kita tanyakan kepada diri kita sebagai pengenyam pendidikan ala Indonesia, benarkah sengan sistim pendidikan seperti ini, kita itu betul-betul dididik? Seberapa banyak pendidikan yang di dapat di lembaga “pendidikan” Indonesia? Dan kalaupun ada, seberapa membekaskah pendidikan itu, hingga kita akan selalu berperilaku baik? Atau jangan-jangan yang terjadi di lembaga “pendidikan” Indonesia itu hanya transformasi informasi saja?

Kembali kepada masalah UN. Akhir-akhir ini banyak kalangan yang menyuarakan sekaligus mempertanyakan kembali efesiensi dan manfaat UN. Karena mengingat hasil yang diperoleh dari UN itu sampai sekarang masih belum mencapai tujuan, yaitu standarisasi pendidikan. Malahan yang ada justru “dikotomi” pendidikan antara sekolah-sekolah di perkotaan dengan sekolah yang terletak di pelosok-pelosok daerah. Bagaimana tidak, dengan fasilitas dan kemampuan tenaga pengajar yang berbeda-beda di tiap sekolah dan daerah, standarisasi kelulusan siswa justru lebih dulu “dipaksakan”.

Pertanyaannya adalah, jelas-jelas hasil yang diperoleh dari UN sungguh sangat tidak memuaskan, lantas mengapa UN tetap dipertanyakan?

Meski hanya sebatas analisa, namun kecendrungan adanya permainan bisnis dan tander besar dari pengadaan UN ini sepertinya bisa menjadi sebab utama untuk menjawab pertanyaan di atas. Contoh kecilnya “bisnis” pensil 2B dan penggaris ujian, jika itu diwajibkan kepada seluruh siswa-siswi se-Indonesia, apakah itu bukan sumber duit? Belum banyaknya dana yang habis untuk kepanitiaan, sosialisasi, pengawasan, dan lain sebagainya.

Coba kita pikirkan dengan akal sehat kita yang sesehat-sehatnya, apakah mungkin dan pantas kelulusan siswa-siswi yang belajar 3 tahun bahkan lebih, hanya ditentukan dengan 5 mata pelajaran? Hanya ditentukan dalam waktu 3 hari ujian? Hanya ditentukan berdasarkan hitam di atas putihnya lembar jawab? Tidakkah penilaian moral lebih penting dari nilai ujian? Tidakkah pendidikan itu lebih diutamakan dari pengajaran?
Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya lembaga “pendidikan” Indonesia dirubah namanya menjadi lembaga pengajaran dan transformasi informasi saja.

Pertanyaan terakhir, apakah sebenarnya memang sudah tidak ada lagi jalan lain yang lebih baik untuk memajukan pendidikan di Indonesia selain dengan cara UN?
Saya rasa jawabannya tentu saja ada. Dan pastinya orang-orang “pintar” di atas sana lebih mengetahuinya. Hanya saja mereka masih belum tergerak untuk melakukan reformasi pendidikan di negara kita tercinta ini. Semoga saja pendidikan kita semakin baik.Wallahu’alam[]

Minggu, 10 Januari 2010

Hermeneutika Tak Bisa Menggantikan Tafsir Al-Quran

0 komentar


Para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) tidak segan-segan memberikan tuduhan yang negatif kepada para ulama Islam

Oleh: Ahmad Sadzali*

Al-Quran adalah sumber dan rujukan utama dalam ajaran-ajaran agama Islam sehingga sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk berpegang teguh kepada Al-Quran. Karena jelas, Al-Quran adalah wahyu yang diturukan oleh Allah melalui perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Namun pada praktek penerapannya, kita sangat membutuhkan sebuah metodologi agar dapat menguraikan maksud dari ayat-ayat Al-Quran. Metodologi tersebut adalah tafsir Al-Quran.

Tafsir berasal dari kata fas-sa-ra. Secara etimologis dapat diartikan ‘keterangan atau penjelasan yang menerangkan maksud dari suatu lafazh’. Seperti yang telah disinggung dalam Al-Quran;

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” [al-Furqaan: 33]

Secara singkat, tafsir dapat didefinisikan sebagai ilmu yang membantu memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan menggunakan metode dan aturan-aturan tertentu.

Menurut Abdurrahman Al-Baghdadi, menafsikan Al-Quran haruslah dengan cara yang sesuai dengan Al-Quran itu sendiri. Yaitu dengan tekstual, dan bukan dengan kontekstual (sesuai dengan situasi dan konsisi). Kemudian kita juga harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dikemukakan oleh Al-Quran, yaitu dengan mempelajarinya secara ijmal (garis besar) sehingga hakikat yang dikemukakan oleh Al-Quran itu tampak jelas. Selain itu juga kita harus mempelajari dari segi lafazh dan maknanya sesuai dengan ketentuan bahasa Arab dan keterangan Rasulullah SAW. Dan untuk memahami ayat-ayat kauniah, kita juga membutuhkan wawasan khusus tentang ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang dari waktu ke waktu.

Karena Al-Quran adalah Risalah Ilahiah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, maka orang tidak akan mungkin dapat memahami semua isinya secara benar kecuali melalui apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam As-Sunnah (Al-Hadits). Seperti yang telah dijelaskan oleh Allah bahwa Al-Quran diturunkan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan ayat-ayatnya kepada manusia, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya;

“…Dan Kami turunkan az-zikr (Al-Quran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan (isi kandungan Al-Quran).” [an-Nahl: 44]

Dengan kata lain orang yang ingin menafsirkan Al-Quran harus menguasai As-Sunnah, yang dalam hal ini adalah memahami sepenuhnya nash (teks) As-Sunnah, memahami setiap ide dan setiap hukum yang terkandung di dalamnya dan mengetahui tujuan yang dimaksud oleh kata-katanya, bukan hanya sekedar hafal susunan kalimatnya.

Tidak hanya sampai di situ. Masih banyak lagi ketentuan-ketentuan lain yang wajib kita ikuti untuk dapat menafsirkan Al-Quran. Seperti mengetahui dan memahami kisah-kisah sejarah di dalam Al-Quran atau berita tentang berbagai umat manusia pada zaman dulu yang bersumber dari Rasulullah. Kemudian kita juga harus mengetahui berbagai ilmu yang mendukung metode tafsir seperti ilmu Tauhid, ilmu Fiqih, ilmu I’rab (gramatika), ilmu Balaghah, ilmu sejarah dan lain sebagainya.

Standar ketentuan semacam itu akhirnya akan melahirkan tafsir Al-Quran yang benar-benar baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Dan produk dari tafsir itu sendiri tidak akan keluar dari koridor-koridor ajaran Islam. Sehingga Al-Quran tetap dapat diterapkan di setiap tempat dan zaman (fi kulli makan wa zaman) tanpa harus mengubah hukum-hukum yang telah qoth’i dalam Al-Quran.

Hermeneutika sebuah tawaran?

Seiring dengan gencarnya arus gerakan orientalis dan musuh-musuh Islam dalam selimut untuk mengguncang tatanan ajaran Islam, maka metode tafsir Al-Quran ini mulai dikritisi dan dicitrakan buruk. Misalkan pencitraan terhadap orang yang tekstuil dalam memahami Al-Quran adalah kolot, tradisionalis, dan statis. Atau dengan mengatakan bahwa penafsiran Al-Quran yang ada ini masih relatif kebenaranya. Sehingga masih memungkin penafsiran-penafsiran yang lebih bebas dari itu.

Seperti yang dikatakan oleh Badarus Syamsi dalam artikelnya di situs islamlib.com. “Jangan berharap bahwa penafsiran dan upaya pemahaman atas Islam akan sempurna betul, karena kesempurnaan adalah suatu hal yang relatif,” tulisnya.

Dengan adanya anggapan semacam itu, pada akhirnya mereka seakan mengajukan suatu metode lain untuk menafsirkan Al-Quran. Metode yang mereka ajukan tersebut adalah metode hermeneutika, suatu metode yang biasanya digunakan untuk menafsirkan Bibel.

“Hermeneutika sebagai sebuah metode interpretasi sangat relevan kita pakai dalam memahami pesan Al-Quran agar subtilitas inttelegendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas ecsplicandi (ketepatan penjabaran) dari pesan Allah bisa ditelusuri secara komprehensif. Maksudnya, pesan Allah yang diturunkan pada teks Al-Quran melalui Nabi Muhammad itu tidak hanya kita pahami secara tekstual, juga bisa kita pahami secara kontekstual dan menyeluruh dengan tidak membatasi diri pada teks dan konteks ketika Al-Quran turun”, tulis Ahmad Fuad Fanani, aktifis Jaringan Islam Libaral [JIL], dalam sebuah artikelnya yang berjudul Metode Hermeneutika Untuk Al-Quran.

Bak gayung bersambut, beberapa Perguruan Tinggi Islam seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, dan sebagainya, kini telah menetapkan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib di Jurusan Tafsir Hasits. Para mahasiswa diarahkan untuk menulis skripsi/tesis dengan menggunakan metode hermeneutika, dan bukan dengan ilmu tafsir klasik.

Sungguh sangat ironis memang, ketika produk ilmu dari khazanah kita sendiri diabaikan dan produk orang lain diagung-agungkan.

Sejatinya, istilah hermeneutika ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang terkenal dengan nama Hermes. Ia bertugas sebagai dewa yang menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani ini, akhirnya hermeneutika berkembang menjadi metodologi penafsiran Bibel, yang selanjutnya dikembangkan lagi oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara umum.

Bibel yang sifatnya sebagai “teks manusiawi” sangat memungkinkan menerima berbagai metode penafsiran hermeneutika, dan menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarah. Ini tentunya sangat berbeda dengan sifat Al-Quran yang otentik dan final, sehingga Islam memang bukan bagian dari dinamika sejarah. Islam telah sempurna dari awal. Dan Islam tidak berubah sejalan dengan perkembangan sejarah.

Jika ketidakcocokan ini dipaksa untuk diterapkan, maka yang terjadi adalah penyelewengan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Jika hermeneutika diterapkan dalam tafsir Al-Quran, maka yang secara otomatis Al-Quran akan ditempatkan sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi), tidak lagi sebagai wahyu suci yang mempunyai kesakralan.

Produk yang dihasilkan dari hermeneutika adalah suatu paham relativisme yang menganggap tidak adanya tafsir yang tetap. Semua tafsir dianggap produk akal manusia yang felatif, kontekstual, temporal, dan personal. Dengan hermeneutika, hukum Islam memang menjadi tidak ada ada yang pasti. Contohnya, hukum tentang perkawinan antaragama. Dalam Islam, jelas muslimah diharamkan menikah dengan laki-laki non-Muslim. Tapi karena hukum ini dipandang bertentangan dengan hak asasi manusia dan tidak sesuai dengan zaman, maka harus diubah. Agama tidak boleh menjadi faktor penghalang bagi perkawinan. Sehingga pada akhirnya hukum perkawinan antaragama menjadi sesuatu yang halal.

Para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang negatif kepada para ulama Islam. Seperti yang terjadi pada kasus kritikan terhadap Imam Syafi’i. Dalam buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh Paramadina, Imam Syafi’i dituduh sebagai orang yang membelenggu pemikiran fiqih sehingga tidak berkembang.

Banyak lagi dampak negatif dari penerapan hermeneutika pada tafsir Al-Quran. Jika metodologi ini dibiarkan begitu saja menjamur di kalangan cendikiawan umat Islam khususnya pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, maka yang terjadi adalah pendekonstruksian ajaran-ajaran Islam secara besar-besaran. Akhirnya lulusan Perguruan Tinggi Islam bukannya menjadi ulama di masyarakat, melainkan malah menjadi orang yang nomor satu mengkritisi khazanah keislaman.

Tentunya kita tidak menginginkan hal seperti itu terjadi. Kita harus berusaha melestarikan dan mengembangkan khazanah keislaman yang sudah dibangun kokoh oleh para pendahulu kita. Namun perlu diingat, melestarikan bukan berarti statis, dan mengembangkan bukan berarti liberal. Semuanya ada batasan dan koridornya. Dan Islam, sangat indah mengaturnya. Wallahu’alam. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Koordinator Kajian SIT (Study of Islamic Thought) Kairo

Selasa, 05 Januari 2010

“I think, therefore I am”

1 komentar

Siapa yang belum pernah dengar kata-kata ini? Tentunya kalimat ini sudah sangat popular sekali di kalangan pemikir dan filosof. Yups, itulah kalimat yang menjadi filsafat hidup Descartes. Dengan itu dia telah menancapkan sebuah revolusi filsafat di Eropa, yang beranggapan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kepastian itu hanya akan didapat melalui pikiran.

Descartes sering dijuluki sebagai "Penemu Filsafat Modern. Salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Pemikirannya telah menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, dan membawa mereka kepada filsafat rasionalitas.

Simak dan perhatikan saja secara mendalam makna yang terkandung dalam kalimat pendek tersebut. “Aku berpikir, maka aku ada”, merupakan sebuah pengagungan yang besar kepada akal dan logika manusia. Seakan logika dapat berkreasi tanpa batas. Tidak ada rambu-rambu yang dapat membatasinya. Sedangkan jika ada yang tidak sesuai dengan logika tersebut, maka itu bisa dikatakan mustahil, tidak rasional, tidak pasti, dan lain sebagainya.

Filsafat semacam inilah yang lantas banyak mempengaruhi Barat dalam kehidupannya. Hingga akhirnya pemikir Barat gagal dalam menemukan konsep Tuhan secara akal. Logika mereka tidak sampai untuk menemukan hakekat Tuhan sesungguhnya. Dan dampak dari itu, akhirnya Barat tidak dapat menemukan tujuan hidup mereka. Kehidupan yang penuh dengan kegemerlapan itu ternyata hanya hampa, karena tidak ada tujuan. Moto hidup mereka menjadi, “hidup untuk dinikmati” saja. Tanpa ada pemikiran apalagi persiapan untuk kehidupan setelah kehidupan ini.

Wallahu'alam!

Senin, 04 Januari 2010

Antara Jiwa dan Raga

0 komentar


Sekilas, jiwa dan raga selalu satu. Paradigma yang ada pun akhirnya juga demikian. Tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raga. Keduanya sama-sama menjadi unsur yang penting bagi manusia. Keduanya sangat dibutuhkan.

Lalu adakah yang lebih penting di antara kedua?

Jawabannya tentu saja ada.

Jiwa merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya, yaitu kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan panca indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Namun meski gerak jiwa itu tidak dapat diamati secara panca indra, namun ia dapat dirasakan. Bahkan jiwa itulah yang sebenarnya menjadi penggerak dan motorik bagi raga.
Jika demikian, jiwa adalah sebuah substansi yang ada dalam diri manusia. Substansi itu kemudian dituangkan menjadi raga. Namun ternyata juga tidak semua raga itu dapat merepresentasikan substansi diri kita. Ada jiwa yang hanya ada dalam jiwa itu sendiri.

Dalam analogi lain, kehidupan kehidupan dunia adalah kongkrit. Sedangkan kehidupan setelah dunia, yaitu akhirat sifatnya masih abstrak. Mana yang lebih penting antara kehidupan dunia dan akherat? Tentu saja akherat lebih penting bukan? Akhirat merupakan substansi dari kehidupan. Karena ia adalah tujuan akhir hidup ini. Maka, jiwa yang memiliki karakteristis yang sama dengan akhirat tentu saja lebih penting daripada raga. Walaupun sebenarnya jiwa itu bukan akhirat itu sendiri.

Cobalah perhatikan orang yang cacat fisik! Apakah dia tidak punya hati, tidak punya cinta, dan rasa? Tentu saja masih punya. Meski ada orang yang tidak diberikan anugrah penglihatan –misalnya- oleh Allah, tetapi Dia tetap memberikan hati atau jiwa. Intinya, semua manusia pasti memiliki jiwa, namun tidak semuanya memiliki raga yang lengkap.

Jadi, jiwa itu lebih penting daripada raga.
Wallahu’alam[]

Kamis, 31 Desember 2009

Sekilas Tentang Pluralisme Agama

0 komentar


Salah satu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah gencarnya arus pluralisme agama. Yaitu, ideologi yang meyakini bahwa semua agama itu sebenarnya adalah sama, semuanya benar, dan ada hakekatnya Tuhan semua agama itu satu. Pluralisme agama ini, terlebih dalam Islam, sangat berbahaya sekali. Karena itulah disebut sebagai tantangan.

Bagaimana pluralisme agama bisa menjadi sebuah bahaya, khususnya bagi Islam?

Sebab ideologi yang secara singkat singkat telah dijelaskan di atas, dapat mengusik tatanan konsep akidah Islam yang sudah final. Dalam Islam, konsep yang paling mendasar adalah konsep Kalimat Syahadah, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka ketika konsep ini dimasuki ide-ide pluralisme, berarti juga mengakui adanya Tuhan selain Allah, yaitu Tuhan-tuhan agama lain. Dan kalau ada keyakinan bahwa semua Tuhan itu sebenarnya sama, namun panggilan Tuhan itu saja yang berbeda-beda, maka sama saja dengan menyamakan Allah dengan Tuhan –buatan- lainnya.

Tentu saja hal ini dilarang keras dalam Islam. Dan pemikiran seperti ini tidak jauh berbeda dengan pemikiran yang dimiliki orang kafir. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Kemudian orang-orang kafir itu menyama-nyamakan (makhluk yang mereka sembah) dengan Tuhan mereka.” Keyakinan dan tindakan sesat inilah yang dikenal sebagai syirik dan tidak aneh jika merupakan dosa yang paling besar. Para pelaku syirik itu akan mengakuinya sendiri di Akhirat nanti, “Demi Allah, kami dulunya betul-betul berada dalam kesesatan yang nyata! (Yaitu) ketika kami menyamakan kalian (yang kami sembah) itu dengan Tuhan seru sekalian alam!” (QS. Asy-Syu’ara': 98)

Namun sayangnya, pemikiran atau ide pluralism ini masih saja ada yang menggandronginya. Lebih parah lagi, mereka itu orang Islam itu sendiri. Terkadang mereka berdalih pluralisme sebagai salah satu bentuk toleransi umat beragama. Padahal antara toleransi dengan pluralisme sangat jauh berbeda, dan tidak ada kaitan satu sama lain.

“Apakah orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan buruk itu mengira bahwa Kami akan jadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal shalih, baik yang hidup maupun yang mati? Alangkah buruk penilaian mereka!” (QS. Al-Jâtsiyah: 21.
Wallahu'alam[]

Senin, 21 Desember 2009

Apakah Ilmu Itu Sugesti?

0 komentar


Manusia sekarang sudah sampai pada peradaban ilmu pengetahuan yang modern. Berbagai macam cabang ilmu pengetahuan dikembangkan, yang tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Tujuannya adalah agar kehidupan manusia lebih hidup dan berarti. Agar segala bentuk kemudahan dalam hidup hadir di depan mata kita. Karena bukan suatu bentuk kemodernan jika tidak ada kemudahan.

Telah terbukti begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Bahkan tanpa ilmu, manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Karena segala sesuatunya untuk hidup di dunia ini harus berlandaskan dengan ilmu. Hal itu telah terlihat sejak pertama kalinya kita menangisi dunia ini.

Manusia akan berani bertindak untuk melakukan sesuatu setelah adanya ilmu tentang sesuatu itu dulu. Dan kalaupun ada yang melakukan percobaan tanpa landasan ilmu terlebih dahulu, maka tujuannya pun tidak lepas untuk ilmu. Bukankan awal dari percobaan itu adalah penasaran, dan penasaran itu bertujuan untuk pengetahuan?
Nah, ketika setiap perbuatan itu atas landasan dan untuk ilmu, maka apakah ilmu itu sebuat sugesti?

Terlepas dari positif maupun negatifnya jawaban atas pertanyaan di atas tadi, yang terpenting kita sendiri sebenarnya dapat menilai hal itu. Jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Kita lah yang dapat membuktikannya. Tidak perlu praktek secara khusus, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita telah membuktikannya.

Jika kita telah mengetahui jawab dari pertanyaan tersebut, lalu adakah kemungkinan kita akan meninggalkan pekerjaan mulia menuntut ilmu? Akankan proses penuntukan ilmu itu akan terhenti secara formal saja? Maka, benarlah adanya perkataan Rasullah SAW, bahwa kita harus menuntut ilmu dari buayan sampai liang lahat. []

Rabu, 16 Desember 2009

Coretan Persahabatan

0 komentar

memang serasa indah
keindahannya mungkin melibihi pesona cleopatra
keindahan itu tidak hanya dirasakan panca indra,
tetapi juga terasa di jiwa

sobat!
tak ada yang lebih berharga dari hanya sekedar harta
selain sahabat
tak ada yang lebih mempesona dari hanya sekedar pantai kuta
selain sahabat
tak ada yang lebih berguna dari hanya sekedar jasa
selain sahabat

sobat!
aku ingin tali ini diikat dengan simpul mati
simpul yang kuat, yang selalu terikat

sobat!
karena kalian lah aku kuat
karena kalian lah aku semangat

aku ingin persahabatan ini selalu ada
untuk selamanya....

cairo, 26 september 2009

Jumat, 11 Desember 2009

Pesona Wanita Shalehah

0 komentar

Seperti indahnya pelangi yang menghiasi sore hari, begitulah mungkin perumpamaan wanita sebagai penghias dunia ini. Dan bahkan lebih penting dan berarti lagi dari hanya sekedar perhiasan. Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini tanpa adanya wanita?

Kata Rhoma Irama dalam lagunya, “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Cinta itu ibarat seorang wanita. Bisa dikatakan wanita adalah sumber inspirasi cinta. Boleh jadi seandainya tidak ada wanita, maka tidak ada cinta. Ya, mungkin begitulah jika para pujangga berbicara tentang korelasi antara cinta dan wanita.

Lantas wanita yang bagaimanakah yang benar-benar bisa menjadikan hidup kita ini indah, yang dapat menghiasi setiap alunan nafas kita, menemani setiap detak jantung kita sehingga berbuah menjadi sebuah tasbih kepada Allah?

Maka jawabanya termaktub dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya:
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim)

Tolak ukur wanita itu bisa dikatakan shalehah atau tidak adalah ketaqwaannya. Dan kadar ketaqwaannya itu menetukan tingkat keshalehah wanita tersebut. Sedangkan ketaqwaan itu sedikit banyaknya dapat dinilai dari seberapa besar ketaatannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah, dan dalam menjauhi segala larangan-Nya.

Banyak poin yang tentunya dapat diamalkan dalam rangka menjadi wanita yang shalehah. Baik poin itu berupa “reques “ dari Al-Qur’an, maupun dari kaum yang menyukai wanita itu sendiri, yaitu kaum Adam.

Ketaatan yang akan membungkusi keshalehan tersebut tertuang dalam poin-poin penting yang perlu diperhatikan oleh wanita. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat….”

Secara prinsip, wanita shalihah adalah wanita yang selalu istiqomah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pesona kemuliaannya bukan dari perhiasan dan aksisoris yang dia gunakan. Sebaliknya, ia selalu menjaga kecantikan dirinya supaya tidak berbuah menjadi fitnah bagi orang lain dan dirinya sendiri. Ini sangat penting dilakukan, karena kecantikan sewaktu-waktu menjadi energi positif, dan bisa juga di waktu yang lain menjadi energi negatif.

Namun ketika ia memiliki keterbatasan fisik, wanita shalehah tidak akan kecewa dan sakit hati terhadap karunia Allah tersebut. Bahkan ia masih dapat bersyukur dengan apa yang ada. Kepribadiannya yang baik yang akan merubah dirinya menjadi lebih indah dan menarik.

Banyak wanita yang dalam kehiudpannya bisa sukses, atau yang sering kita sebut dengan wanita karir. Tapi itu semua tidak akan menjamin keshalihannya. Kita tidak dapat hanya mengukur dari kesuksesan dalam karirnya saja, tanpa mengabaikan kesuksesan-kesuksesan lain seperti kesuksesan dalam mengurus rumah tangga, kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya, dan bahkan kesuksesan dalam menempatkan dirinya sendiri sebagai Muslimah.

Pandangan tentang wanita shalehah ini tentunya bersifat umum. Baik itu ditujukan kepada wanita yang sudah berkeluarga, maupun bagi wanita yang belum berkeluarga.

Bagi remaja Muslimah, untuk menjadi wanita shalehah membutuhkan komitmen yang tinggi. Lingkungan pergaulan menjadi faktor utama yang menunjang. Lingkungan dalam bergaul sangat besar sekali dalam menentukan perkembangan kepribadian remaja. Bahkan bisa dikatakan bahwa remaja adalah produk lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat secara luas.

Keshalehan seorang remaja Muslimah menjadi harga mati dalam kehidupan rumah tangga, jika ia berkeluarga kelak. Karena dia lah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, sebagai contoh, pembentuk suasana keluarga yang harmonis.

Tidak hanya sampai di situ. Wanita shalehah juga merupakan kunci penting dalam menentukan kebaikan dan kemajuan suatu bangsa. Sering sekali kita mendengan istilah, “Di belakang pemimpin yang hebat, ada wanita yang luar biasa”. Bahkan wanita adalah tiang negara. Ya, kenyataanya memang benar demikian. Laki-laki tanpa wanita tidak akan jadi apa-apa. Berapa banyak laki-laki yang mendapatkan motivasi untuk bekerja dan berbuat dari wanita? Berapa banyak para bapak yang selalu bersemangat kerana istrinya yang shalehah? Kita tidak bisa memungkiri itu semua.

Sehingga pada akhirnya kita harus bersyukur atas ciptaan Allah yang paling indah ini. Wanita memang sungguh sangat berharga dan tiada taranya. Pengaruhnya sungguh sangat besar. Pesonanya akan selalu bersinar dalam setiap langkah kaki para lelaki.[]

Rabu, 07 Oktober 2009

Arsitek Islam Klasik (3)

0 komentar









(Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.)

Memaknai Bencana Indonesia

0 komentar

Oleh: Ahmad Sadzali

Pamor Indonesia sebagai negara yang akrab dengan bencana alam sudah tidak diragukan lagi. Betapa tidak, rutinitas bencana terus berjalan dan berkesinambungan layaknya episode dalam sinetron. Tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati ini sekarang telah menjadi sebuah ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, karena ia bisa datang kapan saja dan di mana saja tanpa ada dugaan atau perhitungan sebelumnya. Suasana senang menikmati indahnya bumi Khatulistiwa, bisa saja setiap saat berubah menjadi suasana sedih dan menakutkan ketika melihat banyaknya korban berjatuhan dan rumah serta gedung yang runtuh oleh dahsyatnya getaran bumi.

Bila semua ini telah terjadi, lalu apakah kita hanya bisa diam menerima keadaan?

Tidak. Tentunya kita tidak bisa hanya tinggal diam dengan musibah yang menimpa kita. Paling tidak kita akan menanyakan, "Mengapa semua ini bisa terjadi?". Namun dari pertanyaan yang simpel itulah sebenarnya kita akan tahu apa yang selanjutnya harus kita perbuat? Dan apa yang ke depannya harus kita perbaiki?

Dalam menaggapi bencana atau memaknainya, semua orang tentu memiliki perspektif yang beragam. Ada yang memaknainya sebagai azab dan siksa dunia, ada juga menganggapnya sebagai ujian dan cobaan, ada juga yang menyikapinya sebagai peringatan atau teguran kepada kita semua, dan bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai manfaat dan keuntungan. Itu semua tergantung pada individu masing-masing.

Namun tentunya kita sebagai Muslim dan masyarakat Indonesia yang umumnya beragama Islam, merasa bahwa bencana alam itu adalah sebuah cobaan dan peringatan dari Allah SWT. Kita yakin kalau cobaan ini bisa kita lewati dengan baik, maka kadar keimanan kita akan semakin bertambah.

”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2-3).

Di samping itu kita juga yakin kalau ini adalah peringatan keras dari Allah atas kelalaian kita selama ini. Allah memperingati kita dengan bencana ini agar kita kembali kepada-Nya, jangan seperti orang-orang terdahulu yang telah melakukan kemungkaran terhadap-Nya.

Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).

Bagi mereka yang tertimpa musibah tersebut, maka tidak ada kata lain selain kata sabar. Tanpa kesabaran, maka untuk menerima semua ini sungguhlah berat. Dalam psikologi manusia, kehilangan keluarga, orang-orang tercinta, dan harta benda bukanlah hal yang mudah. Sedih dan beban mental sudah menjadi fitrah manusia, namun kesabaranlah yang akan membuktikan kualitas taqwa.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153).

Saatnya sekarang kita benar-benar melakukan perubahan yang nyata. Dari kemungkaran kepada ketaqwaan, dari kemusyrikan kepada keimanan. Sudah terlalu banyak orang yang berbicara tentang hikmah di balik bencana, sudah terlalu sering tulisan yang mengangkat tema hikmah dari bencana, tapi kalau itu semua hanya seperti angin lalu, maka apalah artinya. Wallahu a'alam. []

Minggu, 04 Oktober 2009

Arsitek Islam Klasik (2)

0 komentar
Sudah saatnya kita bangga sekaligus melestarikan produk budaya dari peradaban kita sendiri.

(Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.)






Kejahilan Pemikiran dan Tantangan Intelektual Islam

0 komentar
Kejahilan Pemirikan adalah soft strategy yang masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam.

Oleh: Ahmad Sadzali

Hidayatullah.com--Lagi-lagi khazanah intelektual Islam diserang. Ini memang bukan kali pertamanya. Dalam sejarahnya, sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh para missionaries lewat gerakan imperialisnya. Mulai dari adopsi peradaban Islam beserta khazanah keilmuannya, sampai kepada misi missionaris yang dilancarkan ke berbagai negara-negara berpenduduk Islam.

Kehadiran missionaris agama di negara-negara Islam adalah suatu gerakan yang komlpeks yang terselubung dalam gerakan-gerakan kebudayaan, bantuan atau aktivitas lainnya. Kegiatan ini bisa berjalan lancar karena mendapat dukungan kaum kapitalis Barat. Dan para sejarawan telah mencatat bahwa gerakan ini dibungkus dalam bentuk kebijakan imperialisme dunia.

Pada mulanya gerakan missionaris ini hanya mengandalkan kekuatan dan tenaga sumber daya manusia. Namun dengan berkembangnya zaman, gerakan ini pun berkembang lebih sistimatis. Meraka membentuk lembaga-lembaga dan berbagai organisasi. Aeten Sezar, seorang penulis Turki telah mengemukakan mengenai hal ini:

“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.”

Sampai sekarang arus missionaris itu sangat masih terasa sekali. Meski sekarang sudah tidak dalam bentuk gerakan imperialis. Sekarang misi-misi itu terus dilancarkan lewat berbagai isme, seperti liberalisme, sekularisme, feminisme, maupun pluralisme. Paham-paham ini gencar disebarkan. Namun yang lebih menyedihkan, paham ini disebarkan melalui para intelektul-intelektul Muslim.

Mengapa hal tersebut sampai terjadi?

Ini adalah salah satu akibat dari adopsi peradaban yang kebablasan. Pada awalnya ini sama seperti yang dilakukan Barat ketika zaman kejayaan ilmu pengetahun Islam dulu. Ketika itu Barat begitu terpesona dengan kemajuan Islam di segala bidang. Dari bidang ilmu pengetahuan, seni dan budaya, perdagangan, sampai kepada arsitektur. Dari pesona yang dipancarkan Islam itu, membuat Barat tertarik untuk mempelajari Islam. Akhirnya banyak orang-orang Barat yang datang ke nagara-negara Islam yang menjadi pusat kejayaan pengetahuan dan budaya waktu itu seperti Baghdad, Cordova dan Kairo untuk mempelajarinya.

Hal ini memang lumrah adanya. Suatu peradaban yang tertinggal belajar kepada peradaban yang sudah maju. Sehingga dapat belajar banyak dari peradaban tersebut. Seperti yang dilakukan Barat dulu terhadap peradaban Islam.

Sekarang Barat telah berubah menjadi peradaban yang pesat. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi telah dikembangkan di sana. Sementara dunia Islam yang ketika zaman khalifah Mansyur, Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun telah mencapai kejayaannya, sedikit demi sedikit luntur. Jatuhnya peradaban Islam tersebut sangat jelas terlihat sejak abad ke-13 sampai sekarang.

Munculnya kembali spirit untuk memajukan peradaban Islam memang patut diacungi jempol. Seperti perahu terbalik, sekarang Barat telah memberi pesona kemajuannya di bidang ilmu pengetahun dan teknologi kepada dunia Islam. Kemajuan pesat Barat ini telah menjadi magnet kuat untuk menarik umat Islam untuk belajar di Barat. Sehingga banyak umat Islam yang pergi ke beberapa negara maju Eropa dan Amerika untuk belajar berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, science, filsafat, dan bahkan belajar Islam.

Namun di tengah adanya gesekan atau bahkan perang peradaban antara Islam dan Barat saat ini, ternyata situasi seperti ini membawa keuntungan besar kepada Barat. Perang peradaban ini telah membangkitkan kembali semangat missionaris Barat untuk menghancurkan Islam. Seakan ini adalah Perang Salib episode modern.

Seorang missionaris Henry Martyn (18 February 1781 - 16 October 1812) mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.”

Umat Islam memang terlalu kuat untuk diserang dengan kekuatan senjata. Karena umat Islam memiliki satu senjata ampuh yang tidak dimiliki umat agama lain, yaitu semangat jihad dan mati syahid. Oleh karena itu stategi yang diterapkan mereka untuk menghancukan Islam tidak lagi dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kekuatan logika dan kata-kata.

Mereka telah masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam. Ini adalah soft strategy yang telah banyak mengecoh umat Islam. Mereka mempelajari Islam untuk menyelewengkan ajaran Islam itu sendiri. Mereka mengembangkan Islamic study di Barat, sehingga menarik intelektual Muslim untuk belajar kepada mereka. Dengan demikian mereka dapat mentransfer paham mereka kepada para intelektul Muslim yang belajar kepada mereka tersebut. Sehingga paham pemikiran mereka dengan cepat mempengaruhi pemikiran Islam.

Mereka sengaja membuat paradigma bahwa peradaban Barat itu telah berjaya dan maju di segala bidangnya. Sementara itu Islam hanyalah peradaban yang ketinggalan zaman. Dengan paradigma tersebut akhirnya umat Islam merasa terpacu untuk meneliti mengapa Islam demikian? Adakah yang salah di dalam Islam? Sehingga akhirnya muncul wacana-wacana untuk memperbaharui Islam. Tapi sayangnya wacana-wacana pembaharuan itu kini menjadi momok bagi umat Islam itu sendiri.

Dasar-dasar Liberalisme

Di Indonesia sendiri, indikasi itu telah muncul sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh yang paling berjasa dalam ide pembaharuan Islam pertama di Indonesia. Melalui majalahnya al-Imam, Djalaluddin menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam Timur Tengah di Indonesia dan Malaysia.

Meskipun sempat redup ketika memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, di tahun 1970-an ide-ide liberal ini kembali dilanjutkan oleh Nurcholish Madjid. Dan tak ketinggal Harun Nasution juga turut membawa wacana pembaharuan Islam ini. Dia bahkan telah merubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah sejak tahun 1975-an. Ide liberalisme ini terus berlanjut sampai kepada berdirinya suatu gerakan terang-terangan Islam liberal pada bulan Maret 2001 yang diusung oleh Ulil Abshar Abdala dan menamakan gerakannya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Arus liberal ini tak kunjung redup. Padahal liberalisme dalam penerapannya sangat berbahaya terhadap umat Islam. Ini adalah senjata pemusnah massal untuk merusak Islam dengan semboyan-semboyannya kebebasan berpikir dan toleransi.

Setalian dengan liberalisme, arus feminisme, sekularisme, dan pluralisme juga sangat terasa derasnya. Beberapa waktu lalu, umat Islam kembali dihebohkan dengan terbitnya buku yang berjudul Faith Without Fear oleh Irshad Manji, seorang Muslimah Kanada yang mendapat label “Feminis Abad 21”. Buku ini telah diterbitkan di beberapa negara seperti Pakistan, Turki, Irak, dan India. Dan sempat dilarang peredarannya.

Di dalam salah satu bab bukunya ini tertulis:

…Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka ‘takutkan atau sesalkan’ selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya ‘keyakinan yang benar’. Aneh, bukan…?

Kalimat-kalimat seperti itu dengan jelasnya tertera untuk melecehkan Al-Qur’an. Bagaimana bisa seorang Muslimah bisa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu aneh? Tapi inilah kenyataannya. Kenyataan Islam itu diserang dari dalam. Melalui intelektual Muslim itu sendiri.

Itu hanya satu contoh dari sekian banyak contoh betapa gencarnya serangan intelektul kepada Islam. Prinsip-prinsip Islam yang telah kokoh, sedikit demi sedikit mulai digoyahkan secara terang-terangan dan kasar. Mushaf Ustmani diserang melalui periwayatannya, melalui penemuan manuskrip lama, dan melalui tafsiran serta kekuatan intelektual. Hermeneutika dimasukkan sebagai metodelogi penafsiran untuk merusak Islam.

Tantangan bagi intelektul Muslim lebih kompleks lagi. Kemusyrikan dan kemungkaran terus merajalela. Syariat Islam mulai dilecehkan. Sedangkan pergaulan bebas sudah dibudayakan. Liberalisme seakan menjadi trend bagi intelektual muda Muslim. Sekularisme sudah menjamur di dalam sistem pemerintahan. Feminisme semakin gencar untuk menyudutkan Islam dalam memandang wanita. Pembaharuan Islam disalahgunakan untuk rekonstruksi tatanan hukum Islam yang sudah qoth’i.

Sebagai penutup, ketika pelak-pelaku ‘kemusyrikan’ dan kemungkaran itu semua berstatus Muslim, pilihannya adalah apakah kita ikut menjadi bagian mereka atau kita ‘melawan’ mereka? Wallahu a’lam.[AS/www.hidayatullah.com]

Arsitek Islam Klasik (1)

0 komentar
Foto-foto ini saya ambil di Masjid Sultan Hasan, Masjid Rifa'i, dan Masjid Ibnu Thulun yang terletak di Syaidah 'Aisyah, Mesir.







Jumat, 02 Oktober 2009

Sisi Lain Kehidupan Mesir

1 komentar
Hiduplah dengan cinta dan jangan sekali-kali mengabaikannya! Karena ia adalah ruh bagi jiwa manusia.

Bagaimanapun kehidupan kita, saling membantu adalah suatu keharusan.

Senyum persaudaraan yang indah.

Yang tua pun berjuang mempertahankan hidup.

Bahkan terlelap dalam bekerja dan membaca Al-Qur'an.

Pentingnya sebuah kebersihan.

Waktu memang sungguh berharga.

Untuk hidup harus tetap semangat!

Minggu, 20 September 2009

Antara Intelektual dan Politik

0 komentar
Oleh: Ahmad Sadzali

SALAH satu hal menarik untuk dibicarakan setelah pesta demokrasi adalah peran ulama atau kiai dalam ranah perpolitikan Indonesia. Banyak ulama yang mencoba terjun ke dalam kancah politik, dengan alasan politik sebagai media untuk dakwah.

Situasi semacam itu ternyata menjadi sorotan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan apakah ulama benar-benar mampu berpolitik? Apakah dengan terjunnya ulama dalam bidang politik dapat mengubah suasana perpolitikan di Indonesia?

Ada pendapat yang menyatakan agar ulama mundur dari dunia politik, karena tugasnya mengajarkan agama, pendidikan dan sosial kepada masyarakat. Politik itu kotor, sedangkan agama itu sakral. Jangan sampai mengotori agama yang sakral tersebut dengan politik.

Pernyataan seperti itulah yang lantas mendorong KH Miftakhul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim angkat bicara. Menurutnya, dalam situs Republika Online, 4 Agustus 2009, pernyataan seperti itu harus diwaspadai oleh umat Islam khususnya warga Nahdiyin. Sebab pernyataan seperti itu sekuler yang terselubung, berusaha mengerdilkan Islam.

Dalam sejarah kejayaan Islam, peran intelektual sangat besar. Khalifah Islam adalah para pemimpin yang selalu dan sangat memerhatikan masalah ilmu pengetahuan dan keintelektualan. Di belakang khalifah adalah deretan orang yang ahli dalam bidang masing-masing. Maka tak ayal kalau khilafah Islamiyah bisa mencapai kejayaan karena keintelektualannya.

Peranan ulama dahulu sebagai inspirator kemerdekaan Indonesia. Di antaranya HOS Cokroaminoto, Dr Wahidin Sudiro Husodo, Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, Ki Hajar Dewantoro, M Natsir dan sejumlah ulama serta intelektual lainnya.

Pendapat yang berusaha untuk memisahkan intelektual dengan politik sebenarnya pendapat yang sekuler. Pendapat yang mengotomi politik itu sendiri. Politik dinilai sebagai sesuatu yang hina, sehingga agama yang sifatnya suci tidak diperbolehkan masuk.

Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah adalah jargon yang banyak membuat ilmuwan atau ulama yang terjun di dunia politik kehilangan arah tujuannya.

Bila hal seperti ini terus terjadi dan berkembang di dalam dunia intelektual, maka akan menjadi momok bagi ulama maupun ilmuwan. Akhirnya mereka akan makin jauh dari dunia politik, sehingga terciptalah sebuah negara yang sekuler. Negara yang asas pemikirannya selalu berlandaskan untung dan rugi, tanpa menghiraukan etika dan moral.

Maka kita perlu mempersandingkan kembali antara intelektual dengan politik, keduanya saling melengkapi. Politik tidak akan terkontrol tanpa adanya kehadiran intelektual. Politik yang busuk adalah politik yang tanpa dilandasi intelektual. Politik dianggap kotor dan kejam karena tidak dikawal dengan intelektual. Jadi kehadiran intelektual dalam dunia politik sangatlah penting. Keduanya tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan.

Sekarang ini Indonesia tengah dilanda krisis politikus yang intelek, sehingga elite politik banyak yang tidak bermoral. Kekuasaan dalam pikirannya hanyalah sebuah alat untuk meraih kenikmatan dunia. Pemilu baginya hanyalah ajang perlombaan antara menang dan kalah.

Maka, tidak bisa disalahkan kalau Indonesia tidak bisa bangkit lagi seperti zaman perjuangan dulu. Tokoh elite politiknya tidak sebobot dengan politikus dulu. Contohnya, Soekarno dan Hatta. Mereka adalah tokoh politik dan juga tokoh intelektual.

Sekarang Indonesia perlu berbenah diri kembali. Indonesia perlu mencetak generasi penerus politikus yang akan memikirkan bangsa dengan politikus yang intelek.

Indonesia memerlukan pemimpin yang bisa memadukan antara intelektual dan politik, sehingga dapat bangkit kembali dari penjajahan dan keterpurukan.

[banjarmasinpost.co.id/edisi 20 Agustus 2009]
 

Undiabolos Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template